Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Kambuh


__ADS_3

"Hentikan tangismu karena aku bukan kakekmu!" bentak Sanjaya yang sedang duduk di kursi makan. Dita menangis sesengukan mendengarnya, hingga nafasnya tersengal-sengal.


"Ayah!" seru Ariana berlari memeluk Dita sedangkan langkah Mikael terhenti di pintu tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak tahu harus melakukan apa dan merasa bersalah karena membawa Dita dalam situasi yang tidak mengenakan ini.


"Seharusnya kau menjaganya dengan baik jika ingin anak itu tinggal disini. Jika tidak kembalikan saja ke keluarga suamimu itu, aku tidak punya ikatan darah apa-apa dengannya tidak ingin jika direpotkan oleh suara tangis anak ini." Sanjaya lalu bangkit dan meninggalkan ruangan itu melewati Mikael.


Pria itu terdiam seraya mengepalkan tangan. Matanya merasa panas dan berair melihat anak kesayangan yang dia rawat sendiri dari kecil harus diperlakukan buruk seperti itu. Dita tidak pernah dimarahi apalagi dibentak oleh siapapun dan Mikael tidak menerimanya. Namun, jika dia mengungkapkan perasaannya maka dia tidak akan mendapatkan kesempatan untuk mendekati Ariana.


Dengan dada yang terasa sesak Mikael berlari mengambil Dita dari pelukan Ariana. Dia memeluknya erat meletakkan kepala anak itu di dadanya.


"Tenanglah," kata Mikael merasakan sakit yang Dita rasakan.


Dia lalu menatap anaknya dan menghujami dengan ciuman agar Dita tenang. Nafas Dita terdengar tidak beraturan. Ini yang Mikael takutkan.


"Ada apa Mike?" tanya Ariana.


"Dimana tas Dita?" tanya Mikael panik.


"Di atas," tunjuk Ariana ke kamarnya.


"Inhaler miliknya?" tanya Mikael.


"Aku tidak melihatnya, tapi tunggu. Ayo bawa dia masuk ke kamarku," ajak Ariana cemas.


Mereka lalu ke lantai atas ke arah kamar Ariana dan masuk ke sana dengan cepat.


"Ini kopernya," kata Ariana menarik koper yang dia simpan di samping kamarnya.


"Di bagian depan ada inhaler milik Dita."


Ariana merogoh tas itu dan menemukan apa yang dicari lalu diberikan ke Mikael. Mikael memangku Dita dan menyemprotkan inhaler ke dalam mulut Dita.


"Tenang, Sayang." Setelah nafas Dita sudah kembali tenang Dita memeluk Ayahnya erat.


"Aku takut di sini Yah, kita pulang saja," pintanya serak.


Mikael terdiam. Ariana lalu duduk di sebelah mereka.

__ADS_1


"Maaf Kakek ya, dia belum mengenalmu, jadi seperti itu. Nanti kalau Kakek sudah tahu jika Dita itu anak cantik dan baik Kakek juga akan Sayang."


"Ibu kenapa pergi meninggalkan aku sendiri?"


"Ibu tadi ke kamar Ayah, Sayang. Maaf jika membuatmu ketakutan," ungkap Raina merasa sangat bersalah. Dia mencium Dita penuh sayang.


Perasaan Mikael pun tidak karuan. Dia merasa dilema tidak tahu harus berbuat apa.


"Aku minta maaf, a-aku tidak tahu jika Dita," Ariana tidak bisa meneruskan kata-katanya. Dia memeluk Mikael dan menangis. Mikael terdiam hanya memeluk keduanya erat. Keduanya sama-sama berarti untuknya.


Ariana lalu mengambilkan makan dan susu untuk Dita dan menyuapinya dengan sabar. Anak itu terlihat tidak bersemangat untuk makan.


"Dita sakit apa?" tanya Ariana.


"Asma, hanya saja jarang kambuh," kata Mikael. Ariana merasa kasihan terhadap anak itu. Dari kecil sudah ditinggal oleh ibu kandungnya dan juga menderita asma.


"Apa sebaiknya Dita tinggal di kamarku jika telah selesai direnovasi?" ujar Mikael.


"Aku harus berpisah dengan kalian dan tidur sendiri di sini? Itu tidak adil." Ariana terlihat sangat keberatan.


"Kalau begitu kau ikut saja tidur bersamaku jika malam," kata Mikael. Ariana mencebikkan bibirnya merasa sedih jika itu sampai terjadi. Ayahnya itu nyaris tidak tidur jika malam karena harus mengawasi usahanya. Bagaimana caranya dia bisa mengendap tadi malam saja hampir ketahuan?


"Ariana, kita jadi belanja?" tanya Mikael.


"Belanja? jalan-jalan? Ayo, Yah," ujar Dita bersemangat.


