
Aizuko dan Faykah memberi ucapan selamat pada Bryan dan Aura. Tak lupa mereka mengambil foto bersama sebagai kenangan, mengingat Bryan dan Aizuko adalah teman baik. Setelah berfoto Faykah sedikit bercerita kepada Aura bahwa dirinya adalah sahabat lama Zara.
"Benarkah? Wah, kebetulan sekali." balas Aura dengan senyuman anggun.
"Haha, apa anak itu masih bersikap seperti anak-anak?" tanya Faykah bercanda.
"Kau ini bisa saja, haha. Semenjak kami di Universitas aku tak pernah melihatnya seperti anak-anak, bahkan dia terlihat lebih dewasa dibanding aku dan Satria." jawab Aura.
Mereka terlihat cepat sekali beradaptasi, entah karena apa. Mereka banyak berbincang ringan begitu pula dengan Bryan dan Aizuko.
"Benarkah? Apa kau tahu, dulu ketika di SMA dia selalu saja marah-marah tak jelas jika ada yang mengusiknya. Aku juga ingat, dia pernah ke sekolah sambil menggerutu tak jelas. Setelah kutanyakan penyebabnya, kau tahu dia bilang apa? (Sejenak Faykah menjeda ucapannya, lalu Aura mengangguk) Dia tak suka pada sepupunya yang cuek dan suka marah-marah, hahaha."
"Hahaha, ternyata Zara sekekanak-kanakan itu yah. Wah, aku seperti tak percaya. Tapi sejujurnya dia sangat baik dan loyal. Aku menyukainya sebagai sahabat, dan setahuku dia juga berpacaran dengan sepupunya itu. Mmm, siapa namanya? Ran yah, iya Ran. Benarkan?" Aura memastikan.
Faykah tercengang. Pacaran? Setahu Faykah bahkan Zara tak suka pada sepupunya tersebut, bagaimana mungkin mereka berpacaran? Tapi memang sih, ia pernah melihat Zara dijemput oleh Ran di hari terakhir mereka sekolah.
"Mm, sepertinya aku belum tahu. Memangnya sejak kapan mereka pacaran, ahaha?" Faykah berusaha tenang dari ketercengangannya.
"Aku juga tidak tahu pasti. Tapi aku dengar dari Satria bahwa Zara memiliki kekasih dan dia adalah sepupu Zara. Aku juga tahu namanya dari Satria." jelas Aura.
"Hmm seperti itu." Faykah mengangguk pelan.
Benar-benar diluar dugaan Faykah, ternyata Zara menyimpan rahasia besar darinya. Tapi ia juga sadar posisinya sekarang bukan lagi sahabat Zara, mereka hanya sekedar teman lama yang kembali bersua. Tapi Faykah merasa terusik, mengapa sahabatnya tersebut tak pernah memberitahu dirinya, sebegitu tertutupnyakah Zara sekarang. Bahkan Aura pun mengetahui jika Zara memiliki kekasih dari orang lain?
"Ya sudah kalau begitu, aku dan Aizuko permisi dulu." ucap Faykah pada kedua mempelai tersebut.
"Baiklah, selamat menikmati." ucap Bryan dan Aura bersamaan.
Aizuko dan Faykah mengagguk pelan lalu berlalu meninggalkan keduanya.
Ketika mereka duduk di sebuah meja dengan menyantap makanan yang telah mereka ambil, Faykah menatap suaminya seperti ingin mengajukan pertanyaan. Aizuko membalas tatapanya.
"Ada apa sayang?" tanya Aizuko.
"Mmm, apa kau tahu? Zara dan Ran memiliki hubungan sebagai kekasih?" tanya Faykah.
Demi membunuh rasa penasaran yang menggerogoti pikirannya Faykah terpaksa menanyakan hal tersebut pada suaminya, yah walaupun ia tahu bahwa suaminya tak mungkin mengetahui hal tersebut.
