My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 81 : Perdebatan


__ADS_3

Siang itu, tak sengaja Naura bertemu dengan lelaki bernama Bara di kantin. Lelaki yang semalaman ia pikirkan dan membuat perasaannya mengambang akibat ucapan menohok dari Kira. Tanpa menoleh Naura segera mengambil nampan yang berisi pesanannya hendak mencari tempat duduk. Namun lelaki itu ternyata mencekalnya.


Karena terlanjur berpapasan dan diajak duduk satu meja, Naura akhirnya pasrah. Ia mulai membuka plastik wrap yang menutup nampan. Kemudian menikmati makanan di hadapannya. Satu suapan masuk ke dalam mulutnya yang ternyata terasa hambar. Entah itu memang hambar atau karena keberadaan Bara di dekatnya. Gadis itu menunjukkan raut datar, tak seperti biasa.


Sementara Bara dengan sikap biasa yang tak tahu tentang perasaan Naura, juga mulai menyantap makanannnya. Sejenak pandangannya tertuju pada wajah gadis di hadapannya itu yang terlihat tidak berselera. Entahlah, susana rasanya juga seperti membeku.


"Apa kau sedang sakit?" Tanya Bara yang berusaha mencairkan suasana.


Naura menoleh dan menatap mata lelaki itu sejenak. Gerakan spontan itu membuat ia merasa keterlaluan dalam bersikap. Buru-buru pandangannya ia alihkan lagi.


"Tidak." Jawab Naura singkat.


"Lalu, kenapa kau terlihat tidak berselera?" Bara memiringkan kepalanya sambil mencoba menyatukan pandangan mereka.


Naura yang merasa tidak tenang ditatap seperti itu, mulai menghembuskan napas.


"Begitukah?" Celetuknya yang mulai menyangkal.


Bara merasa ada yang tidak beres dengan sepupunya. Tidak biasanya ucapan Naura terasa sedingin itu.


"Kau.. berusaha menyembunyikan sesuatu?" Tebak lelaki itu.


Naura hanya merespon dengan senyum tipis lalu menepikan nampannya seraya menutup wrapnya kembali.


"Aku sudah selesai." Ucap Naura kemudian bangkit dari kursinya dan berlalu.


Bara memicingkan matanya menatap kepergian Naura. Gelagat gadis itu sangat aneh sehingga timbul kecurigaan di kepalanya. Bahkan makanan Naura seperti tidak bergerak sedikitpun. Menandakan gadis itu sedang ada something.


"Tidak seperti biasa, Naura bukanlah jenis orang yang suka menyia-nyiakan makanan." Gumam Bara.


...*****...


Menjelang sore, seperti biasa Bara akan menjemput kekasih hatinya lalu pergi menikmati kebersamaan di tempat yang enak. Dan sore itu spot yang mereka pilih jatuh pada jembatan gantung yang terletak di sekitar pusat taman kota. Kira melingkarkan kedua tangannya pada lengan Bara seraya menyandarkan kepalanya pada bahu lelaki itu.


"Apa Kak Bara tahu, Kak Naura akan dijodohkan dengan teman anak Ayahku." Ucap Kira pertama kali.


Bara seketika menatap gadis itu, merasa apa yang baru ia dengar adalah salah.


"Apa katamu?"


Kira mendengus, merasa sedikit kesal pada lelaki itu. "Kak Naura akan dijodohkan." Ulangnya.


"Oh ya? Apa dia menerimanya?"

__ADS_1


"Entahlah, dia tidak mengatakan ingin menerima." Jawab Kira yang langsung saja merendahkan suaranya seolah merasa sedih.


"Lalu apa masalahmu? Bukankah seharusnya kau bahagia kan, kau tak punya saingan lagi."


Kira sontak menegakkan tubuhnya lalu memusatkan pandangan pada lelaki itu.


"Dari yang aku tangkap ketika dia berbicara padaku semalam adalah, dia ingin menolak perjodohan itu dan menyodorkan aku untuk menggantikannya."


"Alasannya?" Tanya Bara dengan kening berkerut.


Lagi-lagi Kira mendengus. "Karena Kak Naura menyukai mu kak."


"Lalu?"


Kira menepuk jidatnya. "Aduh, Kak Bara hari ini begitu menyebalkan."


"Hei ayolah, jelaskan padaku." Bara memelas.


