My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 64 : H - 1


__ADS_3

Tahira duduk di sebelah Zara dan memeluk gadis itu. Saga menatap mata Tahira memberi isyarat untuk membawa Zara masuk ke dalam kamar. Perlahan Tahira membopong tubuh Zara yang masih terisak menuju kamar, setelah sampai Tahira menyuruh gadis itu untuk beristirahat. Zara menganggukkan kepala lalu segera membaringkan tububnya di ranjang milik Tahira dan akhirnya Tahira berlalu meninggalkan Zara.


"Apa yang terjadi pada Zan? Mengapa dia menangis?" tanya Tahira yang sudah duduk di sebelah Saga.


Dengan posisi menyender di sandaran sofa, Saga menatap Tahira dengan malas. "Sepertinya Ran marah pada Zara karena telah bertemu dengan Raka."


Tahira sedikit bingung dengan ucapan Saga. "Maksudmu?"


Saga melipat kedua tangannya di dada lalu memejamkan matanya. "Ran marah karena Zara tidak mendengarkan ucapannya. Ran melarang Zara bertemu dengan makhluk copy an mu itu, tapi Zara membangkang." suara malas Saga terdengar dengan jelas.


"Oooh, jadi Zara menangis kerena Ran marah? Dan sebab Ran marah adalah Raka? Oohh sepertinya aku harus memperingatkan Raka akan hal ini. Mana ponsel ku?" ucap Tahira sembari menoleh ke sana kemari mencari ponselnya.


Sebelum Tahira mememukan ponselnya, dering dari ponsel Saga terdengar. Tanpa mengubah posisi Saga merogoh saku celananya, dan juga lelaki itu tak berniat membuka mata untuk sekedar melihat nama pemanggil. Tahira menoleh setelah Saga mengangkat panggilan.


"Mm?" gumam Saga.


"Apa Zara sudah bersamamu?"


"Iya Ran." jawab Saga. Ternyata panggilan dilakukan oleh Ran.


"Besok Surya akan membawakan gaun pengantin Zara, jangan lupa besok juga Zara harus ke salon untuk perawatan pengantin. Pastikan dia tak pergi kemana-mana. Mengerti?"


"Iya aku mengerti." jawab Saga. "Tapi kenapa bukan kau yang datang menjemputnya? Apa kau yakin kami akan mengantarnya ke hotel dari sini?" lanjutnya.


"Jalankan saja perintahku."


"Apa kau marah padanya hah?" desis Saga. Emosinya mulai terpancing, entah mengapa hari ini moodnya sedang buruk.


"Tidak. Aku hanya ingin memberinya hukuman. Biarkan dia memikirkan perbuatannya, dan jangan beritahu jika aku menelfonmu juga jangan beritahu aku sedang dimana."


"Ck, kau ini. Apa hanya karena Raka kau melakukan ini semua? Kau tahu, Zara sedang menangis, dia telah menyesali perbuatannya. Lagi pula aku lihat tadi mereka tak berbuat macam-macam." Saga memperbaiki posisi duduknya. Nadanya sekarang telah berubah serius.


"Aku hanya ingin membuatnya sadar bahwa perbuatannya itu salah. Dan lagi pernikahan ini tetap berlanjut, tak ada masalah bukan?"


"Terserah kau saja. Aku akan menjaganya disini, kau jaga dirimu baik-baik." Saga akhirnya pasrah lalu menutup panggilan.

__ADS_1


...****...


Keesokan harinya Tahira dan Zara telah berada di salon, sekarang Zara sedang melakukan proses uap pada kewanitaannya. Sementara Tahira menunggunya dengan setia. Tiga jam berlalu serangkaian perawatan pengantin telah selesai, dan akhirnya mereka pulang kembali ke apartemen. Saga menjemput kedua gadis itu.


"Saga, kemana Kak Ran? Mengapa bukan dia yang mengantarkan aku ke salon?" tanya Zara dengan raut wajah sedihnya.


Mereka sekarang sedang berada di dalam mobil hendak menuju ke apartemen Saga. Namun terlihat jalanan begitu macet.


"Aku tidak tahu Ran ada dimana, yang jelas dia menyuruhku mengantarmu dan mempersiapkan segala kebutuhanmu untuk pernikahan kalian besok." jawab Saga.


"Tapi pernikahannya tidak batal kan?" Zara memastikan dengan raut wajah cemas.


Melihat itu Tahira merasa kasihan pada Zara, tapi menurut cerita Saga mengenai kejadian kemarin memang Zara lah yang salah karena tak mendengar ucapan Ran.


"Kau ini, kalau pernikahannya batal gaunmu tidak akan berada di apartemenku pagi tadi dan juga kau tidak akan ke salon hari ini. Mana mungkin Ran akan membatalkan pernikahan." jelas Saga.


"Tapi kenapa Kak Ran tidak mengangkat panggilan dariku?"


"Coba kau pikirkan lagi, kenapa Ran melakukan hal itu." jawab Saga dingin.


Zara menatap jalan yang dipadati kendaraan, sungguh hari ini begitu terik dan macet. Mereka terjebak macet dan sama sekali tak bisa bergerak.