"Yah aku tahu." jawab Aizuko dengan santainya.
Faykah tersedak karena mendengar pernyataan suaminya.
"Hei sayang, pelan-pelan. Minumlah!" ucap Aizuko sembari menyodorkan segelas jus pada Faykah.
Faykah menenggak jus yang diberikan suaminya lalu mengatur nafas sejenak.
"Benarkah? Apa mereka benar-benar berpacaran?" tanya Faykah yang masih saja penasaran.
"Yah, bagitulah. Aku menanyakan sendiri hal tersebut pada Ran. Memangnya kenapa?"
"Aku baru tahu." jawab Faykah datar.
__ADS_1
"Lalu masalahnya apa?" tanya Aizuko.
"Tidak. Tidak ada." jawab Faykah sambil kembali meneguk jusnya.
...*****...
Pagi hari dikampus, Zara berjalan menuju kelas dengan seutas senyum menghiasi wajahnya. Hari ini ia terlihat bebeda, tak seperti hari-hari sebelumnya. Zara memutuskan untuk melupakan kesedihannya sesaat agar bisa lebih fokus pada pendidikan. Ia ingat ketika dirinya bersedih di acara pernikahan Aura, Satria menenangkannya dalam pelukan.
"Paling tidak, kau harus bahagia. Jika bukan karena Ran, maka bahagialah untuk dirimu sendiri. Percayalah, kebahagiaan tak hanya datang dari seseorang yang kita cintai tapi kadang kebahagiaan datang dari diri sendiri." ucap Satria.
"Apa kau pernah merasakannya?" tanya Zara sambil menatap manik legam Satria.
"Sekarang aku tengah merasakannya." jawab Satria dengan nada serius.
Zara tercengang, ia tak percaya. Bagaimana bisa Satria melakukan hal tersebut hanya demi kebahagiaan dirinya yang bukan siapa-siapa.
"Tapi, kenapa kau lakukan ini?" tanya Zara.
"Karena dengan begini, aku ingin melihatmu bahagia. Dan jika kau bahagia aku juga akan ikut bahagia." tukas Satria.
Mendengar ucapan Satria yang tak ada keraguan didalamnya membuat Zara terharu. Hanya ada dua lelaki yang ingin melihatnya bahagia Selain ayahnya, Ran dan Satria.
"Terima kasih Satria. Tapi, aku tidak tahu bagaimana caraku membalas kebaikanmu." Zara mengelus punggung tangan Satria.
"Cukup dengan tersenyum, maka itu kuanggap sebagai ucapan terima kasihmu." jawab Satria dengan penuh keyakinan.
Walau bagaimana pun, lelaki itu mencintai Zara dan ingin terus melihat gadis yang dicintainya behagia.
Zara seketika memeluk sahabatnya tersebut, terharu akan ucapannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, mulai malam itu tak akan ada lagi Zara yang bersedih. Ia akan bangkit untuk membahagiakan dirinya demi masa depan.
Satria mengangguk.
Setelah sampai di depan kelas, Zara menghentikan langkahnya sejenak. Di hadapannya, berdiri sosok pria dengan paras pribumi. Ia mengenal dengan baik pria ini yang dahulu pernah menjadi sahabat kecilnya.
"Saga." ucap Zara.
Pria tersebut melengkungkan bibirnya lalu memanggil nama Zara. "Zara."
Mereka saling mendekat lalu dengan satu kedipan mata, Zara dan Saga saling berpelukan.
"Apa kabar?" tanya Zara dalam pelukan Saga.
"Fine, bagaimana denganmu?" tanya Saga.
"Tentu saja baik." jawab Zara.
Mereka lalu duduk di sebuah kursi sambil berbincang.
"Kapan kau kembali kesini?" tanya Zara pada Saga.
