
"Kalau begitu terpaksa aku akan membawamu ke rumahku, memanggil penghulu dan mengajakmu menikah langsung."
"Sepertinya kau memang sakit jiwa."
"Pilih yang mana?" tanya Elang.
"Baiklah kita makan," kata Zahra. Sudah ketiga kalinya pria ini maksa mengajaknya makan. Untuk pertama dan kedua kalinya, Zahra merasa senang karena diperhatikan oleh pria tampan tetapi setelah dia tahu siapa Elang dia menghindarinya. Namun, Elang selalu saja mengejarnya. Terkadang menunggunya kerja di rumah sakit. Walau dia hanya duduk seperti orang yang sedang menunggu pasien.
Akhirnya mereka makan di sebuah warung lesehan dengan pemandangan asri di sekitarnya.
"Kau mau pesan makanan apa?" tanya Elang melihat buku menu di depannya.
"Aku, tidak ingin makan," kata Zahra.
"Kami pesan dua ayam panggang dan satu es jeruk hangat untuknya, sedangkan untukku segelas minuman soda."
"Luka operasi di perutmu belum pulih benar jadi sebaiknya kau hindari minuman seperti itu. Untuknya, teh hangat saja," sela Zahra.
Pelayan itu langsung undur diri untuk mengambil pesanan.
"Kau sangat perhatian," ungkap Elang menatap Zahra dengan terpesona.
"Aku hanya kasihan bila kau masuk ke rumah sakit dan merepotkan suster yang lain."
"Apa karena kau cemburu jika aku disentuh wanita lain?" goda Elang. Zahra menghela nafas kesal. Ingin sekali dia memukul pria yang terlalu percaya diri itu.
"Aku janji tidak akan ada yang menyentuhku, kau akan menjadi yang pertama dan terakhir."
Zahra menggaruk kepalanya.
"Bisakah pikiranmu itu tidak mesum?" ujar Zahra dengan darah yang mendidih.
"Entahlah, aku hanya selalu membayangkannya ketika kau melakukannya dulu."
Zahra meletakkan kepalanya di meja seraya mengepal erat tangannya sendiri.
"Kau sadar tidak sih jika tingkahmu ini membuatku malu dan merasa kesal."
"Maaf, tapi aku tidak tahu bagaimana untuk bisa menyentuh perasaanmu. Segala cara sudah kulakukan agar bisa mendekatimu tetapi kau nampak tidak peduli."
"Kau yang menyelamatkanku dari kecelakaan itu dan kebetulan pula kau juga yang merawatku di rumah sakit. Lalu salahkah aku bila jatuh cinta padamu?" kata Elang berterus terang untuk yang kesekian kalinya.
Seorang pelayan datang membawa pesanan mereka dan menatanya di meja lalu pergi lagi.
__ADS_1
Zahra memang yang menolong Elang ketika dia tertabrak kendaraan besar. Sewaktu Elang hendak menutup mata yang dilihatnya hanya wajah Zahra yang panik sedang memangkunya dan berteriak, meminta tolong pada semua orang agar cepat membawanya ke rumah sakit.
Semenjak itu, Elang seperti terobsesi pada Zahra karena baginya Zahra yang membawa nyawanya kembali ke dunia ini.
"Kemarin aku mengejarmu sampai ke rumah sakit tempat kerjamu di Jakarta. Namun, kata orang kau belum bekerja di sana."
Zahra tersedak minuman ketika mendengar hal itu.
"Kau gila!" cetus wanita itu.
"Kau sudah mengatakan aku gila untuk ke tiga kali ini," gumam Elang. "Tetapi aku memang tergila-gila oleh cintamu."
"Kau belum tahu siapa aku jadi kau mengatakan itu."
"Aku akan menerimamu apa adanya karena bagiku kau memang tercipta hanya untukku."
"Aku hanya seorang anak yatim, yang tadinya tinggal di panti asuhan lalu diangkat oleh seorang Tuan Kaya Raya sehingga aku bisa menempuh pendidikanku hingga sekarang."
"Aku tidak peduli masa lalumu yang ku pedulikan adalah masa depan kita nantinya."
"Kau yakin?" tanya Zahra meringis.
"Kenapa? Kau ragu?" ujar Elang makan ayam panggang di depannya.
"Bagaimana kau tahu?"
"Apa yang tidak ketahui tentangmu?" ujar Elang bangga.
