
Setelah beberapa menit mengemudi, Ran memarkirkan taftnya di basement sebuah apartemen berlantai 17. Lalu segera saja ia turun dan membukakan Zara pintu mobil. Gadis itu menatap Ran dengan raut kebingungan.
"Sedang di mana kita?" tanya Zara.
"Nanti juga kau akan tahu." Jawab Ran sembari menggandeng tangan Zara.
Ran melangkah diikuti Zara menuju ke lantai paling atas dari gedung apartemen tersebut. Lalu tibalah mereka di sebuah pintu bernomor 7002. Zara semakin kebingungan. Ketika mereka telah beralih masuk ke dalam unit apartemen tersebut barulah Ran menjelaskan semuanya.
"Zara, ini apartemenku. Dulu ketika aku pindah dari Jepang ke sini, aku sebenarnya sudah tinggal di apartemen ini." Ucap Ran ketika mereka telah duduk di sofa.
Zara membebaskan pandangannya ke segala penjuru apartemen yang tergolong mewah tersebut. Tempat itu terasa menarik dan sangat nyaman bahkan ketika beru pertama kali masuk.
"Oh begitu. Lalu mengapa Kakak memilih untuk tinggal di rumahku?" tanya Zara sambil menatap mata lelaki itu.
"Ayahmu menyurhku melakukannya." Jawab Ran.
"Apa kau dan Ayah begitu dekat?" Tanya Zara lagi karena merasa harus menanyakannya.
"Yap." Jawab Ran singkat.
"Apa yang membuatmu menyetujui permintaan ayah?" tanya Zara lagi.
__ADS_1
Ran berpikir sejenak, "Mungkin karena rasa hormatku padanya. Mengingat ayahmu telah membantu ayahku membangun usaha di Shibuya, tempatku tinggal."
Zara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bangkit lalu menyusuri apartemen tersebut, Ran mengikuti. Apartemen itu terbilang lengkap, terdapat ruang tamu yang lumayan luas, ruang keluarga, dapur, kamar tamu, ruang privasi dan kamar utama. Zara memasuki semua ruangan itu satu persatu.
Ruangan yang paling berkesan baginya adalah ruang privasi. Di sana terdapat sebuah meja kayu berukuran sedang berwarna hitam pekat beserta kursinya, dimana terdapat rak buku di belakangnya. Di sisi lain ruangan tersebut juga memiliki ranjang berukuran sedang, dengan warna seprei dan selimut putih keseluruhan.
"Indah sekali.. Bisakah ini menjadi tempatku sementara?" Zara menatap Ran yang sedang berdiri di belakangnya.
Ran tersenyum. "Apa kau suka?"
"Yah, aku sangat menyukainya."
"Kalau begitu, mulai sekarang ruangan ini milikmu."
"Baiklah. Kau beristirahatlah dulu, aku akan mandi di kamar ku." ucap Ran setelah Zara melepaskan pelukannya.
"Hmm." balas Zara dengan sedikit mengangguk.
Ran pun berlalu menuju meninggalkan gadis itu. Sementara Zara beralih menutup pelan pintu ruangan yang baru saja menjadi miliknya. Dengan hati bahagia, ia berjalan menghampiri meja lalu duduk di kursi. Gadis itu mengabsen setiap benda yang tersimpan di meja hitam itu. Ada beberapa jenis sticknote serta kumpulan pena dalam satu tempat. Tak lama setelahnya, ia bangkit lalu kemudian menatap satu persatu buku yang terpajang. Ada begitu banyak eksemplar buku yang terpajang dan semuanya rapi tak berdebu.
"Wah, banyak sekali. Apa dia kutu buku?" Zara menggeleng kagum.
__ADS_1
Kemudian kakinya beranjak ke ranjang, di sana ia membaringkan tubuhnya. Seketika gadis itu merasakan kenyamanan, lalu akhirnya terbuai. Dalam waktu sekejap matanya tertup dan akhirnya gadis itu tertidur karena terbuai kenyamanan ranjang tersebut.
...
Ran telah selesai membersihkan diri dan memutuskan untuk pergi ke ruangan yang sekarang menjadi milik Zara. Begitu membuka pintu, lelaki itu langsung dibuat terperangah. Dengan ragu, ia melangkah mendekati ranjang yang menampakkan sosok Zara sedang tertidur pulas.
"Ya ampun anak ini. Bahkan tidurnya pun begitu menggoda. Sampai kapan aku harus menahan hasratku ini?" Celetuk Ran seorang diri. "Jika terus diperhatikan, Zara sangatlah cantik. Jujur saja, aku sangat menyukai gadis ini." Lanjutnya yang saat itu mulai duduk di tepi ranjang.
Tak lama, ia pun mengelus kepala Zara dengan lembutnya kemudian menciumnya sekilas. Ada hasrat yang tiba-tiba timbul ketika bibirnya bersentuhan dengan kening gadis itu, dan akhirnya ia menjauh agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Jantungku berdebar dengan lantang. Aku harus segera menjauh darinya, jika tidak bisa saja aku menyerangnnya." Ran perlahan mundur dan mencoba menahan dirinya, namun entah mengapa ia merasa seperti ada sebuah dorongan di hatinya. Ada sebuah bisikan yang mengarahkannya untuk berbaring di samping gadis itu, tanpa bisa ditepis.
Perlahan Ran kembali melangkah ke arah Zara. Ia duduk di tepi ranjang terlebih dahulu lalu kemudian ia memosisikan dirinya berbaring tepat di samping gadis itu. Baru saja akan mengelus wajah indah itu sialnya, Zara terbangun lalu berbalik. Pandangan mereka bertemu, Zara membulatakan matanya yang masih mengantuk.
"Ka.. Kakak..?" Ucap Zara.
Ran seketika salah tingkah, ia tak tahu lagi harus berbuat apa sebeb dirinya telah tertangkap basah oleh gadis itu. 'Sial,' ucapnya dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
bersambung....