Pria itu masih sama seperti 6 tahun yang lalu dimana mereka menjadi sahabat. Saga adalah putra sulung Bibi Yumna, yang pada hari kematian Ibu Zara ia tak hadir sebab dirinya masih berada di luar negeri tengah menyelesaikan pendidikan.
__ADS_1
"Two days ago." jawabnya.
"Kenapa kau tak memberitahuku hah?" Zara memukul kecil bahu bidang pria itu.
"Supaya surprise. Aku tahu kau masih berkabung, makanya aku ingin memberimu surprise agar kau sedikit bahagia dan sebagai permintaan maaf karena aku tak datang saat bibi dimakamkan." jawab Saga.
"Hmm.. Kau jahat. Untung saja Ran ada disisiku. Jika tidak entah jadi apa aku sekarang." Zara memajukan bibirnya, cemberut.
"Hahah, maafkan aku. Lalu kemana Ran sekarang?" tanya Saga, setelah tertawa kecil.
"Dia.. Sudah kembali ke Jepang." jawab Zara lesu.
"Kenapa?" tanya Saga heran.
"Paman Akira sekarat." jawab Zara semakin lesu.
"Hah, banarkah? Kenapa Ibu tak mengatakan itu padaku? Lalu, kenapa kau masih ada disini? Mengapa tidak menjenguk paman saja?" ucap Saga terburu-buru.
Terlihat wajahnya begitu cemas, karena bagaimana pun Ran, dirinya dan Zara bersepupu. Ibunya, ayah Zara dan juga ayah Ran bersaudara. Dan bisa dibilang ikatan mereka begitu dekat. Hanya saja Ran dilahirkan di Jepang karena Paman Akira menikah dengan perempuan Jepang.
"Kata Kak Ran, aku harus kuliah dengan benar. Dia tak membiarkanku izin untuk waktu yang lama. Makanya dia hanya pergi sendirian." jawab Zara.
Saga menangkap sesuatu dari ucapan Zara, ia merasa Ran dan Zara sudah begitu dekat selama ia tak bertemu lagi dengan mereka. Dan ketika menyebut nama Ran, ada dua ekspresi yang Zara pancarkan. Antusias dan kegetiran.
"Apa kau sudah dekat dengan pria bermata sipit itu?" tanya Saga dengan memasang raut santai seperti tak ada apa-apa.
"Bukan hanya dekat, bahkan kami berpacaran." jawab Zara jujur. Tak ada lagi yang bisa ia tutupi dari Saga sepupunya tersebut.
"Apa? Sejak kapan?" Saga tercengang.
"Sejak Ran tinggal bersamaku dan mengurus ku." jawab Zara.
"Hmm baiklah, jadi kalian bermain dibelakangku yah." Saga nampak menggoda Zara.
"Hei, siapa yang bermain di belakangmu? Kau saja yang terlalu sibuk di negeri orang sampai lupa mengabariku dan Ran." Zara mencubit perut pria itu.
"Adedede, ampun Zara." Saga meringis dengan nada menggoda. Zara menghentikan cubitannya.
"Kau ini, dari dulu tak pernah berubah. Masih saja mencubit. Awas kau yah." Saga balas mencubit hidung Zara.
"Jangankan kau, Kak Ran saja aku cubit." ucap Zara sembari cengengesan.
"Ahahaha, astaga kau ini." Saga menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, aku ada keperluan. Kita akan bertemu lagi setelah ini. Bagaimana?" Saga menatap Zara.
"Mm ofcourse, di apatremen Ran. Jam 4 sore. Aku tunggu." jawab Zara.
"Baiklah. Wah, ternyata Ran sangat baik padamu yah. Sampai apartemennya pun menjadi milikmu." Saga kembali menggoda Zara.
"Hei kau ini, berhentilah menggodaku. Datang saja!" balas Zara dengan ketus.
__ADS_1
"Iya, iya. Nanti aku datang. Jaanee." Saga melambaikan tangan.
"Jane." Zara membalas lambaian tangan pria itu.