
Suasana pagi yang begitu damai menyapa Zara yang baru saja membuka mata. Cahya matahari sudah terlihat masuk di sela-sela jendela kamar gadis itu. Bahkan hari sudah hampir siang. Sepertinya kejadian semalam begitu membahagiakan sehingga mengantarkan ia pada rasa nyaman dalam tidur. Percayalah, Zara merasa begitu senang saat Ran menyatakan perasaan padanya.
Aku tidak tahu sejak kapan aku jatuh hati. Tapi rasa ini sepertinya lebih kuat dibandingkan ketika aku jatuh hati pada Kak Surya.
Karena rasa senang yang terus menyelimuti hatinya, gadis itu memutuskan untuk melakukan suatu kegiatan, dan hal pertama yang terlintas di benaknya adalah memasak.
Zara melangkah menuju dapur. Gadis itu telah merencanakan untuk memasak suatu hidangan spesial. Ketika akhirnya ia sampai di dapur, seorang wanita terlihat sedang berdiri di depan lemari pendingin. Zara terkejut dan sontak mengucek mata seraya memastikan sosok di hadapannya bukanlah makhluk halus. Dengan ragu ia memanggil wanita tersebut. "Ibu."
Tamara menoleh dan langsung melemparkan senyum ketika melihat Zara berdiri di pintu masuk dapur. Sementara gadis itu menatap Tamara dengan nanar. Kerinduan mencuat seketika di antara keduanya. Zara berlari lalu memeluk erat sang ibu yang telah meninggalkannya beberapa hari.
"Aku sangat merindukan ibu. Kapan ibu kembali?" tanya Zara dengan air mata yang mulai menetes.
"Ibu juga sangat rindu padamu. Ibu telah kembali sekitar pukul 7 tadi." jawab Tamara.
Zara melepaskan pelukannya, sekali lagi gadis itu menyunggingkan senyum bahagia. Kepulangan sang ibu adalah hal yang paling ia tunggu-tunggu sejak beberapa hari yang lalu dan akhirnya wanita itu ada di depan matanya. Sungguh hari yang membahagiakan bagi gadis itu.
"Kalau begitu ayo kita memasak bersama," ajak Zara pada Ibunya.
"Baiklah," Tamara menyetujui.
Keduanya pun mulai mengambil beberapa bahan dapur di kulkas lalu mengeksekusinya. Beberapa saat kemudian semua kondimen telah siap, Zara pun memutuskan angkat tangan.
"Hari ini aku sedang menginginkan masakan ibu," ucap gadis itu dengan manjanya.
Mendengar hal itu sontak membuat Tamara tersenyum. Pada akhirnya wanita itu mengambil alih dapur. Satu jam lebih mereka berkutat di dapur dengan Zara yang duduk memerhatikan dari meja makan. Akhirnya makanan telah selesai dan segera dihidangkan.
Ran turun dari lantai dua menuju dapur dengan berpakaian santai, hari ini adalah hari sabtu jadi Ran tidak pergi ke kantor. Lelaki itu melangkah mendekati meja makan.
Sebelum duduk Tamara menyapa lelaki itu. "Ran, tidak kerja nak?"
"Tidak bibi, ini akhir pekan." Jawab Ran, lelaki itu lalu menarik kursi dan duduk di meja makan.
Tak lama berselang Zara juga ikut bergabung. Gadis itu tampak sedang membalik piring untuk Ran. Dilanjutkan dengan mengambil sesendok nasi dan lauk pauk untuk diletakkan di piring Ran.
"Kak, makanlah." ucap gadis itu sambil tersenyum.
Ran terkesima melihat sikap Zara yang nampak seperti seorang istri. Untuk itu Ran melemparkan senyum manis pada gadis itu. "Terima kasih." Ucapnya yang langsung beralih menatap Zara dengan penuh cinta. Sementara Zara sontak tersipu malu.
...
Setelah selesai sarapan, Zara beralih untuk mencuci piring sedangkan Tamara telah berlalu meninggalkan dapur menuju kamar. Sembari menghabiskan suapan terakhirnya, Ran menatap gadis kecil yang sedang mencuci piring itu. Lelaki itu tak habis pikir jika semalam ia telah berbuat hal konyol yang pada akhirnya menjadikan mereka sepasang kekasih. Ran tersenyum tipis kemudian bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati gadis itu.
"Hei." Sapa Ran ketika sudah berdiri di samping Zara.
"Eh kak." gadis itu menoleh.
__ADS_1
Ran memulai dengan senyum tipis di bibirnya, "Soal tadi malam. Maafkan aku, tapi kau harus tahu jika perasaanku padamu memang benar adanya."
Zara hanya mengangguk karena tak dapat membahasakan perasaannya. Sebenarnya gadis itu juga menyukai Ran dan tak tahu jika keadaan akan menjadi seperti ini. Ran maklum dan memutuskan untuk mengalihkan topik.
"Baiklah, setelah ini mari kita pergi mengantar Bibi kembali ke pelabuhan." ajaknya spontan.
"Untuk apa ke pelabuhan?" Tanya Zara dengan tangan yang terus bekerja mencuci satu persatu piring di westafel.
"Entahlah, Bibi tak memberitahuku." Jawab Ran kikuk, ada sesuatu yang sedang disembunyikannya.
"Hmm, seperti itu."
Zara menjadi cemberut, lagi-lagi semangatnya hilang sebab baru saja ia merasa bahagia dan bersemangat karena ibunya telah kembali. Tapi kebahagiaan tersebut tidak akan bertahan lama. Gadis itu jadi berpikir jika ibunya pergi maka ia akan kembali berdua dengan Ran. Mengingat perbuatan Ran padanya semalam membuat Zara seketika merinding.