"Dita apa tidak bahaya, tadi dia," ujar Ariana keberatan.


"Tidak apa-apa, asal tidak membuatnya lelah."


"Kalau begitu kita bersiap-siap buat Ayah menunggu di bawah," kata Ariana. Mikael lalu keluar kamar menuju kamarnya sendiri untuk mengganti baju.


Di lorong dia berpapasan dengan Elang. Mikael tersenyum tetap berjalan. Elang ingin mengatakan sesuatu tetapi ditahannya lagi. Dia kembali ke kamarnya.


Dia pikir, dia harus melupakan Zahra saja. Masih banyak wanita lain. Dia pasti bisa melakukannya.


Dua jam kemudian keluarga Mikael telah berada di salah satu toko material membeli semua barang yang dia butuhkan. Dia tadi sempat berdiskusi dengan Pak Paryo yang lebih tahu tentang masalah bangunan. Dia berkeyakinan bisa melakukan itu sendiri.

__ADS_1


Setelah itu mereka makan di salah satu rumah makan yang terkenal di sana.


"Kalau kau tidak bekerja bagaimana cara menafkahiku?" tanya Ariana.


Mikael tertawa.


"Kau takut tidak aku nafkahi? kata siapa aku tidak bekerja? Aku bilang berhenti dari kegiatan mengajar tetapi tetap bekerja sebagai penasihat investasi suatu di suatu perusahaan."


"Apa itu penasihat investasi?"


"Penasihat investasi adalah suatu pihak yang memberi nasihat kepada pihak lain mengenai penjualan atau pembelian efek dengan memperoleh imbalan jasa. Bukan hanya di instrument saham saja, akan tetapi penasihat investasi ini juga memberikan arahan kepada calon investor untuk memilih instrumen investasi yang sesuai kebutuhan dan kemampuan. Misalnya saja, mulai dari obligasi, reksadana, dan sebagainya."


"Apakah pekerjaan itu menghasilkan banyak uang?"


"Cukup untuk membiayai hidupmu dan anak-anak kita asal kau tidak bergaya lebih seperti kaum sosialita."


"Aku tidak seperti itu," kata Ariana.


"Suatu hari kau akan belajar menjadi seperti itu ketika bertemu dengan wanita highclass, kau akan mengikuti gaya mereka tetapi ingat jangan berlebihan. Aku suka ikut ke acara seperti itu jadi kau juga harus menemaniku nantinya."


Ariana terdiam. Dia tidak menyangka suaminya itu sangat pandai karena punya pekerjaan lebih dari satu. Pantas saja jika dia selalu sibuk sepanjang hari. Hal itu pula yang membuat dia tidak sabar jika melihat mahasiswa yang lelet dan membuang waktu dengan percuma. Seperti dirinya.


Dita makan banyak siang ini. Setelah itu dalam perjalanan pulang dia tertidur di kursi belakang.


Tiba-tiba, Mikael menepikan kendaraannya ketika melewati perkebunan yang sepi. Ariana mengangkat dua alisnya ke atas.


"Ariana," panggil Mikael serak.


"Aku tidak tahu ini salah atau tidak tetapi aku ingin sekali memelukmu," kata Mikael dengan wajah serius. "Aku tidak akan melakukan lebih hanya ingin memelukmu lebih lama."


Ariana terdiam sejenak karena terkejut. Tetapi kemudian Ariana tersenyum. Mikael menepuk pahanya dan Ariana bergerak untuk duduk dipangkuan pria itu dengan posisi saling berhadapan.


Awalnya mereka hanya saling berpelukan, melepaskan kerinduan lalu bibir pria itu menyentuh bibir Ariana, menggodanya pelan, mengusap dengan lidah lalu mengigit pelan bibir Ariana sehingga Ariana membuka bibirnya , memberi celah bagi lidah Mikael untuk bermain di dalamnya. Mikael tidak menyisakan kesempatan ini, dia melilit, menggelitik lidah Ariana lalu berkelana di rongga mulut Ariana dengan baik.


Tangan Ariana mencengkeram erat lengan Mikael. Apalagi ketika tangan pria itu bermain nakal di perutnya lalu sedikit sedikit naik dan menangkup bagian depan tubuhnya yang sensitif. Erangan kecil keluar dari mulutnya.


Hal itu membuat Mikael semakin bersemangat untuk melakukan hal lain. Dia mulai menurunkan kerah Sabrina Ariana sehingga dia bisa melihat sesuatu yang menantang jiwa lelakinya. Bibir pria itu mulai bergerak turun ke leher Ariana, menyesap pelan karena tidak ingin membuat tanda yang bisa membuat Ayah Ariana meradang.

__ADS_1


Nafas Ariana mulai terengah-engah dan nafasnya mulai memburu.


__ADS_2