My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 47 : Hanya Ran Seorang


__ADS_3

"Zara, jika kau tidak keberatan mampirlah ke rumahku setelah acara reuni ini selesai. Mama menyuruhku mengajakmu makan malam, mau yah." ucap Raka setelah mereka beranjak dari sudut ruangan tadi.


"Mmm bagaimana yah, aku harus berkemas malam ini. Karena besok aku akan pergi ke rumah bibi ku di desa." Zara menunjukkan raut penolakan.


"Ayolah, sebenatar saja. Mama hanya mau melihatmu karena.. Karena.." Raka terlihat ragu melanjutkan ucapannya.


"Karena apa?" Zara mengernyit.


"Berjanjilah jangan berubah saat aku mengatakan ini, ok?"


Zara merasa bingung dengan ucapan Raka, namun demi menghilangkan rasa penasarannya maka ia mengagguk.


"Aku pernah berjanji pada Mama akan membawamu ke rumah, setelah kasus kita waktu itu aku banyak bercerita tentangmu pada Mama. Kau tahu, Mama menasihatiku." ucap Raka.


"Oh ya? Apa kata Mamamu?" bukannya marah karena Raka berkata seperti itu kepada Mamanya, Zara malah semakin penasaran.


Kemudian Raka menceritakan kejadian tujuh bulan yang lalu setelah kasus pelecehannya kepada Zara yang mengakibatkan dirinya harus diskors selama dua pekan dari sekolah.


Flash Back On


"Mama sangat kecewa sama kamu Raka." ucap Mama Raka dengan raut wajah dingin.


"Raka minta maaf Ma." ucap Raka berlutut di depan Mamanya.


"Bisakah kamu bayangkan jika saudaramu yang mengalami hal itu hah?" ucap Mama yang terdengar ambigu di telinga Raka.


"Maksud Mama?" Raka mengernyit.


"Bangun! Duduk sini dekat Mama."


Raka bangkit lalu duduk di sebelah Mamanya dengan wajah bersalah.


"Sebenarnya Kamu itu punya saudara kembar, dia perempuan. Dan coba kamu bayangkan jika saudara perempuan kamu dilecehkan seperti kamu melecehkan anak orang, bagaimana perasaan kamu?" suara Mama melembut membuat Raka sedikit tertegun.


"Apa Ma? Saudara kembar?" tanya Raka.


"Jawab pertanyaan Mama, jangan fokus pada saudara kembarmu dulu."


Raka menunduk.


"Baigamana?" tanya mama lagi.


"Sakit Mah." jawab Raka pelan.


"Nah kan kamu sadar. Sekarang, apa yang akan kamu lakukan jika sudah seperti itu?"


"Aku akan menghajar lelaki yang melecehkan saudaraku." jawab Raka yakin.


"Sadar kan kamu sekarang, lalu kenapa kamu lecehkan anak orang?"


"Sekali lagi Mah, Raka minta maaf." ucap Raka benar-benar merasa bersalah.


"Jangan minta maaf hanya pada Mama, kamu juga harus minta maaf pada gadis itu."


"Namanya Zara mah, dan.. Aku menyukainya."


"Kalau kamu menyukainya, kenapa harus dirusak?"


Ucapan Mamanya membuat Raka tersadar untuk kesekian kalinya. Mulai hari itu, Raka berjanji pada dirinya akan meninggalkan sifat buruk yang telah mendarah daging padanya.

__ADS_1


Flash Back Off


"Kau punya saudara kembar?" tanya Zara ketika Raka telah selesai bercerita.


"Begitulah kata Mama, aku juga baru tahu saat itu." jawab Raka santai, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Lalu dimana dia?" tanya Zara.


"Dia sekarang berada di desa, dan besok aku akan pergi dan mencari keluarga yang mengasuhnya di desa." jawab Raka.


Zara mengangguk pelan.


"Oh iya, aku kira kau juga akan pergi ke desa bibimu, dimana letak desanya?" iseng Raka bertanya pada Zara.


"Desa X." jawab Zara singkat.


