Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Dua Ibu


__ADS_3


"Ayah, kau sudah pulang." Anak kecil mungkin berumur tiga atau empat tahun terlihat berlari berjalan ke arahnya. Tubuhnya sedikit gempal dengan rambut lurus yang diikat ke belakang. Pipinya terlihat berisi seperti bakpao. Dia memakai dress selutut. Di belakangnya ada pengasuh yang mengikuti.


Ariana menelan Salivanya ketika anak itu berhenti berjalan dan menatapnya dengan lekat. Dia lalu mendekati ayahnya tanpa mengalihkan pandangannya. Ini pertama kalinya ayah membawa wanita selain ibunya ke rumah ini.


"My princess. Bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Mikael. Dia lalu mengikuti arah pandang karena tidak kunjung mendapat jawaban dari putrinya.


"Dia itu yang ayah ceritakan. Teman ayah dari nenek dan kakek."


"Oh, yang ...." Anak itu ingin mengatakan sesuatu tetapi lupa.


"Aku harus memanggilnya apa?"


Mikael melihat ke arah Ariana. Nampak berpikir terlihat dari kedua alisnya yang menyatu.


"Tante, Aunty, Bibi?" tanya Dita.


"Bibi," "Ibu," jawab Ariana dan Mikael bersamaan.


Ariana memundurkan kepalanya karena terkejut. "Ibu?" ulangnya pelan.


"Kau bisa memanggilnya Ibu." Mikael menatap Ariana yang nampak sedang mempertanyakan ucapannya.


"Kita akan pulang kembali ke rumah orang tuaku, akan sangat lucu jika panggilannya berbeda. Aku harap kau mengerti," jawab Mikael.


"Sama seperti Ibu," sela Dita tidak mengerti.


"Kalau ini Ibu Ariana kalau Ibumu Ibu Sheila, tetapi kau bisa memanggilnya dengan sebutan yang sama," terang Mikael.


Wajah Ariana nampak pias. Dia tidak bisa mengatakan apapun lagi saat ini. Menjadi ibu anak dari suaminya dengan wanita lain? Takdir apakah ini yang membawanya kembali pada masa kelam. Dia bodoh saja mau menerima permintaan Mikael ini tidak memikirkan jika dia punya keluarga lain juga. Nasi sudah menjadi bubur tidak bisa ditarik lagi kata-katanya.


Dita berjalan mendekati Ariana dengan langkah hati-hati. Berdiri tepat dihadapannya.

__ADS_1


"Apakah nanti Ibu juga akan tinggal di rumah yang lain?" tanya Dita membuat Ariana terpaku. Apakah Mikael dan wanita itu sudah berpisah?


"Ibu yang lain tinggal dengan anaknya?" lanjut anak itu.


"Dita...!" panggil Mikael. "Dia terlalu cerdas sehingga banyak pertanyaan aneh yang keluar. Aku juga suka bingung untuk menjelaskannya."


Oh, jadi nama anak itu Dita. Dia dan ayahnya hidup sendiri di rumah ini. Ini lebih baik dari pada menemukan kenyataan jika istri Mikael masih berada di sini. Dia istrinya, maksudnya wanita lain yang telah hidup bersama Mikael telah meninggalkan pria itu. Akhirnya, dia menemukan karmanya. Pikir Ariana, tertawa dalam hati dan senang. Terlihat jahat tetapi pria itu memang harus mendapat pelajaran dari kesalahannya.


"Tidak tahu, semua keputusan ada ditangan Ayahmu," jawab Ariana mengangkat bahunya, di melemparkan bola panas itu pada Mikael.


"Siapa namamu," tanya Ariana. Dia sebenarnya senang dengan anak kecil namun kali ini dia akan bersikap dingin.


"Dita," jawab pendek anak itu.


"Dita."


Mikael bisa bernafas lega sekarang. Ariana tidak begitu buruk dalam menanggapi putrinya tidak seperti pikirannya tadi. Dia pikir Ariana akan bersikap dingin dan ketus pada putrinya itu.


"Ayah akan ke kamar untuk mengganti baju terlebih dahulu."


"Jadi Ibu tinggal bersama Kakek Nenek?" tanya anak itu tiba-tiba. Ariana nampak berpikir. Apa yang Mikael katakan padanya sehingga anak itu berpikir bahwa dia hidup bersama dengan orang tua Mikael.


