
Pagi hari sekali ketika mata Mikael baru tertutup Ariana mulai membangunkannya. Lewat panggilan, dia masih belum membuka matanya tetapi sudah mendengar apa yang wanita itu katakan.
"Oh Tuhan, bagaimana aku membangunkannya. Ini hari pertama dia di sini jika terlambat kakek bertambah murka nantinya." Ariana lantas mencondongkan tubuhnya ke arah Mikael. Menepuk ringan lengan pria itu.
"Profesor, bangun, ini sudah pagi, kita harus pergi bersiap ke mushola," panggil Ariana. Mikael membuka matanya dan tersenyum membuat kulit Ariana meremang seketika karena jarak wajah mereka sangat dekat.
Dadanya kembali berdegub dengan kencang.
"Aku akan pergi ke musholla terlebih dahulu." ucapnya dengan canggung.
"Kita pergi bersama." Mikael bangun dan mengambil wudhu setelah itu dia keluar untuk mengambil sarung di koper. Ariana lantas masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Mereka lalu keluar dari kamar bersama.
Mereka lalu turun ke bawah ke arah masjid yang ada di sebelah rumah. Keluar lewat pintu samping.
"Ameena aku tidak membawa mukena," ucap Ariana ketika berpapasan dengan adik iparnya.
"Tunggu, Ariana, eh Kakak ipar. Aku akan mengambilkannya di kamar." Beberapa saat kemudian Ameena membawa mukena untuknya. Di saat itu, Kakek Toha berjalan mendekat.
"Selamat pagi, Kakek," sapa Ariana.
"Pagi, ayo kita ke masjid," pria tua itu menatap Mikael dengan tajam lalu melangkah terlebih dahulu diikuti oleh cucu-cucunya. Dalam hatinya merasa sedikit lega karena cucu pertama keluarga ini akhirnya pulang kembali ke rumah bersama dengan istrinya.
Kakek Toha adalah orang yang dituakan di daerah ini. Selain itu dia adalah imam di masjid ini membuat dia disegani oleh banyak orang. Cara dia mendidik keluarganya menjadi rujukan setiap orang yang mengenalnya. Maka ketika Mikael pergi bersama wanita lain dan meninggalkan istrinya begitu saja membuat pukulan besar baginya. Dia begitu malu dan merasa gagal telah mendidik cucunya itu.
Dia juga merasa bertanggung jawab dengan kehidupan Ariana. Namun, ketika orang tua Ariana mulai menyadari ada yang salah pertengkaran dan pertikaian berdarah pun terjadi. Keluarga Ariana memutuskan tali silaturahmi dengan mereka dan membenci keluarga Toha. Mereka tidak membolehkan anggota keluarganya untuk berbicara dengan keluarga Toha. Ariana langsung diminta memutuskan kontak dengan mertuanya.
Kakek Toha sudah berusaha meminta maaf tetapi tidak pernah diterima oleh Makmur Sanjaya, ayah Ariana.
Mereka lalu melakukan sholat bersama. Warga yang melihat Ariana dan Mikael datang mulai menyapa lalu kasak kusuk di belakang pasangan itu.
Mereka selanjutnya duduk di teras belakang rumah. Ariana memilih pergi ke kamar memeriksa Dita sudah bangun atau belum.
__ADS_1
Mikael duduk di kursi rotan menatap ke arah kebun bunga. Aris sendiri memberi makan pada beberapa burung Bluebird dalam kandang besar.
"Jadi kau berani pulang lagi setelah kami usir beberapa tahun silam!" ucap Kakek Toha mengawali pembicaraan ini.
"Aku sudah membawa pulang Ariana kembali."
"Membawa pulang bukan berarti bersama kembali kan?" Pria tua itu menyeruput teh hangat miliknya.
Perkataan Kakeknya menampar wajah Mikael. Kakeknya seperti bisa membaca pikiran orang. Dia selalu mati kutu bila melakukan kesalahan di depan pria yang telah berumur 75 tahun itu.
"Aku... sedang memulai kembali dari awal dan kami sedang berusaha untuk saling mengenal terlebih dahulu," ucap Profesor Mikael menunduk jika sedang bersama kakeknya.
"Jika niatnya baik kami akan mendukung. Jika kau hanya ingin mempermainkan kami sebaiknya kalian pergi dari sini secepatnya sebelum kemarahanku meledak."
