
"Aku bukan Kakeknya," tukas Sanjaya lirih tegas tetapi terdengar jelas oleh Ariana. Ariana hanya menelan ludahnya. Dia lalu kembali lagi ke ruang tengah.
"Biar aku bawa baju Dita ke kamarmu," kata Mikael. Ariana mengangguk. Sebelum mereka melangkah ke atas Paryo, orang kepercayaan Sanjaya, memanggil Ariana.
"Kenapa, Pak?" tanya Ariana.
"Bapak memberitahu jika kamar Den Mike berada di belakang," kata pria itu menunduk tetapi dengan raut wajah yang terlihat ragu dan cemas.
"Saya akan antar ini ke kamar Ariana setelah itu saya akan ke bawah melihat kamar yang akan ditempati."
"Ya, sudah kalau begitu biar saya menunggu di sini saja," ucap Paryo.
Ariana lalu melangkahkan kaki di depan Mikael. Dita bercerita banyak tentang Keluarga Mikael yang memberi perhatian sewaktu Mikael dan Ariana tidak ada di sisinya.
"Ini kamar yang akan kita tempati," ujar Ariana memperlihatkan kamarnya yang berwarna Salem. Terkesan lembut dan kewanitaan. Mikael menghela nafas ketika melihat tempat tidur Ariana. Ariana mengikuti arah pandang Mikael dan tahu apa yang ada dalam pikiran pria itu.
"Tidak ada mainan di sini tetapi Ibu masih menyimpan banyak boneka," kata Ariana memperlihatkan satu rak tinggi berisi koleksi boneka miliknya.
"Wah...," ucap Dita minta turun dari gendongan Ariana.
"Bonekanya lucu-lucu Ibu," seru Dita senang. Mikael lalu berdiri di sebelah Ariana dan memeluk pinggangnya. Ariana menoleh, bertemu tatap dengan manik mata cokelat Mikael. Keluarga Mikael adalah campuran keturunan Arab sehingga wajah serta tubuhnya sebagian besar mirip orang sana.
Mikael mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah telinga Ariana.
"Aku rindu, namun sepertinya harus ditahan hingga setahun lamanya," katanya. Ariana langsung mencubit keras pinggang Mike.
"Setahun bukan waktu lama karena kita bisa melewati enam tahun tanpa bersama," sindir Ariana.
"Kau membuat mood ku turun saja."
"Lagipula kau yang menyetujuinya," ujar Ariana lagi.
"Ya, kita harus bersabar. Kalau begitu aku turun dulu untuk membawa barangku ke kamar yang akan kutempati." Berada di kamar bersamamu membuat aku gerah dan akan menyiksaku," kata Mikael.
"Dita, boleh Ayah minta tolong?" tanya Mikael.
__ADS_1
"Iya, Ayah." Dita lalu menengadah melihat ke arah Ayahnya.
"Kau balik badan dulu lihat ke arah boneka di rak itu. Jangan membalikkan tubuh sebelum Ayah panggil."
"Okey," kata Dita menuruti apa yang Ayahnya katakan.
Mikael dengan cepat memutar tubuh Ariana sehingga mereka saling berhadapan dan bibirnya merengut bibir Ariana yang basah. Dia ********** habis. Penuh kerinduan, gairah dan hasrat, juga rasa putus asa karena mereka tahu tidak bisa melakukan lebih.
Ariana yang tidak terbiasa dengan ritme cepat Mikael dibuat terengah-engah sehingga tanpa sadar suara erangan kecil keluar dari tenggorokannya.
"Ibu kenapa?" tanya Dita. Mereka langsung menghentikan gerakan karena terkejut. Mikael keluar pintu tanpa pamit dan Ariana menetralkan perasaannya yang bercampur aduk menjadi satu.
Wanita itu mengusap bibirnya sembari tersenyum kecil. "Tidak apa-apa."
"Kenapa Ayah keburu keluar, Bu?"
"Ayah harus merapikan kamar yang akan dia tempati."
"Sekarang, kita tata bajumu di lemari milik Ibu," ajak Ariana pada Dita. Dita lalu menurut.
"Bapak, tinggal di sini?" tanya Mikael dengan sopan walau dia tahu pria itu yang telah mencegahnya masuk ke dalam rumah waktu itu.