"Tidak tinggal bersama, kakek nenekmu adanya dikampung."


"Oh, rumah kalian berdekatan?" tanya anak itu lagi. Ariana menganggukkan kepalanya. Dia tidak bisa menerangkan apapun saat ini sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Apakah kakek nenekku berambut putih?" cecar anak itu lagi. Lalu serentetan pertanyaan khas anak-anak yang keluar dari imajinasinya mulai dia keluarkan dan Ariana memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan itu. Anak ini mirip sekali dengan ayahnya yang suka memberikan pertanyaan sulit dan beruntun.


"Jadi rumah itu besar, ada kakek kakeknya lagi dari ayah serta orang-orang lainnya? Apakah seperti istana besarnya?" Ariana menghela nafas. Dia seperti sedang diinterogasi oleh petugas hukum saat ini dan ingin segera mencari cara keluar dari pertanyaan itu.


"Rumah Kakek buyut sangat besar, Sayang, bisa untuk menampung satu desa." Ariana nampak lega mengetahui Mikael sudah datang dan memotong pembicaraannya dengan gadis kecil ini


"Wah... aku ingin melihatnya," seru Dita. Mikael terlihat memberi perintah pada pelayannya untuk membawakan dua koper ke dalam bagasi mobil dan satu tas lain di kursi belakang. Mereka seperti akan pindahan ke suatu tempat saja. Padahal dia yang wanita hanya membawa satu tas ransel biasa miliknya berisi beberapa stel baju saja.

__ADS_1


"Kita akan pergi ke sana."


"Yeay!" Anak itu berdiri di kursi dan melompat-lompat. Dita yang ceroboh hampir saja terjatuh tetapi Ariana memeganginya.


"Hampir saja, hati-hati nanti kau terluka." Dia melepaskan kembali pegangannya.


"Iya Ibu, aku akan duduk manis sekarang." Semua itu diperhatikan oleh Mikael. Entah apa yang ada dalam pikiran pria itu saat ini.


"Sebaiknya kita makan terlebih dahulu sebelum berangkat," kata Mikael.


"Aku sudah makan di kantin tadi," ujar Ariana menolak ajakan pria itu.


"Kau paling hanya makan bakso atau soto saja, kita makan berat dulu untuk mengisi perut."


Ariana membuka mulutnya sedikit, bagaimana pria itu tahu kebiasaannya yang hanya memilih salah satu dari dua menu itu di dalam kantin.


"Ayo, Dita kita makan terlebih dahulu." Dita lalu turun dan memegang tangan Ariana.


"Ayo Ibu, kita makan," ajaknya tersenyum imut. Ariana menarik tangannya dan berdiri. Dita nampak terkejut namun dia bersikap biasa saja dan berlari kecil, mendekati Ayahnya. Mikael menggendong anaknya ke ruang makan.


Ruangan itu terlihat terang karena sebagian temboknya terbuat dari kaca yang menghadap ke samping rumah dan pintu juga yang terbuat dari kaca ke arah belakang rumah. Sedangkan di sebelahnya ada dapur modern minimalis yang berwarna putih semuanya.


Mereka lalu duduk di sebuah meja makan bundar dengan kursi yang terbuat dari besi berwarna keemasan dan dudukan sofa yang empuk.


Ada beberapa menu di meja itu, sapo tahu dengan berbagai campuran makanan laut, sayuran hijau, dan ayam panggang.


"Maaf hanya ada ini," ucap pria itu.


"Ini lebih baik dari makanan anak kost," jawab Ariana mencium bau lezat makanan itu. Mereka lalu makan bersama. Dita terlihat lebih diam dari tadi mungkin karena perlakuannya tadi. Namun, itu lebih baik dari pada anak itu berharap banyak padanya.


"Hai, kalian ternyata, disini. Pas sekali aku membawakan ayam goreng crispy kesukaanmu Dita!'' ucap seorang wanita yang Ariana kenal karena sering wara-wiri wajahnya di televisi.


"Sheila Mariana," gumam Ariana.

__ADS_1


"Ibu datang ke sini lagi?'' ucap anak itu membuat Ariana menatap Mikael dan bertanya lewat pandangan mata.


__ADS_2