Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Memberi Kesempatan


__ADS_3

Tiba-tiba Mikael menghentikan gerakannya tatkala pandangan mata mereka sudah diliputi gairah yang membara. Mereka saling menatap dengan nafas terengah-engah.


"Aku tidak bisa melanggar janjiku pada ayahmu walau aku ingin," kata Mikael dengan suara serak. Ariana ingin menjerit kesal agar Mikael melanjutkan tetapi dia menghormati keputusan pria itu. Dia mengagumi ketangguhan pria itu untuk menahan diri walau Ariana tahu sesuatu di bawahnya sudah mengeras dan bergerak.


Ariana menggigit bibirnya sendiri untuk menahan rasa yang ada.


"Maaf," kata Mikael mengecup bibir Ariana cepat tidak ingin terlarut dalam suasana yang akan membuat mereka lepas kendali. Walau tidak berdosa tetapi ada beban mental di sana. Dia tidak ingin mengecewakan Ayah Raina lagi yang mengira jika dia hanya bernafsu saja pada wanita ini.


Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam larut dalam pikiran masing-masing.


Akhirnya, mereka sampai di rumah. Barang pesanan mereka ternyata sudah sampai dan sudah dibawa ke depan kamar Mikael. Dita yang baru terbangun di bawa ke belakang. Ariana sendiri mengganti bajunya untuk membantu suaminya.


Di depan kamar Mikael ada Pak Slamet memegang rantang di tangannya. Dia langsung berdiri ketika melihat Mikael berjalan ke arahnya.


"Oh, Bang Slamet sudah lama?"


"Saya sudah menunggu sedari tadi."


"Saya di suruh istri membawa makanan ini buat Pak Mike," kata Slamet.


"Tidak susah repot-repot," kata Mikael santai.


"Tidak apa-apa, lagi pula hanya ini yang saya bisa untuk membalas kebaikan Pak Mike." Pria itu menunduk.


"Bagaimana kabar putri Bapak?"


"Sudah lebih baik. Istri saya yang menunggunya di rumah sakit," kata Slamet cepat tahu apa yang ada di pikiran Mikael.


"Anak-anak bersama neneknya di desa sebelah," lanjutnya lagi.


"Terima kasih juga karena Bapak sudah mengirimkan sembako ke rumah," Pak Slamet lalu menyeka air matanya. "Bantuan Bapak semuanya sangat berharga dari kami. Akan kami ingat selalu." Mikael menurunkan Dita dan memeluk Slamet.


"Kita sebagai manusia saling tolong menolong. Apalagi itu berkaitan dengan keselamatan dan nyawa, harus segera kita tolong. Anggap saja itu pemberian dari Tuhan, hanya saja saya beruntung karena diberi amanah untuk menyerahkannya pada Bang Slamet."


Beberapa orang yang sedang berada di sekitar mereka tersentuh dengan apa yang terjadi. Slamet tadi sudah mengatakan apa saja yang Mikael lakukan untuk keluarganya cuma-cuma.


"Apa ini!" tanya Mikael membuka nasi rantang itu.

__ADS_1


"Ini cuma nasi dengan lauk ikan seadanya," kata Slamet.


"Wah sepertinya seenak kemarin," ujar Mikael tersenyum pada Slamet.


"Ini cuma makanan biasa saja, Pak," kata Slamet malu dengan lauk yang dia berikan. Namun, Mikael sepertinya senang membuat dia merasa bangga dengan masakan istrinya.


"Sayang sekali tadi saya baru makan dengan istri saya di luar. Akan tetapi, nanti saya makan."


"Pak Mike sedang apa?"


"Oh, ini mau merapikan kamar yang akan saya tempati." Slamet sudah mendengar apa yang terjadi dari Mak Ijah tadi tentang keberadaan Mikael yang belum mendapatkan restu dari Pak Sanjaya.


"Kalau boleh saya bantu, Pak," tawar Slamet.


"Tidak usah," kata Mike.


"Tidak apa-apa anggap saja saya sedang mencicil hutang saya pada Pak Mike."


Setelah membujuk Mike lama akhirnya Mike memperbolehkan Slamet membantu. Ariana yang sudah mendengar pembicaraan mereka tadi menjadi tersentuh. Ternyata suaminya waktu itu pergi diam-diam karena membantu pekerja ayahnya.


"Ayuk," kata Ariana. Mereka lalu mulai mengecat kamar dan membersihkan kamar mandi. Setelahnya, Paryo yang baru pulang dari sawah ikut membantu membenarkan kran kamar mandi.


