
"Kau belum pernah menikah tidak tahu bagaimana sulitnya berpisah dengan pasangannya jika saling cinta. Ayah hanya ingin tahu sebesar apa rasa cinta mereka untuk pasangan masing-masing selain itu menguji sampai dimana batas kesabaran Mikael dalam menghadapi situasi sulit. Apakah dia akan menyerah dan pergi atau tetap bertahan?"
"Artinya Ayah sudah memaafkannya?" tanya Elang.
"Memaafkan tidak, hanya kita sebagai orang tua tidak bisa egois dengan kebahagiaan anaknya. Jika itu baik untuk mereka tidak ada salahnya mengalah." Sanjaya lalu melangkah pergi begitu saja.
Elang menarik nafas dalam. Setidaknya jika hubungan keluar mereka membaik dia bisa mendekati Zahra. Dia memukul kepalanya sendiri dengan pikiran itu. Dia sudah berjanji pada diri sendiri untuk melupakan gadis cantik itu. "Ya, Zahra memang cantik dan manis."
Paginya Ariana terkejut karena tertidur pulas di kamar Mikael. Dia lalu membangunkan Mikael. Pria itu secara otomatis menarik tubuh Ariana sehingga jatuh diatas tubuhnya.
"Sudah pagi. Kau dengar suara orang sudah terdengar ramai. Ariana melihat ke arah handphonenya yang ada di atas tubuh Mikael.
"Hampir subuh," ucap wanita itu.
"Aku masih mengantuk, mataku seperti terkena lem, tidak bisa dibuka."
Ariana berusaha melepaskan diri dari pelukan Mikael. Aku harus cepat kembali ke kamarku takut Ayah melihatku tidur di sini," lirih Ariana.
Terdengar suara hembusan kasar dari Mikael, dia lalu meletakkan kepala di dada pria itu memeluk balik Mikael.
"Katanya sabar demi masa depan kita," ujar Ariana membuat Mikael melepaskan pelukannya. Malah Ariana yang berat untuk turun dari tubuh besar Mikael. Kaki pria itu melilit di kakinya.
"Cium dulu," pinta Mikael.
"Aku belum sikat gigi," tolak Ariana. Mikael menatapnya penuh perasaan membuat Ariana tidak bisa menolak keinginan pria itu. Dia mulai mendekatkan bibir mereka. Mikael meletakkan tangannya menekan tengkuk Ariana memperdalam ciuman mereka. Adzan subuh berkumandang membuat mereka melepaskan diri dengan berat.
"Ini siksaan yang nyata," gerutu Mikael.
"Aku harus mandi menenangkan adik kecilku yang rewel dari kemarin."
Ariana cekikikan lalu keluar dari kamar setelah memastikan tidak ada orang di sana.
__ADS_1
Hari-hari dilalui pasangan itu dengan bahagia. Hingga tanpa terasa sudah dua bulan pria itu ada di rumah itu.
Mikael mendaftar sebagai guru di sekolah tingkat pertama. Awalnya lamarannya ditolak karena ijazah kelulusannya yang tertera adalah sebagai doktor dan profesor. Mereka pikir Mikael telah salah jalan. Namun, pria itu mengatakan ingin membangun pendidikan di daerah itu, bukan hanya untuk mencari uang semata. Akhirnya, dia diterima kerja di sana. Cita-cita adalah ingin membuat para anak di daerah itu merasa bahwa pendidikan itu penting bagi mereka dan ingin mencetak generasi yang mumpuni bisa berguna dan membanggakan untuk daerahnya.
Setiap harinya Sanjaya selalu memberikan PR untuk Mikael kerjakan. Seperti hari ini, masalah datang ketika sayuran yang hendak mereka kirim ke Jawa mengalami hambatan karena terkendala cuaca buruk. Beberapa truk berisi buah dan sayuran akhirnya mendekati busuk di jalan. Hal itu membuat kerugian bagi usaha Pak Sanjaya sekarang.
Ini bukan untuk pertama kali mereka alami sering kali terjadi kalau menemui cuaca buruk.
Mikael tidak sengaja mendengar masalah itu ketika pulang dari mengajar. Dia masuk ke dalam ruang kerja Pak Sanjaya tanpa permisi dan langsung saja berbicara di depan Sanjaya, Elang juga beberapa karyawan Pak Sanjaya.
"Aku rasa kita bisa bekerjasama dengan para pemilik supplier besar untuk mengambil barang kita Paman," saran Mikael membuat Sanjaya menengadahkan kepala.
