
Sore menjelang malam Kira dijemput oleh sang ayah di depan gerbang sekolah. Ketika hendak menaiki mobil gadis itu nampak heran, sang ayah membuka kaca jendela bagian depan dan menyuruh ia duduk di tempat yang biasa menjadi milik Naura. Dan juga tak tampak kakaknya itu ikut bersama mereka. Sejenak ia berpikir sembari menyempurnakan posisi duduknya di sebelah kemudi. Kemana kakaknya itu?
"Bagaimana harimu di sekolah?" Tanya Ran ramah.
Kira tersenyum, "Berjalan dengan baik, Otousan. Terima kasih sudah menjemput Kira."
"Sama-sama. Kita akan mampir ke restaurant Clover dulu, apa kau merasa lelah?" Ucap Ran.
"Ah, tidak juga." Jawab Kira.
"Baiklah kalau begitu." Kemudian Ran kembali fokus pada jalanan.
Kira sebenarnya ingin bertanya mengapa mereka tidak langsung pulang saja, namun lantaran situasi hatinya yang kurang bersahabat, Kira memutuskan untuk sejenak tidak peduli pada sekitar. Ia lebih memilih diam memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Bara. Sambil bersandar, gadis itu mulai memejamkan mata.
Sebetulnya menjadi sosok pembangkang dan egois itu terasa berat, terlebih untuk perasaannya. Dia harus terus menerus bersembunyi di balik tirai kebohongan ketika ada kesalahan yang ia perbuat.
Tak lama berselang, mereka akhirnya sampai di restaurant 'clover'. Kira terpaku memandang keluar jendela ketika matanya menangkap keberadaan mobil Bara disana. Mendadak perasaannya tidak enak. Ia menatap ke arah sang ayah yang kala itu sudah membuka sabuk pengaman dan hendak turun. Tapi Kira mencegah.
"Otousan, mengapa kita kesini?" Tanya gadis itu.
"Karena di dalam sana sudah ada Okaasan dan Kak Naura serta Paman Saga dan Bara. Kita akan makan malam bersama. Kenapa?" Jawab Ran kemudian balik bertanya.
"Ah, makan malam bersama? Dalam rangka apa?" Sahut Kira lagi.
"Paman Saga akan bertemu dengan wanita untuk berkenalan lalu membahas pernikahan." Jawab Ran.
Kira semakin mengernyit bingung. Atas dasar apa dirinya harus ikut meramaikan pertemuan antar dua orang yang ingin berkenalan? Ditambah lagi ada Bara disana. Kira merasa sedikit ragu untuk bertemu lagi dengan lelaki itu.
"Oh begitu." Cicit Kira yang kemudian beralih membuka sabuk pengamannya.
Mereka akhirnya turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam restaurant. Perasaan Kira semakin tidak enak ketika melihat posisi duduk Bara dan Kakaknya Naura berdampingan. Ia merasa telah terkhianati.
'Sepertinya dugaanku tidak salah bukan? Kak Bara memang masih menyukai Kak Naura. Buktinya mereka duduk bersebelahan.' Ucapnya dalam hati sambil berusaha menata perasaannya yang kurang baik.
Ran menyapa mereka dengan senyum yang tampak menghiasi wajahnya. Lelaki itu kemudian menarik salah satu kursi tepat si sebelah kiri Bara lalu menyuruh Kira duduk disana. Kira tampak mengernyit. Hatinya merasa ragu duduk bersebalehan dengan Bara.
"Duduklah, sayang." Ucap Ran membuyarkan lamunan Kira.
Gadis itu tersentak dan spontan mendaratkan tubuhnya di kursi tersebut. Dan jadilah ia duduk berdampingan denan Bara.
'Terasa seperti ironi, Kak Bara duduk di antara dua gadis yang menyukainya. Dan posisiku yang duduk di sebelah kiri menjadikanku seperti seorang simpanan dan Kak Naura lah calon sah.' Celetuknya dalam hati.