"Kau belum tahu siapa aku?" ujar Zahra.
"Itu pengecualiannya karena kau sering kali tinggal di mes tempatmu bekerja."
"Coba katakan siapa dirimu?" ujar Elang.
"Habiskan dulu makan mu," kata Zahra. "Aku khawatir kau tidak bisa makan setelah ini."
Elang makan dengan bahagia karena ditemani oleh pujaan hatinya.
"Okey, aku sudah selesai makan. Sekarang katakan siapa dirimu dan dimana alamatmu, biar aku mengantarmu pulang."
Zahra lalu menuliskan sebuah alamat di selembar kertas dan diberikan kepada Elang. Pria itu mengernyitkan dahi ketika membaca alamat dimana tempat tinggal Zahra.
Di daerah tempat tinggal Mikael. Mungkin, hanya kebetulan semata.
__ADS_1
"Siapa nama orang yang mengangkat mu anak."
"Kau datang saja kesana dan temui aku, nanti kau akan tahu siapa keluarga angkatku. Sebaiknya aku pergi sekarang, jika tidak mereka akan mencariku."
"Ya, sudah terimakasih atas waktunya. Aku pasti akan datang menemuimu dan meminangmu."
"Aku tunggu jika kau memang berani melakukannya," kata Zahra tersenyum lebar. Seperti menyimpan suatu rahasia.
Elang menaikkan satu alisnya ke atas tetapi dia membalas senyuman itu. "Aku pasti akan datang kesana dan menemuimu karena aku adalah pria sejati."
Zahra mengangguk. Menahan tawanya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi pria itu jika tahu dia berasal dari keluarga Toha, keluarga yang paling dia benci. Zahra juga pernah melihat bagaimana pria itu memukul Kak Mike secara membabi buta.
Mikael mengantarkan Zahra sampai pergi dengan motornya. Dia lalu naik dengan ojek menuju ke tempat parkir mobil miliknya seraya memandangi alamat rumah Zahra. Wanita yang dia kejar selama beberapa bulan ini.
Sedangkan, di tempat lain Mikael membawa Dita pergi ke rumah Ariana.
"Apa masih jauh rumah Ibu?" tanya Dita.
"Sebentar lagi sampai di rumah Ibu. Kau harus mematuhi setiap kata orang di sana dan jadi anak yang baik. Jangan sampai membuat ibumu sedih," kata Mikael.
"Aku akan jadi anak baik yang cantik," kata Dita dengan gaya imut khas anak kecil. Meletakkan dua telunjuk di pipinya yang berlobang.
Mikael menyentuh kepala Dita dengan lembut.
"Ada siapa saja di sana, Yah?"
"Ada, Ayah dari Ibu dan Kakak laki-lakinya."
"Berarti aku bisa memanggil mereka dengan sebutan Kakek dan Paman?" tanya Dita.
Mikael ragu dua pria itu akan menerima Dita dengan baik nantinya. Walau mereka mengijinkannya tinggal di sana.
"Kita nanti tanya pada Ibu, Okey!" kata Mikael.
Mereka akhirnya sampai di depan pintu utama rumah Sanjaya. Ariana yang mendengar suara mobil Mikael langsung berlari keluar rumah untuk menyambutnya. Hal itu, dilihat oleh Sanjaya. Dia bisa menebak jika Ariana memang sangat menyukai Mikael dan sangat mencintainya.
"Ibu," teriak Dita membuat semua orang yang ada di tempat itu terkejut ketika seorang anak memanggil Ariana dengan sebutan Ibu. Begitu pula dengan Sanjaya. Dia menatap anaknya yang menyambut kedatangan anak yang bukan darah dagingnya itu dengan ramah layaknya kepada putrinya sendiri. Tidak ada yang terlihat dibuat-buat semuanya nampak natural.
Sanjaya lalu masuk ke ruang sebelah, di mana para petani sedang memasok hasil bumi mereka kepadanya. Dia larut dalam transaksi jual beli itu.
"Ayah," panggil Ariana mendekat ke arah Sanjaya sembari menggendong anak Mikael. Semua orang menatap ke arahnya tapi Ariana tidak perduli.
"Kenalkan ini anakku, Dita. Dita kenalkan ini, ayah dari Ibu, Kakek Jaya," ujar Ariana. Wajah Sanjaya terlihat merah padam.
__ADS_1