"Ariana gadis baik tidak seharusnya kau permainkan dia. Hargai dia dan perlakukan dia dengan baik, kau tidak akan pernah menyesal."
Mereka lalu terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.
Sedangkan di kamar Dita sedang menangis sendiri. Seorang pelayan yang mendengar menemaninya. Ariana masuk ke kamar dan menyuruh pelayan itu pergi. Melihat Ariana, Dita langsung memeluknya membuat wanita itu terkejut.
"Aku takut," ucapnya terisak. Ariana hendak memeluk anak itu balik tetapi tangannya terlihat ragu. Akhirnya dia tidak tega dan membalas pelukan gadis kecil itu.
"Tidak apa-apa ini rumah Kakek Nenek, kau aman berada di sini," terang Ariana.
"Dimana Ayah?" ucapnya masih menangis.
"Sedang bersama dengan Kakek Buyut. Kau ingin bersama mereka?" Dita menganggukkan kepalanya.
Di saat itu, Mikael masuk ke dalam kamar.
"Lihat ayahmu sudah datang," kata Ariana melepaskan pelukannya pada Dita. Dia lalu bangkit dan mundur menjauh dari anak itu. Katakanlah dia jahat tetapi dia tidak ingin dekat dengan Dita. Bukan karena membencinya tetapi mengingat perbuatan ayahnya yang membuat hidupnya hampir saja hancur.
__ADS_1
"Tadi dia menangis dan aku mencoba menenangkannya. Aku akan ke dapur menyiapkan sarapan," kata Ariana.
"Terima kasih."
"Katakan nanti ketika semua telah selesai. Aku sudah merasa sesak membohongi semua orang. Percepat kunjungan ini." Ariana pergi meninggalkan Mikael dan Dita.
"Ibu pasti senang jika melihatmu kembali, bukan begitu Kakek?" ujar Ameena.
"Kau benar, dia akan langsung bangun dari komanya," kata Kakek Toha memakan sarapannya.
Mikael datang bersama dengan Dita yang sudah rapih dan wangi. Anak itu terlihat lucu dan menggemaskan. Namun, semua orang enggan untuk menyapa atau berkenalan dengannya. Ameena sebenarnya ingin menyapa keponakan cantiknya tetapi takut dengan Kakek Toha.
Ariana menyadari ada salah dengan sikap mereka yang kaku ketika Ayah dan anak itu masuk ke ruang makan.
"Kenalkan sayang mereka adalah keluarga Ayah, katanya kau ingin bertemu dengan mereka. Ini adalah adik ayah Tante Ameena dan ini suaminya, Om Aris." Ameena tersenyum canggung pada Dita lalu melanjutkan makannya begitu pula dengan suaminya.
Mikael lalu mendekati Kakeknya.
"Ini Kakek buyut, beri salam padanya," kata Mikael namun wajah kecut dan masam milik Kakek Toha membuat Dita takut. Dia terdiam.
"Jangan kau paksa anak dari hubungan harammu untuk masuk ke dalam keluarga ini," Kakek Toha lalu bangkit dan meninggalkan makannya.
Mikael terpaku mendengar kata-kata Kakeknya. Jika dia yang diperlakukan buruk dia terima tetapi ketika anaknya yang tidak tahu apa-apa di salahkan atas kesalahannya maka dia merasa sakit. Matanya memerah seketika.
Ameena dan Aris membuka mulutnya, tanpa bisa mengatakan apapun. Mereka tidak berani memberi tanggapan dan mengatakan keberatannya di depan orang tua yang paling mereka hormati.
Sedangkan Ariana ikut merasakan hancurnya Mikael. Dia bisa melihat Mikael sedang menahan diri dengan mengepalkan tangannya erat sehingga otot-otot di sekitarnya terlihat keluar. Wajahnya pun terlihat mengeras.
Ariana bangkit dan berjalan mendekati Mikael yang nampak sangat terpukul oleh kata-kata kakeknya. Tangannya dengan lembut memegang lengan Mikael. Pria itu menatapnya, Ariana bisa merasakan kepedihan ada di dalamnya.
Ariana mengedipkan matanya agar Mikael bersabar. "Biarkan Dita makan bersamaku." Ariana tidak tega melihat Dita yang berharap mendapat kasih sayang dari keluarga ini malah terkesan diabaikan.
__ADS_1
Sedangkan Mikael terpana, menyadari kesalahannya, apa yang dikatakan kakeknya benar. Ariana wanita baik dan tidak pantas untuk disakiti.