Bukan Kira namanya jika tak cemburu pada Naura, padahal hanya masalah posisi duduk yang kemudian hal itu seolah menjadi akar masalah dari kemiskinan yang melanda suatu negeri. Kira bergejolak sendiri dalam benaknya. Merendahkan diri serendah rendahnya, dan berasumsi seolah Bara dan Naura memang mengkhianatinya. Padahal tanpa itu tahu, kedua orang tersebut tidak pernah saling bertegur sapa sejak bertemu tadi. Yah, itulah Kira.
Tak lama berselang seorang wanita dan pemuda tampak bergabung di meja mereka. Pemuda itu meyapa Ran dan Saga bergantian sementara wanita yang terlihat umurnya jauh lebih tua duduk di sebelah Saga.
"Maaf Paman kami sedikit terlambat." Ucap pemuda itu sopan.
Ran mempersilahkan pemuda itu duduk di kursi dekat Kira. Gadis itu menoleh dan sejenak pandangan mereka bertemu. Ketika terdengar suara dari Zara yang mengajak menyicipi hidangan, sontak keduanya tersadar kemudian saling menarik pandangan. Kira kembali menunduk.
"Bagaimana kabarmu Issaura?" Sapa Zara pada wanita bernama Issaura.
Wanita itu tersenyum yang memperlihatkan lesung pipi di sebelah kiri bibirnya. "Kabarku baik. Senang bisa bertemu denganmu lagi Zara."
"Ah ya, senang juga bisa kembali bertemu denganmu. Padahal kita sudah lama tak bertemu, em kapan yah terakhir?" Zara tampak berpikir.
Seolah menjadi kebiasaan, Issaura tersenyum disetiap situasi. "20 tahun yang lalu ketika kita masih menjadi partner kerja di kafe."
"Ah ya benar, aku baru ingat." Sahut Zara bahagia.
Beberapa menit awal yang mendominasi pembicaraan hanya Zara dan Issaura. Sebagai pihak penyambung, tentunya Zara harus memulai prolog tersebut walau hanya membahas masa lalu.
Di menit berikutnya Ran mulai berbicara dengan nada seriusnya mewakili Saga untuk mengutarakan niat baiknya membangun rumah tangga dengan wanita tersebut.
"Bagaimana Noah, apa kau setuju ibumu menikah dengan paman Saga?" Tanya Ran pada pemuda yang merupakan anak sulung Issaura.
Noah mulai berbicara sebagai perwakilan dari kelaurga wanita. "Saya setuju Paman."
Ran mengangguk pelan sambil tersenyum lalu mengarahkan pandangannya pada Bara.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu Bara?" Tanya Ran yang ditujukan pada Bara.
"Aku juga setuju paman. Apapun yang terbaik untuk Ayah, pasti aku mendukungnya." Jawab Bara mantap.
Ketika kedua belah pihak telah melayangkan persetujuan mereka, makan malam pun dilanjutkan dengan obrolan seputar profil Noah dan sang ibu. Dalam obrolan tersebut, hanya Ran, Zara, Saga, Issaura dan Noah yang terlibat. Sementara Kira, Bara dan Naura hanya diam memperhatikan.
Kira memfokuskan dirinya pada makanan penutup di hadapannya. Ketika ia mulai kurang kesadaran terhadap sekitar, tiba-tiba ia merasakan kehangatan pada tangannya. Seperti ada yang menyentuh. Gadis itu spontan menoleh dan mendapati tangan Bara yang menggenggam tangannya.
'Kak Bara.' Ucapnya dalam hati.
Seketika desiran hangat masuk ke dalam dada Kira seiring dengan menguatnya genggaman tangan Bara. Dan hal itu sukses membuat rasa bingung melanda gadis itu. Sejenak ia menatap wajah Bara yang terlihat foksu ke depan.
