
"Ku mohon jangan katakan seperti itu."
"Aku sudah sabar dengan semua tingkahmu. Namun, jika kau ingin menyakiti Ariana maka kau harus berhadapan dulu denganku. Aku bisa saja menjatuhkan dirimu di depan masyarakat luas." Mata Sheila membelalak lebar mendengar ancaman Mikael.
"Jangan sekali-kali kau menyakiti Ariana karena itu sama saja dengan menyakitiku!"
Tenggorokan Sheila terasa kering dan tercekat mendengar semua yang Mikael katakan. Dia pikir semua akan mudah dia lakukan. Nyatanya, Mikael sekarang bukan dia yang dulu mencintai dan memujanya. Dia menyesal telah membuang orang yang rela melakukan apapun demi dirinya dulu. Namun, semua tidak bisa kembali seperti semula. Roda kehidupan tidak bisa diputar balik sesuka kita.
"Kau tahu jalan keluarnya. Sekarang lebih baik kau pergi secepatnya dari sini!" Mikael memalingkan wajahnya dari Sheila.
Dengan langkah gontai dan menunduk, Sheila pergi dari ruangan itu menuju ke lantai dasar dan bergerak keluar dari rumah. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Sedangkan Ariana lalu keluar sepeninggal Sheila. Dia menghela nafas dan menatap suaminya dengan penuh cinta. Dia lalu berlari dan meloncat ke tubuh Mikael. Duduk di pangkuannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Mikael terkejut tapi tersenyum. Ariana menyentuh hidungnya ke hidung tinggi Mikael. Menggerakkannya dengan gemas.
"Aku sangat mencintaimu," kata Ariana tersenyum lebar.
"Aku tahu itu karena kau sering mengatakannya. Adakah hal lainnya?" tanggap Mikael datar. Ariana mencubit perutnya.
"Ish, tidak romantis," ujar wanita itu.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengatakan jika aku akan tidur saja di kamar Dita." Ariana hendak turun dari pangkuan Mikael tetapi pria itu malah menariknya keras dan menjatuhkannya di sofa.
Tubuhnya kini telah menindih tubuh Ariana.
"Lakukan!"
"Kau itu masih kecil tapi pikirannya mesum melulu."
"Lalu kau mau apa jika sudah begini!" kata Ariana tenang memandang wajah tampan suaminya. Dia bahagia karena Mikael membelanya dan mengusir nenek jahat itu.
Dia juga mengatakan apa yang seharusnya Sheila lakukan, yaitu menghubungi Ariana jika ingin bertemu Dita. Walau secara darah Dita adalah anak Sheila tetapi secara hukum dia adalah ibunya. Sheila tidak berhak pada Dita.
"Aku hanya ingin tidur dengan memeluk dirimu. Atau mungkin akan tidur diatas sini, nyatanya tidur dengan dua kasur ditumpuk itu lebih empuk."
"Kau menganggapku kasur?" sungut Arina kesal.
"Kalau begitu aku saja yang jadi kasurnya dan kau tidur di atasku."
Mikael lalu duduk lagi dan wajahnya nampak terlihat sedih. Dia menghela nafas berat.
"Aku tidak tahu sampai kapan Ayahmu memaafkan ku dan merestui hubungan kita."
__ADS_1
"Katanya jika kau sudah menyelesaikan soal ekspor itu?" Ariana duduk dengan kepala di sandarkan di bahu Mikael.
"Dia hanya mengatakan jika aku boleh bersama mu bukan berarti dia sudah memaafkanmu sepenuhnya. Aku ingin dia merestui hubungan kita dengan sepenuh hati."
"Pelan-pelan, Sayang, aku tahu kau pasti bisa mengambil hati ayah."
"Restu orang tua adalah segalanya."
"Aku pikir dulu kau itu orang yang arrogan tidak peduli dengan hati dan perasaan orang lain. Kenapa sekarang berubah?"
"Karena Tuhan baik memberikan dirimu... kau membuat mataku terbuka kembali setelah sekian lama tertutup. Aku tidak tahu apakah aku pernah mengatakan ini atau belum padamu . Namun, aku ingin sekali menyatakan perasaanku kepadamu." Mikael menghadap Ariana dan memegang kedua tangannya menangkupnya menjadi satu.
"Aku mencintaimu sangat mencintaimu. Cinta yang didasari oleh rasa hormat, bukan sekedar nafsu semata. Aku ingin bersamamu, mengayuh kehidupan berdua hingga kita tua dan terpisah oleh maut."
"Tuhan begitu baiknya memberikan wanita seperti dirimu yang sabar, penuh perhatian, dan yang suka menaburkan cinta pada semua orang. Aku begitu kagum padamu ketika kau mau menerima Dita dengan hatimu bukan karena dia anakku. Kau tidak ingin berpura-pura menyayanginya tetapi kau memberi perasaan cinta yang kau miliki untuknya sehingga entahlah, aku merasa kau menganggap Dita sebagai anakmu sendiri. Itu membuat hatiku sangat tersentuh. Aku sangat berterimakasih karena itu."
"Kau juga membuat hatiku terluka kembali pulih dengan ketulusanmu. Cintamu yang putih benar-benar merasuk dalam sanubariku mengendalikan perasaanku dan membuat hatiku yang gersang kembali subur, membuat jiwaku yang gelap kembali bercahaya. Kau bahkan membawa kembali senyum yang telah lama hilang." Ariana tersentuh oleh kata-kata Mikael. Menghela nafasnya.
"Apakah kau sudah selesai mengatakan semuanya?" tanyanya dengan santai. ''Kalau sudah, aku ingin tidur," Ariana menguap lebar dan bangkit lalu berlari ke kamar dengan tertawa.
"Ariana....!''
__ADS_1