Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Daya Pikat Pria


__ADS_3

"Ariana," panggil Adam.


Ariana lalu membalikkan tubuhnya.


"Aku senang kau masih hidup dan utuh," ucapnya. Ariana menepuk lengan pria itu.


"Kita pulang, makan, dan nonton film ke bioskop ini akhir pekan."


"Aku sedang tidak mood," ujar Ariana lesu.


"Memang apa yang dilakukan oleh penjagal itu?" tanya Adam. "Apa dia akan mencegah langkahmu kali ini?"


Ariana menghela nafas dan menggelengka. kepalanya. Dia nampak gelisah.


"Ada masalah apa, ceritakan padaku. Aku itu calon suamimu jadi akan bertanggung jawab pada hidupmu mulai tempo hari."


Seulas senyum terbit kembali di wajah Ariana. Dia selalu gemas dengan Adam yang selalu bisa mengembalikan suasana hatinya.


"Aku punya suatu rahasia yang belum kukatakan semuanya padamu, jika kau mendengarnya ...." Ariana menundukkan wajahnya, men de. sah.


"Katakan saja semuanya padaku, mungkin kita punya solusinya."


"Kala itu begitu kita akan makan saja sembari ngobrol." Ariana mengangguk menyetujui ajakan Adam. Mereka lalu mengambil motor Adam di parkiran dan menaikinya. Di sisi yang lain Mikeal menatap sepasang sejoli itu dengan tatapan tajam.


"Adam, aku minta maaf sebelumnya, aku tidak bisa menikah denganmu. Mungkin kau bisa mencari wanita lain yang lebih baik dariku," ucap Ariana ketika mereka sudah duduk di sebuah cafe.


"Kenapa? Katakan alasannya? Apakah kau telah dijodohkan dengan pria lain."


"Bisa dikatakan seperti itu namun itu lebih parah," jawab Ariana dengan mata sendu. Terlihat raut cemas di wajah Adam.


"Apa itu katakan saja. Aku siap."


"Aku sudah menikah," ungkap Ariana. Dia mengambil kalung yang dia sembunyikan di balik baju. Terdapat cincin berlian di sana.


"Ini cincin nikahku," jawab Ariana.


"Itukah sebabnya selama ini kau selalu menolak ungkapan cinta dariku?" Ariana menganggukkan kepalanya.


"Berarti kau bohong padaku tentang kesediaan mu menikah denganku?" ucap lirih Adam tertahan dengan geram.


Adam mengusap wajahnya kasar. Dia lalu berdiri hendak pergi namun tangan Ariana mencegahnya.


"Dengar dulu ceritaku hingga selesai baru kau pergi," pintanya. Sesaat Adam menatap Ariana.


Dia lalu duduk kembali dan melihat ke arah lain. Hatinya terasa sangat sakit mengetahui kenyataan bahwa kekasihnya sudah punya suami.

__ADS_1


"Suamiku meninggalkanku di malam pernikahan kami enam tahun yang lalu."


Adam menoleh ke arah Ariana membuka mulutnya lebar. Dia mencari kebenaran dari kata-kata wanita itu.


"Kau sudah menikah enam tahun yang lalu artinya waktu itu kau masih kecil, uh maksudku masih sekolah."


Ariana menghela nafas. "Tepatnya masih kelas dua SMU."


"Aku bersyukur dia meninggalkanku, jika tidak, aku sudah pasti akan putus sekolah dan sudah punya anak kecil," ujar Ariana tertawa sumbang.


"Kenapa suamiku meninggalkanmu?"


"Kami menikah karena dijodohkan. Dia masih ingin meraih mimpi mungkin dan yang pasti karena dia sudah memiliki kekasih." Entah mengapa hati Ariana masih merasa perih jika mengenang semua itu.


"Setelah sekian lama kalian belum bercerai?" tanya Adam.


"Aku menunggu punya calon suami dulu baru akan mengurus perceraianku," ungkap Ariana menatap cincin ditangannya. Berlian itu terlihat bersinar ketika terkena cahaya. Sangat indah tetapi tidak seindah pernikahannya.


"Apakah kau tahu dimana suamimu berada?"


Ariana menganggukkan kepalanya. Adam mengangkat kedua alisnya ke atas.


"Kenapa tidak minta dia mengurusnya. Mungkin dia ingin menikah dengan kekasihnya.


Ariana tersenyum kecut. "Dia dulu mengatakan jika dia tidak peduli dengan pernikahan ini. Dia juga mengatakan aku bisa mengajukan perceraian. Namun, orangnya tidak ada waktu itu. Pernikahan juga baru berlangsung. Tidak baik membuat gunjingan yang akan membuat malu kedua keluarga. Aku memutuskan untuk merahasiakan ini dari keluargaku untuk sementara waktu sampai keluarga suamiku menemukannya. Namun, hingga orang tuaku tahu kebenarannya, dia belum juga keluar memperlihatkan diri."


