Namaku Diana

Namaku Diana
keputusan Adrian.


__ADS_3

"papah mu sudah menunggu mu dari tadi.sana samperin di ruang kerjanya"


Adrian mengangguk, dia pun berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju ruang kerja papah nya.


Adrian sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Rudi.


tok


tok


Adrian mengetuk pelan dua kali pintu ruang kerja Rudi.


"masuk lah!" ucap Rudi di dalam sana.setelah di persilahkan masuk, Adrian pun masuk ke dalam ruangan kerja papah nya.nampak Rudi dengan kacamata baca nya bertengger di batang hidung mancung nya.fokus dengan berkas berkas yang ada di hadapannya di atas meja kerja nya.


lalu Adrian menarik sofa tunggal yang ada di hadapan meja kerja Rudi, dan duduk di sofa itu.Adrian menatap lekat wajah ayahnya yang sudah terlihat menua, dengan umur nya yang sudah senja, masih saja fokus dengan berkas berkas perusahaan yang pelik, yang ada di atas meja.


tak lama Rudi melepaskan kacamata baca nya,di letakkan di atas meja.kemudian dia menyandarkan tubuhnya di kursi yang empuk itu.dan kini mereka diam, saling menatap.


Rudi menatap putra sulung nya itu penuh arti.


"apa yang akan papah bicarakan pada ku?" Adrian memulai pembicaraan


"papah ingin kamu memegang perusahaan kita Adrian" ucap Rudi tanpa basa-basi lagi.


"papah sudah tidak lagi muda, usia papah sudah menginjak 65 tahun, kamu tahu itu, untuk pria se usia papah mestinya sudah mengurangi beban di otak papah" Rudi menghela nafasnya berat


"papah mau pensiun, dan perusahaan ini papah serahkan ke pada kamu, mungkin papah hanya bantu sekedar nya.tapi untuk memimpin langsung, sudah tidak mungkin Adrian" lanjut Rudi menyampaikan keinginan nya pada putra sulungnya itu.dan Rudi sangat berharap Adrian menyanggupi permintaan nya.


Adrian diam tidak ada respon atau jawaban keluar dari mulut nya.

__ADS_1


Rudi menatap Adrian dengan perasaan harap harap cemas.Adrian pun sama menghela nafasnya berat.


"tapi pap, Aku sudah punya usaha sendiri, dan itu hasil jerih payah ku, sudah lumayan besar usaha yang aku jalani sekarang ini" ucap Adrian mencoba mengelak.


'loh, kamu bisa mengolah nya bersamaan Adrian, atau kamu bisa menambah pekerja yang lebih kompeten di perusahaan mu,agar kamu lebih ringan bukan begitu Adrian?" Rudi tak kalah set, membuat Adrian semakin susah untuk mengelak.


Adrian merasa bingung harus bagaimana, menanggapi permintaan papah nya.karena dia sudah merasa nyaman dengan apa yang dia miliki dan jalani sekarang ini.tapi dia pun tidak tega melihat papahnya yang sudah tua masih harus menanggung beban perusahaan raksasa milik keluarga Bagaskara. pikiran nya terus berputar.hati, pikiran serta logika nya terus beradu dalam dirinya.mencari sebuah keputusan yang terbaik untuk dirinya serta keluarganya.


"baik lah pap, aku bersedia"akhirnya itu keputusan Adrian.menerima keinginan papah nya.dia berpikir mungkin sudah saatnya bagi dirinya sebagai putra pertama dari seorang Bagaskara harus mengambil tanggung jawab yang selama ini papah Rudi tanggung.karena biar bagaimanapun hidup nya semua yang ia dapatkan dari keluarga Bagaskara.


Rudi menegakkan tubuhnya dari sandaran kursi.dengan sorot mata yang berbinar bahagia karena ucapan Adrian yang setuju dengan keinginan nya.


"kamu setuju Adrian!?" ucap Rudi semangat.


