
Akhirnya masalah insiden tabrakan kecil berbuntut panjang. Ariana memutuskan meninggalkan Mikael sendiri dan pergi ke universitas dengan taxi.
"Aku akan mengganti kerugiannya," ujar Mikael pada pengemudi mobil di belakangnya. "Ini kartu namaku kau bisa meminta ganti rugi padaku dengan datang ke alamat ini."
Ariana nampak tidak sabar dia melihat ke arah jam tangannya beberapa kali. Beberapa menit lagi kelasnya akan dimulai. Ketika melihat tukang ojek lewat dia langsung menyetopnya.
"Aku pergi dulu, sudah siang," kata Ariana pamitan pada Mikael lalu pergi begitu saja tanpa persetujuan darinya.
Mikael ingin menghalangi namun seorang polisi datang dan perdebatan dimulai lagi. Mikael hanya pasrah melihat Ariana pergi dari hadapannya. Niat hati dia ingin berangkat bersama agar tidak ada pria lain yang mendekati wanita itu. Terutama Adam.
"Ada apa ini, Pak?" tanya Polisi menepuk pundak Mikael.
Beberapa menit kemudian Ariana telah sampai di kampus.
"Ariana tunggu!" panggil Adam ketika Ariana berjalan menuju ke ruang kelasnya.
"Ariana sepertinya orang tuaku setuju dengan pernikahan kita," terang Adam bahagia berjalan mundur melihat ke arah Ariana.
"Mereka mengatakan jika aku bisa menyelesaikan kuliahku tahun ini dan mengerjakan proyek."
"Kau tahu aku sangat bahagia sekali. Aku yakin bisa melakukannya dalam waktu singkat."
"Setelah itu, aku menikahimu dan kita bisa meneruskan sekolah di luar negeri."
__ADS_1
"Bukankah itu rencana yang bagus dan hebat."
"Adam, sepertinya kita harus bicara serius mengenai masalah ini. Ada beberapa hal yang ...." Perkataan Ariana terhenti ketika namanya dipanggil oleh seseorang. Dia menoleh ke asal sumber suara.
"Kak Elang," gumamnya setelah melihat siapa yang datang.
"Aku mencarimu di tempat kost namun kau tidak ada di sana."
"Aku ...." Ariana bingung untuk menjawabnya.
"Apakah nama Kakak Elang? Aku pernah melihat foto Kakak yang disimpan oleh Ariana."
"Ya," kata Elang melepaskan kacamatanya dan menatap Adam dari bawah hingga ke atas.
Adam terpana dengan tampilan kakak Ariana yang macho dan manly. Dia memakai kemeja kotak yang di lipat bagian lengannya dan kaos putih untuk dalaman. Celana jeans yang robek bagian kaki dan sepatu kets hitam. Garang, tipe pria dengan gaya lumbersuksual yang santai namun memikat.
"Kak kenalkan ini Adam dan Adam ini Kakakku yang nomer dua Kak Elang." Dua pria itu lantas saling berjabat tangan.
"Kelasku akan dimulai lima menit lagi. Apa aku sebaiknya tidak masuk," ucap Ariana melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya.
"Kalian masuk saja biar Kakak menunggu di luar sini, sekalian cari cewek kota yang cantik."
__ADS_1
"Ih, jangan genit-genit." Ariana menyubit lengan Kakaknya.
"Aku juga ingin bicara dengan Kakak." Sela Adam. Elang menganggukkan kepalanya. Mereka berdua lalu pergi meninggalkan Elang.
Beberapa wanita terpana melihat Elang yang duduk di bawah pohon sembari melihat layar pipih ditangannya. Dia datang ke Jakarta karena suatu urusan pribadi. Berkaitan dengan hatinya yang sedang mencari kekasih yang menghilang pergi ke kota ini.
Mereka berkenalan di salah satu aplikasi mengadakan date di daerah asalnya dan menjalani hubungan jarak jauh. Kini Adam ingin mencari jejaknya di kota ini sekalian melihat keadaan Ariana.
Gadisnya itu menghilang tiba-tiba tanpa jejak dan dia penasaran dengan wanita itu. Apakah dia telah menemui pasangan lain yang cocok dan meninggalkannya atau dia sedang ada dalam suatu masalah hingga tidak menghubunginya.
Netra Adam mulai mengamati universitas ini. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada satu mobil sedang yang baru saja masuk ke halaman parkir khusus pegawai universitas. Seorang pria keluar dari mobil mengenakan celana kain yang rapi dan kemeja putih panjang. Satu tangan di masukkan ke dalam saku celananya. Berjalan menuju ke arah Elang.
"Elang," gumam Mikael. Elang berdiri dan mengusap ujung hidungnya. Wajahnya menampilkan ketidaksukaan ketika menatap pria yang ada di hadapannya.
Secara umur, umur Mikael memang lebih tua tetapi dia menghormati Elang karena dia adalah kakak dari Ariana.
"Kak, apakah sedang mencari Ariana?" tanya Mikael.
"Tidak usah basa-basi segala. Apa kau kerja di sini?" cecar Elang.
"Aku mengajar di sini, jika kakak berkenan mari ikut ke ruangan saya."
"Hmmm," Elang tersenyum mengejek. "Oh, aku tahu mengapa Ariana menurut padamu karena aku paham bagaimana cara berpikir otak kotor sepertimu."
__ADS_1