"Katamu tadi kau tahu dimana keberadaannya?" tanya Adam. Ariana menganggukkan kepala.


"Beberapa bulan ini aku kembali dipertemukan dengannya. Aku kira dia lupa siapa aku," Ariana tertawa sinis, "ternyata dia masih ingat siapa aku dan hubungan kami." Menghela nafas berat. Matanya mulai merebak dan dia mengipasi dengan tangannya.


"Kalau begitu kita temui dia dan minta untuk mengurus masalah perceraianmu."


"Tidak semudah itu," ujar Ariana.


"Kenapa?"


"Orang tuanya sedang sakit parah, maksudku ibunya. Dia memintaku untuk membawanya kesana karena orang tuanya akan menerimanya jika kembali bersamaku."


Adam memukul meja dengan keras membuat mereka menjadi pusat perhatian. Ariana memegang tangan pria itu yang terlihat sudah mulai emosi.


"Ada pria seegois itu di dunia ini? Apakah dia tidak punya rasa malu dan tidak punya hati sehingga mempermainkan hati wanita semudah itu."


"Siapa prianya biar aku datangi dan pukuli sampai mati," ujar Adam tidak terima kekasihnya diperlakukan seperti itu oleh suaminya.


"Kau akan terkejut jika mendengarnya." Mata Adam membulat.

__ADS_1


"Aku mengenalnya?" Ariana menganggukkan kepala.


"Katakan siapa yang telah membuatmu seperti ini. Biar aku hajar orang itu tidak peduli dia itu bangsawan kaya atau anggota DPR sekalipun."


"Kau tidak akan berani melakukan itu," ucap Ariana yakin. Dia meminum jus alpukat miliknya.


"Siapa sih, Na? Jangan buatku mati penasaran."


"Dosen kesayanganmu?" jawab Ariana santai.


"Semua dosen kita itu sudah menikah tinggal dua Pak Mikael dan Pak Budi." Terdiam menatap Ariana dengan seksama. "Jangan bilang jika dia Pak Mikael?"


Ariana menggerakkan alisnya dengan cepat.


"Oh, sial!" umpat Adam menarik rambutnya ke belakang.


"Bagaimana bisa? Dia bahkan terlihat cuek serta sinis padamu. Kalian bahkan tidak pernah berbincang kecuali masalah .... Tunggu tadi pria itu ingin bicara denganmu karena ingin membahas masalah ini?" Ariana terdiam tetapi tatapan matanya seolah mengatakan ya.


"Lalu apa yang kau katakan? Apa kau menyetujuinya?"


"Aku belum bisa menjawab. Aku ingin mendengar persetujuanmu dulu. Bagaimanapun kau itu calon suamiku walau kau belum melamarku secara resmi dan bertunangan."


"Namun, orang tuaku setuju jika kita menikah dengan syarat aku harus mulai mengurus perusahaan." Ariana tersenyum.


"Aku kira langkah kita akan mudah, nyatanya, ada penghalang besar di depan."


"Jika kau percaya pada hubungan ini, kita bisa melewatinya bersama." Mereka lalu terdiam larut dengan pikiran masing-masing.


"Apa rencanamu, Ariana?"


"Aku akan menuruti keinginan Mikael, aku tidak tega mendengar kabar jika Ibu Sofyan sakit parah. Aku yakin ibu mertuaku itu sakit pasti karena merindukan putranya. Kami akan kembali ke kampung bersama. Setelah itu, aku akan meminta cerai darinya."


"Kau yakin akan bercerai darinya?" tanya Adam menatapnya tajam.


"Aku yakin sekali." Ariana menatap ke arah Adam.


"Kenapa kau yang malah tidak yakin?"


"Aku tidak yakin Pak Mikael akan menceraikanmu. Bagaimana pun kau itu cantik natural tanpa polesan. Dia pasti akan tertarik padamu dan menyesali tindakannya telah menyiakanmu."


"Itu hanya khayalanmu saja," ujar Ariana.


"Namun, jika itu terjadi apakah kau tetap akan bercerai dengannya?" Ariana lalu terdiam.


"Tidak, karena ayah dan kakakku jelas akan melarangnya."

__ADS_1


"Bagaimana jika kau yang jatuh cinta padanya? Dia punya daya pikat yang tinggi. Kau tahu beberapa mahasiswa wanita sering menggodanya dan jatuh cinta pada pria itu. Kau pun tidak akan tahan dengan kharismanya jika kalian tetap bersama?" ungkap Adam. Bagaimana pun ada rasa khawatir yang menderanya. Dosennya itu tampan, mapan dan mempunyai masa depan yang bagus. Ariana mungkin akan jatuh cinta padanya. Sedangkan Ariana dulu mungkin tidak semenarik Ariana sekarang karena masih kecil. Bisa saja kini pria itu tertarik. Pikiran ini membuat hati Adam was-was.


__ADS_2