My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 22 : Kalian Sangat Serasi


__ADS_3

Setelah itu mereka pun masuk ke toko penjualan action figur. Zara sangat menikmati suasana toko itu. Dengan antusias gadis itu menatap semua action figur yang tertangkap oleh matanya. Ia pun berlari kecil menuju ke salah satu sisi toko tersebut yang memajang berbagai action figur beberapa karakter tokusatsu. Saking antusiasnya, gadis itu sampai lupa bahwa ia sedang bersama dengan Ran.


Semenara Ran yang berjalan di belakangnya merasa sangat khawatir. Lelaki itu terus fokus memerhatikan bagian tangan Zara. Tangan kiri gadis itu masih ada jahitan. 'Dasar anak ini, selalu saja membuat khawatir.' Ucap Ran dalam hati.


Begitu sampai di salah satu stand penjualan, Zara memegang satu persatu action figur kamen rider dan juga ultraman yang terpajang indah di hadapannya. Wajahnya memancarkan binar kebahagiaan, hingga membuat Ran yang tengah berdiri di samping gadis itu menatap tanpa kedipan. Zara mengambil action figur Kamen Rider Black lalu menunjukkannya pada Ran.


"Bagaimana menurutmu yang ini?" tanya gadis itu.


"Cukup bagus," jawab Ran cepat.


Sebenarnya lelaki itu dari tadi sedang kurang fokus akibat memandang wajah Zara dengan penuh damba. Matanya mengedip seketika yang terasa sangat perih. Setetes air mata pun keluar menembus kelopak mata indah lelaki itu. Sontak Zara merasa heran saat tak sengaja ia menangkap bulir bening itu jatuh ke pipi Ran.


"Eh kak, ada apa denganmu?" Tanya Zara, gadis itu melangkah mendekati Ran.


"Ah tidak. Hanya kemasukan debu saja." Jawab Ran sembari mengucek-ngucek kedua matanya.


"Yakin?" Zara memastikan.


"Yah, aku benar-banar tidak apa-apa." Jawab Ran.


"Baiklah. Eh tapi benar tidak apa-apa?." sekali lagi gadis itu memastikan. Ran mengangguk pasti.


Akhirnya gadis itu kembali memperlihatkan action figur pilihannya kepada Ran.


"Kamen Rider Black?" tanya Ran.


"Ya, kenapa?" Zara tampak mengernyit.


"Apa kau yakin? Aku kira kau suka Kamen Rider Amazon, kenapa sekarang Black? Tidak sekalian RX juga?" tanya Ran seraya menggoda.


Zara terkekeh, "Yang benar saja, bentuk mereka serupa. Lambangnya saja yang berbeda, bahkan pemerannya pun tetap Kotaro Minami." Lalu gadis itu berpikir apa alasan ia mengambil action figur di tangannya. "Kurasa aku suka pada semuanya." Jawab Zara akhirnya. Sebenarnya Zara memang menyukai Kamen Rider Black, atau orang-orang biasa menyebutnya kesatria baja hitam.


"Ya sudah kalau begitu. Apa ada yang lain?" Tanya Ran.


"Kurasa tidak ada." Jawab Zara.


"Baiklah, ayo kita membayarnya." ajak Ran pada akhirnya.

__ADS_1


...


Setelah membayar action figur yang Zara inginkan mereka pun beranjak menuju restaurant terdekat karena perut Ran sudah keroncongan. Saat berada di restaurant lagi-lagi mereka bertemu dengan wanita Jepang itu. Akiyoshi Kanako.


"Amakusa-kun, bisakah aku bergabung?" Tanya Akiyoshi dengan senyum merekah di wajahnya.


"Haiik (ya). Kemarilah." Ran mempersilahkan. Lagi-lagi Zara hanya bisa melongo karena tak tahu apa yang mereka ucapkan.


Tak lama berselang, mereka pun mulai menyantap pesanan mereka yang merupakan bento setelah pelayan membawakan. Tampak Zara sedang berusaha memasukkan makanannya ke dalam mulut namun ia begitu kesulitan karena memakai sumpit. Sepertinya gadis itu belum mahir. Ran memerhatikan. Akhirnya lelaki itu berinisiatif membantu.


"Hei sudahlah, biar ku suapi." Ucap Ran sembari meraih sumpit yang dipegang Zara.


Seketika gadis itu tercengang namun tak bisa melakukan apapun. Tanpa membuang masa, dengan perlahan suapan pertama dari Ran menerobos masuk ke dalam mulut gadis itu. Sebenarnya ia sangat malu pada Akiyoshi yang duduk di antara mereka, tapi apa boleh buat, hal ini sudah terjadi dan tak bisa dicegah.


Sedangkan Akiyoshi tampak memerhatikan tingkah mereka berdua dengan senyum yang bisa dibilang tak pernah pudar. Akiyoshi terus memperhatikan mereka tanpa menghentikan suapannya ke mulutnya. Ia merasa sikap Ran yang hangat ini sangat jauh berbeda ketika ia mengenalnya di SMA dahulu.