'Ada apa dengannya? Mengapa dia begitu berani melakukan hal ini?' Kira kembali membatin.
Di sebelah kanan Bara, Naura tampak memusatkan pandangannya ke arah lima orang yang sedang terlibat pembicaraan.
Bara meraih ponselnya di saku celana. Lalu mengetik beberapa kata untuk dikirim ke seseorang. Tak lama berselang notifikasi terdengar masuk ke ponsel Kira. Gadis itu terlonjak kaget sesaat. Setelah mendapati tatapan hangat Bara yang seolah memberi isyarat untuk membuka notif tersebut, akhirnya ia beralih.
Betapa terkejutnya gadis itu, ternyata Bara secara tidak langsung mengajak ia berbicara melalui pesan di ponselnya. Entahlah, Kira harus senang atau bagaiamana. Yang jelas perasaannya sekarang seperti tercampur aduk.
*Maafkan aku soal yang tadi sore. Love Bara*
Kira membalas pesan terebut. *Tidak apa. Aku sudah lebih baik.*
*Sungguh? Kalau begitu jangan lepaskan tanganku, ok?*
Kira tersipu malu. Ia baru sadar lagi jika tangannya masih digenggam Bara.
*Hmm, baikah.*
*Aku menyayangimu, Kira.*
Kira tak lagi membalas pesan tersebut. Dengan keadaan yang repot karena tangannya masih digenggam Bara, Ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Lalu bagaimana dengan Naura, Zara? Apa sudah ada calon?" Tanya Issaura di tengah-tengah perbincangan mereka.
Kalimat tersebut seketika menyita perhatian Kira dan Bara. Mereka tampak penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh Zara.
Terlihat sudut bibir Ran tertarik menimbulkan senyum tipis. Lelaki itu kemudian berkata. "Sudah ada calon, tinggal menunggu persetujuan dari Naura."
"Benarkah, ya ampun. Berarti rencanaku tidak bisa terwujud." Sahut Issaura.
"Kenapa?" Tanya Ran dan Zara bersamaan. Sejenak terdengar sorakan jenaka dari yang lain. Keduanya saling menatap sambil cekikikan.
"Rencana aku ingin kita menjadi besan dengan menyatukan Noah dan Naura, tapi sepertinya aku harus mengurungkan niatku." Issaura tampak sedih.
"Ya ampun tidak masalah. Masih ada Kira, tunggu saja sampai ia besar." Ucap Zara yang sebenarnya hanya bercanda.
Seketika seluruh mata tertuju pada gadis 15 tahun itu. Kira tampak begitu kikuk ditatap begitu, tapi sebisa mungkin untuk menyembunyikannya.
"Hai Kira, kau begitu cantik sama seperti kakak mu Naura. Apa kau bersedia menjadi menantu Bibi?" Sapa Issaura.
Kira jadi semakin kikuk dengan pertanyaan semberono itu. Hatinya sukses terguncang.
'Haruskah aku? Ya Tuhan, mengapa situasi semenjengkelkan ini.' Rutuknya dalam hati.
Tidak hanya Kira, Bara pun terbawa perasaannya ketika mendengar semua pembicaraan itu. Tapi karena masih bisa menjaga rahasia hubungan mereka maka sebisa mungkin ia bersikap santai. Tapi genggaman tangannya pada Kira mengencang dua kali lipat.
Kira terlonjak sambil menahan sakit. 'Sial! Kak Bara akan membayar ini!' Sungutnya dalam hati.
"Ahahaha, Bibi bisa saja. Aku masih belia dan kurasa masih belum pantas." Kira tertawa sumbang.
"Tidak masalah, Noah pasti bersedia menunggumu hingga besar nanti. Iya kan Noah?" Issaura kemudian menatap anak sulungnya.
Tampak Noah tersenyum malu, "Kurasa menunggu, tidak begitu buruk." Celetuk Noah.