"iya, aku setuju, seperti nya begitu..aku akan mencoba nya"


Ck_papah ini,, enak saja bicara, Aku tidak akan rela membuat istri ku, lelah bekerja.. melayani aku di rumah saja dia sudah kewalahan, apa lagi kalau bekerja di luar rumah..yang ada aku tidak dapet pelayanan nya"


Rudi terdiam sejenak mendengar ucapan Adrian.tak lama.


"ya ampun Adrian, kamu anggap istri mu apa pikiran mu kemana mana"sungut Rudi


Adrian terkekeh melihat reaksi papah nya.


"ah, papah kaya nggak ngerasain muda ajah, memang begitu kan? kita kaum Adam nggak boleh kurang untuk urusan itu, kalau perlu sehari tiga kali! seperti minum oba! malah seperti nya papah pun masih giat giatnya sama mamah, walaupun sudah berumur"ucap Adrian tanpa dosa.dan sukses membuat mata Rudi membola dengan ucapan Adrian yang frontal tanpa tedeng aling.


hingga mendapatkan lemparan kertas yang sudah di buat seperti bola oleh Rudi. tapi tak lama kemudian kedua lelaki beda usia itu pun tertawa kencang hingga terdengar sampai keluar.


Diana yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Eva dan Donita heran mendengar suara tawa bariton kedua bapak dan anak itu.

__ADS_1


"ya ampun, apa sih yang mereka bicarakan sampai tertawa lepas begitu"ucap Donita heran.


"sudah lama tidak mendengar melihat mereka duduk ngobrol sampai tertawa seperti itu" kenang eva.


"benarkah?" ucap Diana ragu.


"iya, karena setelah Adrian lulus SMA.


ayahnya sudah mengirim Adrian ke London untuk kuliah di sana dan jurusan yang di ambil juga,di tentukan oleh papah nya.mungkin dari situ Adrian sudah merasa dirinya terkekang karena tidak ada kebebasan memilih jalan hidup nya.tapi Adrian tetap mengikuti keinginan papah nya.dan menyelesaikan pendidikan nya hingga selesai. malah dengan dengan nilai yang membanggakan.tapi semua di luar expetasi" eva bicara panjang lebar tentang anak sulung nya itu.Diana Diam, menyimak cerita eva tentang suaminya itu.dia sekarang merasa beruntung bisa mendengar cerita tentang suami tampan nan tangguh nya itu.eva tersenyum melihat Diana begitu antusias mendengarkan tentang Adrian.


kemudian Eva melanjutkan ceritanya.


"Adrian pulang ke Indonesia bukan nya untuk duduk di kursi kepemimpinan perusahaan, tapi...Eva menahan ucapan nya.menghela nafas nya.


"tapi dia malah mencari dunia sendiri tanpa mau di atur, apa lagi oma nya mendukung keputusan nya. Adrian berubah menjadi pribadi yang keras dan pembangkang. makanya Dia selama ini tidak mau pulang kerumah ini,dia lebih suka hidup mandiri, dan rela kerja keras, memulai nya dari nol.


tapi memang dengan kemauannya serta kemampuan nya Adrian bisa membangun usaha yang terbilang cukup sukses" Eva tersenyum di sela cerita nya.


"sebagai orang tua, tentu bangga dengan prestasi dan hasil anaknya tanpa embel-embel harta orang tua.


tapi sebagai istri dari seorang Bagaskara mamah sangat sedih, karena mempunyai dua anak lelaki yang sudah dewasa, serta pendidikan yang tinggi.tidak sama sekali mau mengurangi beban yang ada di pundak orang tua.tapi seperti nya kedua lelaki itu sudah mencapai kesepakatan bersama, lihat saja, seperti nya suara tawa mereka itu sebagai tanda nya.semoga benar apa yang mamah pikir kan" cerita eva terhenti, karena di lihat nya suami dan putra sulung nya sudah keluar dari ruang kerja suaminya dengan wajah bahagia terutama wajah suaminya seperti ada beban yang sudah terangkat di pundaknya.


Eva tersenyum, ikut bahagia semoga apa yang di harapkan adalah benar.


"


"


#to be continued.

__ADS_1


__ADS_2