"Ya, bersama dengan istri saya. Kami tinggal di rumah kecil di belakang rumah utama."
Mereka lalu berjalan melewati dapur yang luas menuju ke deretan kamar para pekerja perkebunan. Kebun Sanjaya memang luas dan lebar. Dia adalah Tuan tanah di daerah ini.
"Ada berapa pekerja di rumah ini, Pak?" tanya Mikael antusias.
"Kalau yang tinggal di sini hanya sepuluh pekerja tiga pekerja wanita mengurus dapur dan membersihkan rumah yang tujuh pria. Sebagian sebagai kepala perkebunan dan sebagian mengurus penjualan di samping rumah." Mikael menganggukkan kepalanya.
Mereka lalu berhenti di sebuah pintu dengan sebagian kayu yang telah mengelupas. Dia mulai memutar kunci di pintu lalu menarik handle pintu ke bawah.
Mikael sedikit terkejut tetapi dia harus menerima ujian apapun itu di rumah ini. Ini bukan seperti kamar tepatnya namun gudang yang telah lama tidak digunakan.
Banyak sarang laba-laba, penuh barang yang tidak berguna dan berdebu. Tembok yang terkelupas di mana-mana. Bau kamar apek dan pengap. Dia melihat ke arah jendela yang telah di paku dan meneliti apa yang rusak. Ternyata hanya tidak punya kunci rumah.
__ADS_1
"Maaf Den, saya hanya menuruti perintah Tuan Sanjaya."
"Tidak apa-apa, saya akan membereskannya. Hanya saja, saya tidak tahu harus membawa barang-barang itu kemana?" tanya Mikael berusaha untuk sabar.
"Keluar saja Tuan nanti biar saya bantu singkirkan, tetapi untuk kamar ini tidak ada yang boleh membantu Tuan untuk merapikannya. Maaf," ucap pria itu menunduk tidak enak.
Mikael tersenyum lebar. "Santai saja, Pak. Dulu di Amerika saya juga harus membereskan rumah yang akan saya tempati sendiri. Ini bukan masalah besar."
Paryo mengangkat wajahnya. Tidak mengira jika pria itu bertingkah seperti tidak apa-apa. Bukankah dia adalah cucu dari Pak Haji Toha yang kaya raya itu. Pasti terbiasa dengan kehidupan yang mewah dan menyenangkan. Ini pasti menjadi tantangan berat baginya. Namun, tidak yang terjadi malah sebaliknya. Mikael terlihat santai melihat barang-barang yang ada.
Dia lalu melepaskan sepatu mahal di kakinya meletakkan di depan pintu. Membuka kemeja sehingga yang tersisa adalah kaos dalaman yang ketat memperlihatkan bodynya yang bagus dan bersih.
Dia mulai mengangkat barang-barang itu.
"Kamar mandi di mana, Pak?" tanya Mikael.
"Di dalam ada, Den. Tetapi sepertinya butuh dibersihkan dan diperbaiki karena lama tidak digunakan. Kalau di luar ada, letakkan di pojokan lorong. Milik umum, Den Mike harus mengantri jika ingin menggunakannya.
"Okey, saya mengerti."
"Saya pergi dulu, Den. Saya mau mengecek pengairan di kebun. Takut air dari sungai meluap ke saluran irigasi lalu masuk ke dalam kebun yang bisa membuat pohon cabainya yang kami tanam mati karena tanah terlalu basah."
"Oh, ya sudah. Kalau begitu bapak teruskan saja pekerjaannya."
"Iya Den."
"Den saya dengar Den Mike bawa anak Slamet ke rumah sakit dan membiayainya?" tanya Paryo penasaran. Mengapa Mikael yang baru pertama bertemu dengan Slamet mau membantu orang yang bukan apa-apanya?
"Saya hanya membantu sebisa saya. Kalau anak saya sakit juga perasaan takut dan khawatir itu ada jadi saya bisa membayangkan ketakutan yang dirasakan olehnya.
"Den Mike sebetulnya baik ya?" lanjut Paryo.
"Wah, tidak sepenuhnya baik. Saya juga banyak salah. Namanya juga orang yang sedang khilaf."
"Sangat cocok dengan Non Ariana hanya saja... ," Paryo menghentikan perkataannya.
__ADS_1
"Hanya saja apa, Pak?"