'Kembali berdua dengannya, ya ampun.' batinnya.
...
"Bu, apa benar ibu akan pergi ke pelabuhan hari ini?" Tanya Zara ketika menyambangi kamar Tamara.
Tamara menoleh, "Iya sayang. Maaf jika ibu tidak bisa selalu ada di sampingmu. Tapi jangan khawatir kan ada Ran."
"Tapi kanapa ibu harus ke sana, ibu mau kemana?" Zara menuntut penjelasan.
"Tapi bu." Zara terlihat memberenggut.
"Sudahlah Zara, jangan seperti itu!" tiba-tiba Ran muncul dan berusaha menyela ucapan gadis itu.
"Sudah.. Sudah.. Kalian bersiaplah. Kita akan segera pergi." Tamara pun mengakhiri.
Zara beranjak ke kamar diikuti Ran dari belakang. Ketika sampai di depan kamar gadis itu berbalik sambil melemparkan raut aneh. "Kak, rumah Bibi Yumna kan menyeberangi pulau apa kita akan mengantar ibu hanya sampai ke pelabuhan saja?" Tanya Zara.
"Yah, kita hanya akan mengantarnya ke pelabuhan saja." Jawab Ran.
"Lalu kenapa ibu pulang jika ingin pergi lagi?" Tanya Zara kemudian.
"Mungkin bibi rindu padamu, tapi dia tak bisa lama di sini." Jawab Ran sekenanya.
Rasa penasaran Zara belum juga sirna. Mengapa ibunya hanya darang sebentar dan akan pergi lagi. Ia tak terima jika jawabannya hanya karena merindukan dirinya.
"Apa kakak berbohong?" Zara menatap dengan tatapan menyelidik.
"Ah, Zara. Tidak.. Tidak.. Aku tidak bohong." Jawab Ran gugup.
"Aku tidak percaya. Jika kakak tidak memberitahukanku yang sebenarnya, kita akan putus." Zara mengancam.
__ADS_1
"Hei Zara." Ran meraih tangan gadis itu cepat. "Jangan seperti itu. Oke baiklah aku akan memberitahu alasan mengapa bibi melakukan hal itu. Tapi nanti, setelah kita pulang nanti."
"Benar yah, jangan membohongiku lagi!" Zara memastikan.
"Yah, aku akan menepati janjiku!" Ucap Ran dengan yakin.
Mereka telah sampai di pelabuhan sekitar lima belas menit yang lalu, dan sekarang sudah waktunya kapal yang akan dinaiki oleh Tamara akan segera berlayar. Zara menatap wajah ibunya dengan penuh kesedihan. Lagi-lagi ia harus merelakan wanita kesayangannya itu untuk pergi dan entah kapan kembali.
Zara mulai kalut, hatinya terasa seperti kehilangan satu kepingan emas yang nilainya begitu berharga. Gadis itu pun memeluk ibunya dengan air mata yang mulai bercucuran. Sekitar lima menit ibu dan anak itu berpelukan. Tak lama akhirnya terlepaslah tautan tubuh mereka setelah terdengar pengumuman dari kapal yang akan segera berlayar
"Kalau urusan ibu sudah selesai, ibu janji akan kembali menemuimu yah sayang." Ucap Tamara lalu beranjak menuju kapal.
"Ibu.." Ucap Zara lirih sembari meneteskan air matanya.
Perasaan Tamara begitu sedih, ia tidak tahan melihat anak gadisnya menangis. Wanita itu merasa harus segera pergi. Tamara menoleh sekilas. Ia ingat jika tak pernah memberitahu Zara mengapa ia pergi. Zara hanya tahu dirinya membantu Bibi Yumna di desa. Karena Tamara tidak ingin membuat gadis itu merasa sedih dan terbebani.
Kapal sudah berlayar meninggalkan daratan. Zara tak berhenti memandang kapal yang terus menjauh itu dengan air mata yang terus mengalir. Ran mendekat seraya memegang bahu gadis itu.
"Zara, ayo kita pulang!" Pinta Ran.
Zara tersadar lalu menghapus air matanya. Tapi karena tidak tahan lagi ia buru-buru meraih tangan Ran dan dengan cepat menariknya ke mobil. Mereka pun masuk ke dalam taft, Zara mengajak lelaki itu untuk duduk di kursi belakang.
"Hei, kenapa di sini?" Tanya Ran yang seketika terkejut.
Zara tak menjawab. Ketika mereka sudah duduk dengan sempurna gadis itu langsung saja membenamkan tubuhnya pada Ran. Lelaki itu sempat terjejut namun akhirnya paham jika Zara sedang bersedih dan sedang ingin dipeluk. Satu-satunya orang yang bisa memeluk gadis itu saat ini hanyalah Ran.
Ran kemudian mengencangkan pelukannya agar Zara merasa lebih tenang. Namun bukannya tenang, Zara malah semakin terisak.
"Tenanglah Zara. Aku.. Aku akan menjagamu." Ucap Ran sedikit tersendat.
Lelaki itu mengelus pelan rambut Zara sembari memberikan kehangatan dengan kasih sayangnya. Perlahan tangis gadis itu mereda namun tidak dengan pelukannya.
"Sudah baikan?" Ran memastikan.
Zara mengangguk. "Biarkan aku memelukmu untuk waktu yang lama. Aku membutuhkanmu! Tetaplah di sisiku!" Ucap Zara dengan suara bergetar.
.
.
.
bersambung....
__ADS_1