
Eva duduk di tepi ranjang di sisi Diana.
"apa sebaiknya kamu tidak berangkat ke Surabaya Ana? mamah khawatir dengan kondisi mu yang sedang hamil muda begini.. takut terjadi sesuatu di jalan, lihat sekarang diri mu, wajah mu pucat" ucap Eva dengan nada khawatir
Diana menatap sendu mamah mertuanya itu.
"baik lah mam, aku tidak jadi ke Surabaya.. untuk saat ini, mungkin nanti kalau sudah kuat kondisi ku saja"
mau tak mau Diana harus menuruti kemauan semua orang, toh itu juga demi kebaikan dirinya dan janin yang ada di rahim nya ini, pikir Diana seperti itu.
Adrian tersenyum,senang dengan keputusan istrinya itu.
"baik lah kalau begitu kamu istirahat saja di kamar dulu ya, nanti mamah suruh bi asih untuk membawakan sarapan mu ke kamar"
"iya mam"
lalu Eva berdiri, dan melangkah mendekati Adrian yang berdiri di belakang nya.Eva melirik ke arah putranya itu dan..
"ingat,jaga istri mu, jangan terlalu di bikin lelah,, kalau bisa puasa dulu biar aman" setelah berkata yang bikin Adrian nyengir kuda Eva dan Donita pergi keluar dari kamar itu.
Adrian duduk di sisi Diana.masih dengan wajah terpancar kebahagiaan dengan kehamilan istri nya.
" nanti sore kita kerumah sakit sayang, untuk pemeriksaan lebih lanjut kehamilan mu ini ya"
"hm" angguk Diana
kemudian Adrian mencium lembut kening istrinya itu lama.lalu kecupan nya berlanjut ke bibir Diana memberikan ******* singkat pada bibir atas dan bawah istrinya bergantian, awal nya hanya ciuman ringan,tapi karena balasan ciuman Diana terasa pro bagi Adrian, membuat pria itu kalap dan cumbuan nya menjadi liar.hingga Diana kewalahan dan nafasnya tersengal.
"mas" lirih Diana mendorong tubuh Adrian.tahu istrinya sudah kewalahan Adrian melepaskan ciuman nya dan terkekeh pelan menatap dalam wajah cantik istrinya itu. lalu menarik tubuh istrinya dan memeluk nya dengan penuh sayang.
"aku mencintai mu sayang, sangat" bisik Adrian di sela pelukannya terdengar berat di telinga Diana.
"Aku juga mas, aku lebih mencintai mu" Diana mengeratkan pelukannya pada tubuh besar suaminya melingkar kan tangan mungil nya di pinggang kokoh milik Adrian.
_______________
Melbourne Australi.
di gedung kantor BLUE SKY.
"hari seperti yang sudah di jadwalkan kita akan ada pertemuan untuk tanda tangan kesepakatan kerja sama dengan investor dari perusahaan Jhonson corp. boss" ucap Jhon pada Reno.
Reno mengangguk saja apa yang di katakan oleh asisten nya itu tanpa menoleh ke arah Jhon karena dirinya sedang sibuk dengan setumpuk berkas berkas yang ada di atas meja kerja nya.
__ADS_1
"anda sudah bekerja keras selama tiga bulan ini boss" Jhon masih berdiri di hadapan Reno. mendengar ucapan assisten itu,Reno menghentikan kegiatan nya dan mendongak kan wajah nya karena posisi Reno yang duduk di kursi kebesaran nya.sedangkan Jhon berdiri dengan tinggi menjulang di hadapannya.
"kenapa? apa ada yang salah?" tanya Reno datar.
"tidak" jawab Jhon singkat.
"so?" tanya Reno
"jangan terlalu di porsil tubuh mu bro, waktu mu habis di meja kerja saja,tanpa memberikan kesempatan untuk sekedar merilekskan otak mu"
Reno tersenyum miring mendengar ucapan Jhon.
"caranya?" tanya Reno dengan tatapan dingin ke arah jhon.membuat pria bule itu bergidik karena sang boss, yang lagi mode seperti gunung es,kaku,angkuh, dan dingin.