"Benarkah? Wah, kalau begitu kau bisa pergi bersamaku besok. Tujuan kita sama." ucap Raka antusias.


"Tidak usah, nanti merepotkan." tolak Zara.


"Tidak masalah, ayolah. Mengapa kau selalu menolak ku hah?" Raka sedikit kesal.


"Aku tidak bermaksud menolakmu Raka, tapi aku hanya takut merepotkanmu itu saja."


"Tidak! Pokoknya kau harus ikut denganku titik." ucap Raka telak yang membuat Zara bungkam.


Setelah acara reuni selesai, Raka mengantar Zara pulang ke apartemen agar besok lelaki itu bisa menjemput Zara saat akan berangkat menuju desa. Akabir dan Faykah telah menghilang dari hadapan mereka sejak Raka mengusirnya, entah kemana.


"Jam 7 pagi tunggu aku disini yah." ucap Raka setelah mereka sampai di depan gedung apartemen yang di tinggali Zara.


"Hmm, sebelumnya terima kasih." jawab Zara lalu menutup pintu mobil Raka.


...*****...


Di tengah perjalanan Mama Raka mengajak mereka berbicara tentang banyak hal, walaupun Zara hanya membalas seadanya. Hingga keesokan harinya mereka pun sampai di perbatasan desa. Zara memilih untuk turun disana karena ia lupa arah jalan ke rumah bibinya. Setelah turun dan menepi di depan motel akhirnya Zara menghubungi Ran.


"Kakak, aku sudah berada di perbatasan dan sekarang aku duduk di depan motel dekat perbatasan." ucap Zara.


"Baiklah, tunggu aku." jawab Ran.


Ada sekitar 45 menit Zara menunggu kedatangan Ran dan akhirnya mobil berwarna kelabu berhenti tepat di pinggiran jalan depan motel. Ran turun lalu menghampiri Zara yang sedang menyandarkan kepalanya di tembok dengan mata tertutup. Gadis itu terlihat kelelahan. Ran mengangkat barang-barang milik Zara sekaligus dengan orangnya. Ketika merasa tubuhnya diangkat, Zara membuka matanya lalu kebingungan melihat Ran.


"Kakak, sejak kapan kakak datang? Kenapa tidak mengabariku?" tanya Zara.


"Kau tertidur." jawab Ran sambil tersenyum.


Mereka pun akhirnya sampai di mobil dan segera saja Ran melajukannya.


"Kenapa kau tidak menunggu di terminal?" tanya Ran yang mangkalim bahwa Zara datang menggunakan bus.


"Hmm, aku tidak naik bus kak." jawabnya lemas.


"Lalu naik apa?" Ran mengernyit.


"Aku diberi tumpangan oleh keluarga Raka." jawab Zara.


"Raka? Bukankah dia lelaki yang melecehkanmu dulu?"


"Ya. Benar, dia orangnya."

__ADS_1


"Kenapa bisa pergi bersamanya?" Ran menampakkan raut wajah masam.


Zara menceritakan kejadian dua hari yang lalu pada Ran sedetil-detilnya agar Ran percaya dan juga demi mengisi waktu perjalanan. Walaupun sangat lelah Zara tetap menceritakan semuanya.


"Tapi kau tidak menyukai Raka kan?" pertanyaan aneh keluar dari bibir Ran.


"Maksudmu?"


"Yah kau tadi bilang kan kalau Raka itu meminta mu untuk menjadi kekasihnya lalu kau menolak, karena alasanya kau sudah memiliki kekasih. Tapi, kau benar-benar tidak suka padanya kan?"


"Tentu saja tidak. Apa aku pernah menyukai orang lain selainmu kak?"


"Aku tidak tahu karena kau tak pernah bilang." jawab Ran yang kini terlihat jutek.


Zara paham jika Ran sangat cemburu mendengar Zara dekat dengan lelaki lain, entah sejak kapan Ran memelihara sifat cemburunya itu.