"Saya kenal dengan para pemilik Supermarket besar di negara ini. Mungkin kita bisa membuat sampel sayuran kita untuk diberikan kepada mereka. Kita jadi bisa masuk sayuran itu ke supermarket di seluruh wilayah Sumatra jika bisa. Jadi bisa mengurangi masalah sayuran busuk dijalan karena terkendala cuaca."
"Kita juga bisa mengekspor sayuran dan berbagai macam rempah ke luar negeri. Singapore dan Malaysia misalnya, mereka membutuhkan banyak sayuran, buah-buahan yang segar, bagus juga dihasilkan dari teknik organik. Lowongan ekspor sayuran ke daerah itu sangat besar."
"Jika begitu kita butuh kontainer pendingin," ungkap Elang yang sudah membantu ayahnya dari masih belia.
"Itu bisa diatasi jika kita mengirimkan sayuran itu keluar negeri."
"Bekerja sama dengan pemilik kontainer besar yang memiliki pendingin."
Pria itu lalu menjelaskan mekanisme kerja ekspor itu keuntungan dan kerugiannya. Sanjaya takjub dengan rencana Mikael. Dia tidak menyangka banyak ide brilian yang muncul di otak menantunya itu.
Dia juga bisa menerangkan dengan detail.
"Kalau begitu aku serahkan masalah ini padamu. Jika kau bisa membuat barang kita diekspor keluar negeri maka Ariana akan ku ekspor ke kamarmu." Sanjaya mengatakan hal itu dengan nada datar ketika meninggalkan ruangan.
Mikael tertegun mendengarnya. Pak Paryo menepuk pundak Mikael dengan keras.
"Wah, ada sinyal baik, Pak Mike. Harus bisa melakukan tugas ini biar bisa bersama dengan Bu Na."
__ADS_1
Mikael tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya. Dia menghela nafas lega setidaknya dia diberi jalan cepat untuk mendapat restu mertuanya itu.
Mikael terdiam menatap Elang yang diam dan meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan apapun. Iparnya tidak songong lagi namun belum mau akrab dengannya. Mungkin dia butuh waktu lebih. Batin Mikael berpikir positif.
Dia lalu pergi ke kamarnya untuk menemui Ariana dan anaknya. Keseharian wanita itu memang lebih banyak berada di kamar Mikael dengan alasan mengasuh Dita. Padahal dia ingin dekat dengan Mikael.
Mikael melongok ke dalam kamarnya dan melihat Dita yang sedang belajar menulis dengan Ariana.
Ariana tersenyum ketika melihat suaminya. Dita melihat ke arah Mikael dan berdiri lalu memeluknya dengan erat.
"Ayah bawa apa hari ini?" tanya Dita berharap Ayahnya bisa membawakan makanan atau mainan untuknya. Terkadang sesuatu hal sederhana karena di rumah juga banyak makanan tetapi itu suatu kebanggaan ketika orang tua bisa memberikan sesuatu dan disambut gembira oleh anak.
Mikael lalu memberikan bungkusan yang dia sembunyikan dibelakang tubuhnya.
"Wah, apa ini?" tanya Dita melihat makanan berwana cokelat kayu yang tipis dan renyah di dalamnya ada toping pisang yang dicampur dengan cokelat leleh.
"Namanya Lekker, " kata Ariana mengambil tas dari tangan Mikael.
Dita menggigit makanan itu. "Enak Ibu," ungkapnya. Ariana menganggukkan kepala.
"Aku buatkan kopi dulu," kata Ariana melepaskan kancing baju di tangan Mikael. Lalu pergi ke dapur setelahnya.
Wanita itu kembali lagi dengan secangkir kopi panas juga sepiring nasi dengan lauknya. Dia meletakkan di lantai seperti biasa karena hanya ada satu meja saja yang Mikael gunakan sebagai meja kerjanya.
"Sayang," panggil Mikael setelah meminum kopi dan makan.
"Hmm ada apa?" tanya Ariana.
"Seperti nya aku harus kembali ke Jakarta, besok."
"Ada apa?" tanya Ariana.
__ADS_1
"Aku ada pekerjaan penting di sana berkaitan dengan pekerjaanku sebagai penasihat investasi. Ada klienku yang sedang mengalami masalah berat di perusahaannya dan aku diminta untuk memberikan saran secara langsung untuk kebaikan perusahaannya."
"Lalu aku bagaimana, Dita, apakah dia ikut serta bersamamu?" Ariana terdengar keberatan.