Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Menikah


__ADS_3

Waktu pernikahan akhirnya dimajukan seminggu setelah lamaran itu terjadi. Tidak ada yang keberatan dari pihak keluarga Zahra dan Elang.


Semua telah duduk di depan penghulu.


"Dimana wali nikahnya?" tanya sangat penghulu.


"Tidak ada wali nikah dari KUA saja," pinta Haji Toha yang duduk di kursi belakang penghulu.


"Tunggu kenapa harus memakai wali, bukankah Ayahnya masih ada?" ucap Elang berani.


Mata Zahra menatap tajam pada Elang kepalanya menggeleng, berharap calon suaminya tidak meneruskan ucapan.


"Tidak Zahra semua harus diluruskan."


"Ada apa ini?Apa maksudnya Zahra?" tanya Kakek Toha dengan wajah tegang.


"Tidak mengurangi rasa hormat saya pada kakek, saya ingin menegakkan hak Zahra. Dia berhak mendapatkan perwalian dari ayah kandungnya bukan? Apakah semua setuju?"


"Jika ayahnya masih hidup dan menikah dengan ibunya, maka Zahra wajib dinikahkan oleh Ayahnya."


"Kakek dengar, aku rasa semua tahu tentang ini. Selama ini semuanya diam, Zahra juga diam tetapi Tuhan tidak diam. Dia ingin saya menegakkan keadilan untuk Zahra. Keadilan untuk diakui sebagai anak kandung dari ayahnya."


Terdengar bisik-bisik dari semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


"Sebagai seorang pria harus berani bertanggungjawab dengan semua yang dilakukannya bukan begitu Kakek?"


Kakek Toha hanya terdiam.


"Elang kau suka sekali membuat masalah!" bentak Sanjaya tidak senang karena Elang membuat keributan lagi.


"Aku hanya membela calon istriku saja, aku ingin dia hidup bahagia ketika bersamaku nanti. Jadi aku melakukan ini, yaitu membuat langkah hidupnya bersamaku dimulai dengan benar Sesuai dengan tuntutan agama dan syariahnya."


"Apa kau tahu siapa Ayah Zahra?" tanya Ibu Siti pada Elang. Elang menatap ke arah Kakek Toha.


"Ayah, siapakah Ayah Zahra. Kami tahunya Zahra adalah anak yang Ayah ambil dari panti asuhan."


Kakek Toha hanya diam menunduk sambil menekan pucuk hidungnya. Terdengar helaan nafas berat dari pria yang sudah berumur lebih dari tujuh puluh tahun.


"Pak...," ucap Siti shock. Dia menatap ke arah suaminya tidak percaya.


"Maaf, Bu. Apa yang dikatakan Elang benar jika aku harus memberikan keadilan yang selama ini tidak kuberikan pada Zahra."


''Pak...," cicit Siti terluka menatap suaminya, memegang dada. Tangisnya pecah seketika. Suasana menjadi hening. Dua anak perempuan Siti mendekap ibunya.


Mikael menegang ketika mendengar kebenarannya,dia ingin bangkit namun Ariana menggelengkan kepala.


"Tidak sekarang. Biarkan pernikahan ini terjadi dahulu setelah itu kita semua berbicara di dalam," ucap Ariana menenangkan. "Nama baik keluarga kita dipertaruhkan sekarang. Kau harus menjadi bijak karena kau adalah kakak tertua di keluarga ini."

__ADS_1


Mikael menganggukkan kepalanya. Dia lalu mendekat ke arah Sofyan dan berkata dengan tenang.


"Ayah, nikahkan dulu Zahra dengan Elang. Ibu kita bicarakan ini baik-baik tapi nanti di dalam. Setelah ijab ini selesai. Semua orang sudah menunggu."


Ibu Siti terisak. Dia berjalan masuk ke dalam rumah karena ijab dilangsungkan di halaman depan rumah Keluarga Toha. Dia tidak kuat untuk menahan perasaannya. Selama ini dia kira suaminya adalah pria setia namun ternyata dia pernah menikah dengan wanita lain dan mempunyai anak dari wanita itu.


Sofyan lalu duduk di depan Zahra dan Elang terhalang oleh meja yang berisikan mahar serta bawaan Elang untuk Zahra.


"Aku nikahkan engkau dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, puteriku Zahra Maharani dengan mahar uang sebanyak enam juta enam ratus dua ribu dua puluh dua dan sepuluh koma enam puluh gram emas dibayar tunai," ucap Sofyan.


"Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah," balas Elang dengan suara tegas tanpa ada rasa ragu sedikitpun.


"Sah...."


"Sah...." jawab saksi lainnya.


"Alhamdulillah," ucap semua orang dan doa mulai dilantunkan. Semua mengamini.


Mahar itu sesuai dengan waktu pernikahan Elang. Tanggal enam Juni tahun 2022 di jam sebelas pas.


Terdengar tarik nafas lega dari Elang, air matanya tiba-tiba keluar. Dia menoleh ke arah Zahra yang masih menangis sedari tadi.


Elang mengulurkan tangannya, Zahra menerimanya sebagai tanda bakti pertamanya pada sangat suami, lalu Elang mencium kening Zahra lembut. Ini untuk pertama kalinya dia menyentuh Zahra.

__ADS_1


"Sekarang masalahmu adalah masalahku, kau jangan khawatirkan apapun karena aku yang akan mengatasinya," bisik Elang membuat isak Zahra mulai terdengar keras karena terharu. Elang memeluk istrinya dan menepuk punggungnya.


__ADS_2