"have fun mungkin?" ucap Jhon berusaha tenang.
Reno terdiam sesaat, menatap tajam Jhon.Reno berpikir, mungkin ucapan Jhon ada benarnya dia perlu merilekskan pikiran nya, karena selama ini hidup nya telah banyak tersita dengan sesuatu yang membuat dirinya kacau, bukan kah kepergian nya ke negara kangguru ini selain untuk memimpin perusahaan keluarga nya,juga untuk menata hati nya yang sudah berantakan.
"saran mu boleh juga Jhon"
"benarkah?" ucap Jhon sedikit lega seakan baru mendapatkan udara untuk bernafas karena tadi keadaan di sekitarnya terasa pengab.
tak lama suara pintu di ketuk dari luar ruangan itu.
"ada apa Jenita?" tanya Jhon
"tamu dari Jhonson corp sudah menunggu di lobby tuan" jawab Jenita sekretaris Reno.
"oke, kamu arah kan langsung ke ruang meeting saja" ucap Reno.
"segera tuan, permisi"
kemudian Jenita keluar dari ruangan kerja Reno.
"Jhon"
"ya?"
"kamu ajah ya, yang nemuin utusan dari Jhonson corp itu ya?"
raut wajah Reno nampak gelisah memikirkan akan bertemu dengan gadis berwajah Diana.dari pemilik perusahaan Jhonson corp.
Jhon tersenyum tipis merespon ucapan Reno.
__ADS_1
"come on bro, kenapa dengan mu? are you nervous?"
"tidak"
"lalu?"
"aku hanya enggan saja, rasa nya aneh melihat wajah yang Aku kenal sangat baik, tapi kenyataannya bukan, seperti melihat sebuah fatamorgana di Padang pasir" keluh Reno pria tampan itu menghela nafasnya berat
lalu dia berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar, sambil menepuk pundak sang asisten.
"ya sudah,kita hentikan drama hidup ku ini, saatnya go to real life!" ucap Reno mantap.
"wow.. i'm so glad finally"ucap Jhon pelan, satu tangan nya mengusap usap dada bidang nya kemudian mengikuti langkah Reno keluar dari kantor Reno menuju ke arah ruang meeting untuk menemui tamu investor yang akan menanamkan modalnya di proyek pembangunan dua tower apartemen 10 lantai.yang rencananya proyek itu akan di realisasikan satu bulan kedepan.
Reno dan Jhon tiba di depan pintu ruang meeting, dengan mantap Reno langsung menarik handle pintu dan membuka pintu itu dan..
"selamat siang, selamat datang"
suara berat Reno menyapa beberapa tamu investor nya yang sudah hadir di ruangan itu.termasuk Jully Jhonson gadis berwajah mirip Diana direktur dari Jhonson corp.yang selalu membuat jantung Reno berdegup tak karuan.
semua berdiri di kala Reno memasuki ruangan itu, untuk menghormati sang tuan rumah.
"silahkan duduk" Reno pun duduk di kursi kebesaran nya, lalu mempersilakan duduk kembali para tamu investor nya. sesaat pandangan nya mengunci wajah gadis berwajah sang mantan.ada kerinduan dari sorot mata Reno menatap gadis itu.
"ada salah dengan wajah saya?" tanya Jully pada Reno merasa heran sekaligus canggung dengan tatapan Reno pada dirinya yang sedemikian rupa itu.
ucapan Jully memutus tatapan nya pada gadis itu, membuat Reno salah tingkah.dan, khemm! berdehem untuk menetralkan sikapnya tadi.
Jhon yang melihat sikap Reno seperti itu hanya tersenyum simpul, menggeleng kan kepalanya pelan.
dan ketika pandangan Reno dan Jhon yang duduk di sampingnya bertemu..
"relax..relax" Jhon berucap tanpa bersuara ke arah Reno.
sedangkan Reno hanya mengangkat kedua bahunya merespon ucapan Jhon.
"crazy" kembali Jhon bicara tanpa suara, dan kali ini mendapat tatapan tajam dari Reno.
"
"
To be continued.
__ADS_1