Akhirnya hingga sore pekerjaan itu selesai dibantu oleh pekerja yang lain. Mikael merasa senang karena setidaknya ada yang menerima kedatangannya untuk saat ini.


Setelah itu, pesanan makanan datang. Ariana memesan banyak makanan untuk mereka yang sedang bekerja dan juga untuk yang ada di sekitar mereka.


Mereka lalu makan bersama. Sedangkan Mikael memilih makan makanan istri Slamet untuk menghormatinya.


Setelah Maghrib mereka lalu pulang ke rumah masing-masing. Ariana membereskan seadanya terlebih dahulu. Lalu memutuskan sholat di rumah karena Mikael belum membersihkan diri.


Mereka sholat di sana bersama. Setelah itu mereka memasang kasur dan seprai agar Dita bisa tiduran. Tinggal membersihkan lantai yang terkena cat memasang karpet dan kasur lantai. Mikael akan tidur dibawah nantinya. Setelah itu baru merangkai lemari plastik dan memasukkan baju Mikael ke dalam.


"Biar aku yang menyelesaikan ini," kata Mikael memasang kabel listrik dan menata peralatan kerjanya seperti laptop dan juga meja berkaki rendah. Ini dia gunakan jika akan bertatap muka secara virtual dengan kliennya. Tinggal meletakkan beberapa benda lainnya.


Akhirnya, tengah malam pekerjaan itu baru selesai dilakukan. Tinggal beberapa pekerjaan kecil lainnya. Mikael melihat ke arah Ariana yang sudah tertidur pulas di samping Dita. Dia tersenyum. Lalu menyelimuti keduanya. Dia sendiri memilih untuk sholat malam terlebih dahulu baru membaringkan tubuhnya.


Mikael melihat ke arah handphonenya. Sheila berkali-kali menelfon mencari tahu keberadaannya dengan Dita. Mikael mengabaikannya lalu memblokir karena tidak ingin membuat masalah baru bagi hubungannya dengan Ariana. Lagipula Dita tidak membutuhkan Ibu seperti Sheila.

__ADS_1


Dia melihat chat lainnya. Ibunya pun melakukan panggilan hanya saja dia tidak mengaktifkan handphonenya sedari tadi. Ibunya menanyakan bagaimana kabar Ariana dan cucunya.


Mike : Apakah hanya menantu dan cucu Ibu saja yang ditanyakan?


Ternyata ada jawaban lain. Pertanda Ibunya belum tidur. Memang setelah sakit Ibu Siti seringkali sulit untuk tidur ketika malam hari. Atau terbangun di tengah malam lalu sulit memejamkan mata lagi.


Ibu Siti: Aku tahu kau akan baik-baik saja jadi aku hanya khawatir keadaan menantuku itu.


Mike : Aku cemburu 😃😃😃


Ibu Siti : Anak nakal, istri sendiri masih dicemburui.


Mikael mengirimkan foto Ariana dan Dita yang sedang tidur pulas sambil berpelukan. Ibu Siti mengirimkan emoji tersenyum senang.


Ibu Siti : Semoga keadaan kalian cepat membaik dan Pak Sanjaya mau menerimamu seutuhnya untuk kembali menjadi menantu yang diakui.


Mike : Amiin. Aku juga rindu bisa satu kamar lagi dengan Ariana.


Ibu Siti : Cinta itu memang harus dibuktikan dan Pak Sanjaya hanya butuh bukti keseriusanmu untuk kembali bersama Ariana.


Mike : Iya Bu, aku mengerti dan aku hormati keputusannya.


Ibu Siti : Lalu kenapa bisa kau memfoto Ariana jika kalian tidak tinggal satu kamar.


Mike : Dia ketiduran di kamarku, semoga Ayahnya tidak marah nanti.


Ibu Siti : Sudah malam tidur sana.


Mikael lalu mematikan handphonenya lalu menyambungkan dengan pengisi daya.


Sedangkan dia lalu menutup matanya.


Di luar kamar Pak Sanjaya terdiam. Dia ragu untuk membuka pintu itu dan memilih membiarkan anaknya tidur di kamar Mikael.


"Kenapa Yah?" tanya Elang yang tidak sengaja melihat Ayahnya berjalan dari luar kamar Mike.


"Apakah Ayah sudah memaafkan pria itu sehingga membiarkan mereka tidur satu kamar?"

__ADS_1


__ADS_2