Di SMA Ran tak pernah bersikap hangat pada siapapun bahkan pada dirinya. Tapi melihat hal ini seketika membuat Akiyoshi pada akhinya paham bahwa Ran menyukai gadis itu. Mana mungkin pria dingin bisa bersikap hangat jika tidak punya perasaan pada lawannya.


"Kurasa kau banyak berubah." Ucap Akiyoshi tiba-tiba.


Ran menoleh pada Akiyoshi disusul oleh Zara yang masih saja tidak paham dengan apa yang dikatakan wanita itu.


Akiyoshi menyeringai, "Dulu kau tak pernah sedekat ini pada siapapun, apa kau menyukai gadis itu?" kemudian tersenyum yang pada akhirnya membuat Ran paham.


"Ah yah, sepertinya begitu." Jawab Ran santai.


Akiyoshi mengangguk pelan sembari meraih minuman di sebelahnya. Sementara Ran terlihat kembali menoleh pada Zara yang sudah menunggu suapan selanjutnya.


"Apa katanya?" Tanya Zara penasaran.


Namun Ran kembali ragu untuk menerjemahkannya sebab pembicaraan mereka mengenai dirinya, dan Ran tidak ingin gadis itu tahu mengenai perasaannya untuk saat ini.


"Nanti kau akan tahu kalau sudah belajar bahasa Jepang. Sekarang tidak usah banyak bertanya, cukup buka mulutmu saja! Aaaaaa.." Ran menyodorkan sumpit yang berisi sushi.


Sambil menerima suapan Ran, Zara membuka mulutnya dengan wajah yang cemberut. Gadis itu sengaja melempar ekspresi memberenggut sebab tak mau menerima ucapan Ran.


"Kalian sangat serasi." Ucap Akiyoshi lagi. Wanita itu selalu saja berucap secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Benarkah?" Tanya Ran dengan wajah sumringah serta senyum manis yang terulas dengan menawan.


Akiyoshi mengangguk pelan. Ada rasa kecewa yang hinggap di hati wanita itu ketika mendengar ucapan Ran yang seolah memang bahagia disebut serasi. Mengapa? Karena sebenarnya Akiyoshi telah lama memendam perasaan pada Ran. Tapi disebabkan karena lelaki itu selalu bersikap dingin, jadilah Akiyoshi tak pernah berani mengungkapkan isi hatinya.


Dan apa yang dilihatnya sekarang adalah hal yang menurutnya sangat sulit terjadi, kenapa gadis itu bisa memikat hati Ran sedangkan semua orang tahu jika lelaki itu sulit dipikat. Bahkan dirinya pun yang tergolong wanita tercantik di sekolah dulu tak pernah berhasil. Beruntung sekali gadis itu. Pikirnya.


Setelah makan siang usai, mereka bertiga pun akhirnya keluar dari restaurant. Akiyoshi yang penasaran dengan gadis yang setia di samping Ran seketika memusatkan pandangannya pada gadis itu dengan melemparkan senyum ramah.


'Sepertinya nona ini murah senyum yah.' Puji Zara pada Akiyoshi dalam hati.


"Akiyoshi Kanako desu, anatawa?(Saya Akiyoshi Kanako, Anda?)" Akiyoshi menjulurkan tangannya pada Zara sebagai tanda perkenalan diri.


Dengan gugup Zara menjawab sebisanya "Zanzara desu. Salam kenal." Ucap Zara dengan bahasa Jepang.


"Salam kenal." Balas Akiyoshi masih dengan senyuman.


Karena tidak saling memahami bahasa, Akiyoshi yang tadinya ingin banyak bertanya pada Zara seketika mengurungkan niatnya. Ia akan berusaha belajar bahasa Indonesia agar bisa berbicara dengan gadis itu. Entah mengapa Akiyoshi merasa punya ketertarikan untuk mengenal Zara lebih dalam dan ingin menjadikannya karib.


"Amakusa-kun, sepertinya aku harus pergi. Jane!" Ucap Akiyoshi sambil melanbai dan langsung saja meninggalkan keduanya.


Selepas kepergian Akiyoshi, Ran kembali memegang tangan Zara lalu memutuskan untuk melangkah keluar dari gedung tersebut.


"Dia ramah sekali," puji Zara ketika mereka menuruni beberapa anak tangga menuju basement.


"Yah, dia memang seperti itu dari dulu." timpal Ran.


"Kuharap suatu hari nanti kita bisa kembali bertemu dengannya." sahut Zara dengan senyum tipis di bibir.


"Tapi tidak untuk waktu dekat ini, sebab kau harus belajar memahami bahasanya agar tidak repot berkomunikasi."


Tenggorokan Zara seketika tercekat. "Yah, sepertinya." gumam gadis itu.


.


.


.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2