Kira kembali menatap mata Bara lalu mulai bercerita. "Semalam Kak Naura bilang jika dia menyukai mu kak. Itu artinya dia tidak akan menerima perjodohan dan akan menunggu kepastian dari kakak. Dan aku diajukan sebagai ganti kak Naura untuk dijodohkan pada anak teman ayahku."


"Naura, menyukai ku?" Tanya Bara pelan dan diangguki oleh Kira.


"Memangnya kenapa? Apa kakak juga masih menyukai kak Naura?" Kira menebak dengan wajah mengintimidasi.


"Hah, benarkah? Tidak biasanaya." Celetuk Kira.


"Lalu apa lagi yang kau katakan pada Naura?"


"Semalam aku bertanya pada kak Naura bahwa apa Kak Bara juga menyukai dirinya. Tapi dia tak menjawab, dan malah pergi begitu saja." Jelas gadis itu.


Bara tengah bermain dengan pikirannya saat ini. Kesimpulan yang terlintas di kepalanya adalah Naura menunggu ungkapan cinta darinya.


"Apa kau sadar Kira? Kau telah melukai hati kakakmu. Tidak seharusnya kau mematahkan harapannya." Ujar Bara.


Kira melotot tak percaya. "Apa?"


"Kau jahat sekali."


"Menapa kakak berkata seperti itu? Aku hanya mempertahankan hak kepemilikanku pada kak Bara dengan membuat Kak Naura merasa jika kakak tidak pernah menyukainya. Apa salah? Dimana letak kejahatanku?" Ucap Kira ketus.


"Tentu saja salah. Menyakiti hati kakakmu sendiri adalah sebuah kejahatan." Bara menkan setiap kalimatnya.


Hati Kira terasa remuk mendengar pernyataan itu. Kenapa dia lagi yang salah padahal semua itu ia lakukan demi Bara.

__ADS_1


"Ohya? Berarti usahaku tidak ada artinya untuk kakak?"


Sudut mata Kira mulai menggenang dan suara gadis itu pun terdengar bergetar.


"Kau berusaha mempertahankan hubungan kita, it's okay. Tapi tidak perlu melukai hati orang lain, Kira."


"Aku memang selalu salah! Aku heran kenapa kakak terlihat seperti menjaga perasaan Kak Naura ketimbang diriku? Oh atau Kak Bara masih menyukai Kak Naura?" Kira menatap sinis mata Bara dengan air mata yang mulai menetes.


"Cukup Kira! Cukup! Sepertinya kau mulai melantur. Jangan membuatku menjadi seperti apa yang kau pikirkan. Nanti kau sendiri yang akan menyesal."


Kira tersentak dan merasa semakin tak karuan. Benar kan, Bara masih memiliki perasaan pada kakaknya?


"Is that love? Kakak berbohong!" Teriak gadis itu sambil menyeka air mata yang menganak sungai di pipinya.


"Justru karena aku mencintaimu, aku meminta agar kau tidak menyakiti hati orang lain dengan memilikiku." Ucap Bara yang mulai menyentuh pundak gadis itu untuk menenangkan.


Kira menepis tangan itu. "Don't tuch me! Aku tidak mau seperti ini kak. Kau terlalu jahat, kau bukan mencintai ku kan. Kau hanya ingin memanfaatkan ku agar bisa dekat dengan Kak Naura."


"Kenapa kau berpikir begitu, apa aku pernah berkata begitu?" Nampaknya Bara juga mulai terbawa emosi.


"Dengan sikap kakak seperti ini yang lebih menjaga perasaan orang lain itu sudah membuktikannya." Setelah mengucapkan kalimat itu Kira meninggalkan Bara.


Sambil terisak, Kira berusaha menyeka air mata yang masih saja setia membasahi pipinya. Dalam hati gadis itu berkata.


'Kenapa selalu saja aku dianggap salah dan Kak Naura benar? Apa aku memang sejahat itu? Apa salah jika aku mempertahankan hubunganku dengan cara seperti itu? Kenapa semua ini terasa menyakitkan? Atukah aku yang terlalu berharap belas kasih pada Kak Bara?'


.


.


.


.


.


Kesel. Satu kata yang muncul ketika aku nulis part ini untuk karakternya Kira.


Buat Reader, coba kasih satu kata buat Kira...


***Bersambung.....


jangan lupa like+komen๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰***

__ADS_1


__ADS_2