
"Tidak apa-apa, hanya luka kecil, Sayang." Elang tersenyum, memegang pipi Karina mesra dengan tangan yang lain. Zahra memalingkan muka saat melihat kejadian itu. Dia dan pasangannya di antar ke sebuah meja yang dipesan khusus untuk mereka.
"Aku akan ke belakang membersihkan luka ini. Nung, suruh pelayan membersihkannya."
Elang lalu pergi ke toilet. Dia masuk ke dalam sana dan membiarkan air keran membasahi lukanya sehingga air itu berwarna merah darah. Dia menatap pantulan wajahnya yang mengeras karena marah.
Sudah beberapa bulan ini dia mencoba untuk melupakan keinginannya dekat dengan Zahra. Namun, semakin ingin dilupakan semakin dia teringat akan wanita itu. Zahra seperti memainkan hatinya. Jika dia tahu bahwa keluarga mereka berseteru seharusnya dia mengatakan terus terang. Bukannya malah seperti main tarik ulur saja atau dia yang terlalu terbawa oleh perasaan.
Elang hendak keluar dari toilet, dia memutuskan untuk pergi dari cafe itu saja daripada membuat hatinya panas. Apakah ini cinta? Jika iya, dia tidak mau merasakannya karena sakit.
Elang membuka pintu toilet. Dia terkejut melihat Zahra berdiri bersandar di tembok sebelah pintu.
Wanita itu melihat ke tangan Elang yang masih basah dan berdarah. Kepalanya menggeleng seketika dia meraihnya dan membawa Elang ke belakang restoran. Elang terpaku dan hanya bisa melihat Zahra melakukannya.
Dia mendudukkan Elang di tangga depan pintu. Mengamati luka itu. Mengambil plester lalu menyematkannya di tangan Elang.
"Kau itu suka sekali terluka. Apakah tidak bisa berhati-hati dalam melakukan sesuatu? Pergi naik motor mengebut lalu tertabrak truk untuk tidak mati ditempat, sekarang sudah pulih kembali lagi membuat luka dan tidak langsung kau obati. Jika nanti infeksi bagaimana? Suka sekali cari penyakit!"
"Kau yang selalu merawat dan menyembuhkannya," kata Elang begitu saja. Zahra mengangkat wajahnya, sehingga tatapan mata mereka bertemu.
"Aku bukan perawat atau istrimu yang akan selalu melakukannya," ujarnya berdiri tapi tangannya di pegang oleh Elang.
__ADS_1
"Kalau begitu jadi istriku saja."
"Kau sedang mabuk? Sudahlah percuma bicara dengan orang gila sepertimu." Zahra menepis tangan Elang dan melangkah pergi.
"Aku memang tergila-gila padamu," ucapnya. Zahra menoleh ke belakang lalu memperlihatkan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.
"Simpan saja bualanmu itu untuk kekasihmu di depan sana!" ujarnya santai meninggalkan Elang yang sedang patah hati.
Elang memegang dadanya, nyeri dan ngilu seperti tertusuk pisau yang tajam dan rasanya tidak sesakit ini. Dia menunduk lesu.
Jika wanita itu bukan dari keluarga Toha saja, dia akan mengejar mati-matian tetapi dia adalah bagian dari keluarga itu. Mereka berselisih dengan keluarganya, dan mereka pun telah melihat bagaimana dia memukul Mike dan hendak membunuhnya. Elang mengacak rambutnya dengan frustasi.
Bersaing dengan adil? Tidak perlu keadilan dalam memperebutkan cinta.
Elang kembali lagi ke tempat duduknya di sana Karina berusaha menunjukkan perhatiannya dan dia menanggapi seperti orang nakal pada umumnya. Sedangkan, di kursi lain. Zahra makan siang dengan romantis bersama pria di depannya. Mereka terlihat berbicara dengan santai dan sesekali tertawa, membuat api kecemburuan semakin besar dalam diri Elang.
"Sehabis menyembuhkan luka kau membuat luka baru? Aku akan memaksamu mengobati luka yang telah kau torehkan. Jika tidak bisa, namaku bukan Elang Pramudya."
Zahra dan tunangannya melangkah keluar restauran menuju ke arah mobil pria itu.
"Ada apa, Ka Radit?" tanya Zahra ketika langkah pria itu terhenti. Leher Radit terlihat bergerak naik turun. Penglihatan Zahra mengikuti arah pandang netra tunangannya.
__ADS_1
Dia bulu matanya yang lentik bergerak-gerak tidak percaya dengan penglihatannya. Empat ban mobil pria itu telah kempes. Bagaimana bisa? Siapa yang melakukannya?
"Kau pulang dulu saja pakai taksi biar aku memanggil tukang bengkel kemari memperbaiki ban mobil ini."
"Tidak apa-apa kutinggal sendiri?" tanya Zahra lagi. Radit menggelengkan kepala. Zahra lalu pergi ke luar restauran untuk menunggu taxi yang dia pesan melalui sistem aplikasi.
Sebuah mobil berwarna silver berhenti di depan Zahra. Pintu kaca mobil di turunkan.
"Mba yang pesan taxi?" tanya pria di dalam sana. Zahra mengerutkan dahi.
"Iya tapi... "
"Mobil saya yang itu sedang rusak jadi saya mengenakan mobil lain. Maaf jika membuat bingung."
Zahra mengangkat kedua bahunya lalu naik ke dalam. Pintu taxi di tutup. Tadi mulai bergerak meninggalkan tempat itu.
"Pak, kau mau membawaku kemana? Ini bukan arah jalan yang sedang kutuju?" tanya Zahra mulai takut dan kebingungan.
"Arah ini yang akan di tuju Mba-nya," pengemudi taxi itu tersenyum smirk, Zahra bisa melihatnya dari kaca spion yang ada di depan. Hati Zahra ketakutan setengah mati membayangkan hal buruk apa yang dia akan hadapi nantinya.
"Turunkan saya!" bentak Zahra.
__ADS_1