"Baiklah, untu menguatkan ucapanku barusan aku ingin meyakinkanmu. Kau, Kak Ran. Amakusa Ran, sepupuku sendiri, Aku Zanzara Putri Albar mencintaimu sepenuh hatiku." ucap Zara meyakinkan Ran.


Entah ekspresi apa yang tergambar dari wajah lelaki bermata sipit itu, ia seketika mematung seperti batu. Zara hanya menghembuskan nafas.


"Apa kakak tidak percaya padaku?" tanya Zara setelah beberapa detik hening.


"Aku bukannya tidak percaya, hanya saja aku bingung bagaimana cara membalas ucapanmu. Apakah aku juga harus mengucapkan hal yang sama atau bagaimana?"


"Dengan kakak menjagaku saja dan terus berada disisiku, itu sudah membuatku merasa dicintai jadi kakak tidak perlu berbuat apapun lagi."


Ran menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi dengan pepohonan rindang di sekitarnya. Kemudian menatap mata Zara dalam.


"Loh, kenapa berhenti?" tanya Zara heran.


Ran tak menjawab pertanyaan Zara. Ia hanya menatap gadis itu lalu perlahan merangkul tubuh Zara.


"Biarakan aku melakukan apa yang ingin kulakukan seperti yang kau katakan malam itu." bisik Ran.


"Maksudmu?"


Lagi-lagi Ran tak menjawab, ia melepaskan tautan tubuh mereka lalu menangkup wajah Zara dengan kedua tangannya. Perlahan ia mendaratkan bibirnya. Merasa belum siap Zara justru memundurkan tubuhnya hingga ia tersandar di pintu mobil.


"Kakak, kau mau apa?" tanya Zara yang berusaha menghentikan gerakan Ran.


Tak ingin berhenti di posisi seperti itu, Ran menyebrang ke kursi Zara lalu mengunci pergerakan gadis itu. Zara mengernyit.


"Tidak bisakah kau bersabar hingga kita sampai di rumah bibi?" keluh Zara.


"Tidak. Disana sangat ramai, dan kita pasti tidak akan bisa melakukan hal ini. Maka dari itu biarkan aku." balas Ran.


Mendengar itu membuat Zara mau tidak mau harus menuruti permintaan Ran. Akhirnya gadis itu menutup mata sembari mengangguk pelan lalu tak lama berselang ia meraskan bibir Ran yang baru saja mendarat di bibirnya. Hangat. Tangannya refleks merangkul tubuh Ran dan menggenggam kuat jaket yang dikenakan lelaki itu. Ran memperdalam ciuman mereka hingga membuat Zara merasa semakin nyaman dan menikmatinya. Mereka saling menghisap dan mengec*p dengan lembut. Ciuman kali ini adalah yang terpanjang selama mereka menjalin hubungan.


'Tak ada yang bisa membuatku jatuh cinta sedalam ini, sampai aku tak bisa menolak apapun darinya. Kecuali Kak Ran, hanya Amakusa Ran satu-satunya.' ucap Zara dalam hati.


Setelah beberapa jam berlalu akhirnya mereka sampai di depan rumah bibi Yumna. Disana terlihat begitu ramai, sepertinya semua keluarga telah hadir. Tampak dari arah pintu Saga dan Tahira berdiri melihat ke arah mereka sambil melambai. Kemudian Zara teringat sesuatu.


"Apa mereka masih menjalin hubungan?" tanya Zara, mereka belum juga turun dari mobil.


"Ya. Saga tetap pada pendiriannya. Lupakan saja, mereka punya pilihan dan mereka telah memilih arah hidup mereka."


"Tapi bukankah itu artinya kita mendukung mereka yah?"


"Tidak Zara, kita tidak mendukung mereka. Tugas kita hanya memberitahu, sisanya kita serahkan pada mereka dan tugas kita sudah selesai. Ayo turun."

__ADS_1


Akhirnya mereka pun keluar dari mobil dan menghampiri anak tuan rumah yang sedang menunggu mereka.


"Akhirnya kau datang juga." ucap Saga dan Tahira bersamaan.


__ADS_2