"Hei, ini ada apa yah? Kenapa macet sekali?" ucap Saga.


"Mungkin ada acara besar, oh iya hotel Emperor hari ini merayakan hari jadi mereka. Mungkin itu yang membuat jalanan macet." balas Tahira yang sedang memainkan ponselnya.


"Astaga. Gerah sekali rasanya. Zara, apa kau baik-baik saja?" Saga menoleh ke belakang diamana Zara duduk.


Saga terkejut, ternyata gadis itu telah tertidur. Kembali ia mengahadapkan kepalanya ke depan lalu sekilas melirik ke arah Tahira. Melihat keadaan membuat Saga merasa sedikit leluasa, Zara tertidur dan sekarang sedang macet parah. Pandangannya langsung tertuju pada bibir ranum Tahira yang sedang tersenyum. Saga mengulas senyum kejahilan.


"Sayang." panggil Saga.


Tahira yang tak menyadari maksud dari panggilan 'Sayang' dari Saga spontan menoleh dengan masih tersenyum.


Tanpa aba-aba Saga segera mendekatkan tubuhnya pada Tahira dan menarik tengkuknya lalu menyambar bibir hadis itu. Tahira membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Mmmm." berontaknya, ia berusaha mendorong wajah Saga. Ketika hendak mendorong wajah Saga tiba-tiba ponsel Tahira terjatuh di bawah kakinya. "Mmmmmm." kembali Tahira memberontak.


Namun Saga sama sekali tidak menghiraukan Tahira yang berontak, ia malah semakin memperdalam ciumannya. Tahira melirik ke arah kakinya hendak mengambil ponsel yang tergeletak kemudian tangannya berusaha menggapai ponsel tersebut tanpa menghiraukan ciuman Saga, percuma ia berontak. Akhinrya tubuh Tahira tersandar di pintu mobil dengan Saga yang sudah duduk di pangkuannya. Tahira berusaha menggapai ponselnya tersebut dengan posisi intim yang tercipta akibat kebuasan Saga. Namun nihil, Tahira tak sanggup meraih ponselnya yang telah tergeletak.


Detik berikutnya Tahira baru sadar ternyata Saga telah meremas bagian dadanya. Dengan cepat Tahira mendorong tubuh kekar Saga.


"Kakak, kau ini apa-apaan sih?" bentak Tahira.


Saga terengah-engah, dan berusaha menetralkan nafasnya. "Aku sedang ingin." ucap Saga santai.


"Tapi tidak di jalan juga. Disini ada Zan, kau tidak malu dilihat olehnya?" ketus Tahira. Saga memandangnya dengan tatapan sayu khas orang yang sedang berhasrat.


Saga menoleh ke arah dimana Zara tertidur, spontan Tahira mengikuti arah pandang Saga melalui cela sandaran kursinya. Tahira membulatkan mata.


'Pantas Kak Saga berani melakukan hal ini, astaga aku tidak menyadarinya.' Tahira memandang jalanan yang masih saja macet, bahkan kendaraan tak bergerak sedikipun. 'Dan jalanan masih saja macet, ya Tuhan harus kah aku habis dimakan monster rubah disini?' guamamnya.


"Heeeee, kakak Kau tidak berniat menghabisiku disini kan? Kita akan terlihat dari luar." Tahira tersenyum semanis mungkin sebagai tanda permohonan agar Saga menghentikan aksinya.


"Siapa bilang kita terlihat dari luar?" Saga tersenyum licik penuh kemenangan.


Jantung Tahira berdebar tak karuan, habislah ia. Jika Saga sudah berhasrat seperti itu maka tak bisa lagi ia menghindar apalagi dengan posisi mereka saat ini.


"You are mine, baby." ucap Saga lalu dengan cepat melanjutkan kembali aktivitasnya.


...*****...


Dua jam berlalu mobil Saga telah terbebas dari kemacetan. Dan sekarang mereka telah tiba di parkiran bawah tanah gedung apartemen Saga. Zara telah terbangun dari tidur pulasnya tadi. Sungguh Zara benar-benar tertidur pulas ketika Saga dan Tahira sedang melakukan permainan panas. Dan sekarang malah Tahira yang tertidur akibat kelelahan yang disebabkan oleh perbuatan bejat Saga. Saga tersenyum melihat mangsanya telah tertidur, ia merasa begitu puas.


"Kau bisa jalan sendiri kan?" tanya Saga pada Zara.


Zara yang ditanya seperti itu merasa bingung. "Iya, memangnya kenapa?"


"Aku harus menggendong Sang Ratu untuk naik ke apartemen, kau bisa berjalan sendiri kan?"


"Tentu saja."

__ADS_1


Mereka akhirnya melangkah menuju apartemen yang berada di lantai 9. Saga menggendong Tahira hingga ke apartemennya, tak peduli dengan orang-orang sekitar yang memperhatikan mereka. Saga berjalan dengan santainya tanpa ada rasa berdosa telah membuat Tahira seperti itu.


__ADS_2