Sorakan kemudian terdengar setelahnya untuk Kira dan Noah. Kira yang merasa kurang nyaman terpaksa menyunggingkan senyum kecut, sementara Noah terlihat menahan rasa malunya. Bara? Jangan ditanyakan lagi, lelaki itu tentunya geram. Tapi siapa yang menyadari selain hanya dirinya, Kira dan Tuhan.
Beberapa jam berlalu akhirnya makan malam tersebut pun usai. Masing-masing memilih jalur berbeda untuk pulang. Issaura dan Noah pamit pulang menggunakan mobil jazz yang dikendarai Noah ke arah uatara. Saga pun sama, ia pulang bersama Bara putranya ke arah selatan. Sementara Ran sekeluarga ke arah timur.
__ADS_1
Di dalam mobil Ran..
"Jika dipikir-pikir, Kira cocok juga dengam Noah. Bagaimana menurutmu sayang." Sahut Ran pada istrinya.
"Tentu, mereka cocok. Jika memang Kira mau, kita bisa menjodohkannya dengan Noah." Balas Zara.
Naura menatap sang adik dengan tatapan binar. Sementara Kira terus menggerutu dalam hati.
Di dalam mobil Saga...
"Apa ayah menyukai wanita itu?" Tanya Bara sambil mengemudikan mobil.
"Belum. Tapi ayah rasa jika terbiasa maka rasa itu akan timbul dengan sendirinya." Jawab Saga.
"Hmm seperti itu." Gumam Bara.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa sudah punya kekasih? Tidak kah kau berniat melamar gadis?" Goda Saga.
"Ah, ayah. Belum waktunya. Aku masih kuliah." Bara mencoba untuk tidak tergoda. Tapi tidak bisa, Bara tetap tertawa.
"Jangan membujang terlalu lama. Kau juga pasti butuh kasih sayang seorang pasangan, kan? Akui saja Bara, ayah pernah berada di usiamu." Tampaknya Saga semakin menggoda Bara.
"Ya Tuhan, ayah! Tentu saja aku membutuhkan hal itu." Sahut Bara yang ternyata membalas godaan sang ayah. Mereka berdua mengisi perjalanan denagan saling menghibur.
Di dalam mobil Issaura..
"Mama terlihat begitu bahagia, apa mama menyukai Paman Saga?" Noah mengawali perbincangannya dengan sang ibu.
"Menurutmu?" Issaura menaikkan sebelah alisnya. Senyum tipis menghiasi wajah yang mulai berkerut itu.
"Jangan suruh aku menebak mama. Aku tidak pandai."
"Ah, yang benar?" Goda Issaura.
Noah hampir saja tertawa ketika mendengar godaan sang ibu. "Mama." Noah memelas seperti anak umur lima tahun yang meminta jajan.
"Noah, Noah. Mama hanya bercanda. Sekarang mama jawab, iya mama menyukai Paman Saga." Jawab Issaura akhirnya.
Noah tersenyum. Ia pun ikut bahagia jika sang ibu bahagia.
"Maafkan Papa-ku, Ma. Dia tidak bisa menjadi pasangan yang baik." Ucap Noah.
"Tidak perlu meratap seperti itu. Semuanya sudah takdir." Issaura berucap dengan senyum.
"Hmm." Sahut Noah.
"Kau sendiri, apa tidak ingin memilih pasangan? Kira misalnya?" Tanya Issaura iseng.
Noah jadi gelagapan.
"Eh kanapa mama bertanya seperti itu?"
"Jawab saja, kau ingin dijodohkan dengan gadis itu tidak, hm?"
"A.. a.. Terserah mama saja." Jawab Noah malu-malu.
Issaura kemudian tertawa setelah itu. Dan perjalanan mereka diisi dengan pembahasan mengenai Kira.
.
.
.
.
.
***bersambung...
__ADS_1
jangan lupa like+komen๐๐***