
"Kau akan meninggalkan aku?" tanya Ariana dengan mata yang sudah merebak kemerahan.
"Kalau kau boleh ikut tidak masalah," kata Mikael.
"Kau tahu Ayah tidak akan mengijinkannya."
"Mungkin kali ini diperbolehkan."
"Kau jangan main-main?" tanya Ariana.
"Ayah memperbolehkan kita bersama jika aku bisa mengekspor hasil kebun yang kita jual ini."
"Bersama dalam arti... ," Ariana menyatukan telunjuknya.
"Jika kita bisa membuat pekerjaan mustahil ini jadi kenyataan," ungkap Mikael.
"Itu tidak akan mustahil kau pasti bisa melakukannya."
"Butuh waktu Ariana," kata Mikael.
"Aku tahu asal kau tetap di sampingku aku akan memberikan waktu sebanyak yang dibutuhkan," ucap Ariana bersemangat.
"Sungguh," kata Mikael mencondongkan tubuh dekat dengan Ariana.
"Jangan lama juga, aku sedih tidak jadi hamil nanti kalau ketahuan Ayah bagaimana? Aku takut," wajah Ariana kini malah ditekuk sembari mengusap matanya.
Mikael menarik kepala Ariana ke dadanya, mengusap rambut lembut wanita itu pelan.
"Kita akan menghadapi bersama. Bagaimana pun kebohongan suatu saat akan terlihat juga."
"Tetapi bila aku tidak mengatakannya, kita tidak akan mungkin bersama sampai saat ini."
Mikael menganggukkan kepalanya.
"Semua memang sudah diatur oleh Yang Kuasa."
"Aku benar-benar akan ditinggal sendirian," kata Ariana tidak terima.
"Aku ingin mengajakmu hanya saja, aku tidak bisa memintanya pada ayahmu. Aku tidak bisa mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan."
"Aku mau ikut apa hubungannya dengan kepercayaan!'' Ariana ngambek. Dia lalu pergi meninggalkan kamar itu dengan perasaan kesal. Ariana setengah berlari menuju kamarnya sembari menahan air matanya agar tidak menetes.
Sanjaya yang baru keluar dari kamar melihat Ariana masuk ke kamar. Dia lalu membuka kamar itu pelan. Melihat putri kesayangannya menangis.
"Kenapa kau menangis, apa dia menyakitimu?" tanya Sanjaya dengan nada marah.
Ariana terkejut mendengar perkataan Ayahnya. Dia langsung mengusap air matanya dan berbalik menatap ayahnya.
"Dia tidak menyakitiku, tapi Ayah!" ucap Ariana marah. Mata Sanjaya yang telah berkerut di bagian pinggirnya membulat sempurna.
"Ayah?"
__ADS_1
"Iya, Ayah berdosa karena memisahkan suami dengan istrinya."
Sanjaya menelan Salivanya dalam lalu tertawa kecil geli. Sudah dua bulan lebih dan baru kali ini Ariana marah karena hal ini.
"Apa kau yakin Ayah memisahkan kalian?"
"Tidur kami terpisah," ucap Ariana ragu dan bingung untuk menjawab antara rasa malu dan kenyataan yang ada.
"Memang dia tidak pernah menyentuhmu?" tanya Sanjaya penuh keraguan.
Ariana memperlihatkan wajah memelas sembari menggelengkan kepalanya. "Katanya dia sudah janji pada Ayah, hanya jika Ayah memperbolehkan, dia baru mau bersamaku lagi."
Sanjaya menganggukkan kepala lalu duduk di dekat putrinya yang beranjak dewasa tapi terkadang masih bersifat kekanakan.
Ariana memeluk Ayahnya. "Ayah, dia akan pergi kembali ke Jakarta, besok," ungkapnya.
"Dia akan meninggalkanmu dan menyerah?" ucap Sanjaya dengan wajah innocent.
"Bukan itu," Ariana lalu bangkit menuju ke jendela kamarnya.
"Dia ada pekerjaan dengan kliennya yang penting yang mengharuskan dia pergi ke sana besok."
"Ya, sudah biarkan dia pergi jika untuk pekerjaan."
"Ish, Ayah dengarkan dulu!" ujar Ariana.
"Dengarkan apanya?"
"Dia tidak mengajakku karena takut dengan Ayah."
Ariana mengepalkan tangannya gemas dengan tingkah Ayahnya ini.
"Ayah... ," rengek Ariana.
"Kau itu sudah dewasa punya suami dan putri masih menangis dan merengek seperti anak kecil."
Ariana terpana dengan kalimat yang Sanjaya ucapkan 'suami dan putri', itu seperti sebuah pengakuan dari ayahnya.
"Ayah, aku bolehkan ikut bersama mereka?" pinta Ariana.
"Seharusnya suamimu yang meminta ijin bukan kau!"
"Apakah itu artinya boleh."
Sanjaya tidak mengatakan apapun tetapi berjalan pergi.
"Ayah, itu artinya bolehkan?" teriak Ariana. Dia lalu keluar dari kamarnya lagi dan pergi ke kamar Mikael dengan semangat.
Mikael yang baru saja mandi terkejut dengan kedatangan istrinya yang tiba-tiba. Wanita itu langsung melompat memeluk erat leher suaminya.
"Sayang, Ayah memperbolehkan aku ikut hanya saja kau yang harus meminta ijin padanya."
__ADS_1
"Kau yakin?" tanya Mikael.
"Aku yakin sekali," ucap Ariana.
"Kalau begitu aku sholat ashar lalu pergi menemui Ayahmu," balas Mikael. Ariana lalu turun dari pelukan suaminya.
"Kau sangat seksi tetapi terlihat sedikit berisi di bagian perut." Ariana mencubit perut suaminya.
"Jangan lakukan itu lagi jika tidak aku tidak akan bisa menahan diri."
Mikael lalu berbalik tapi Ariana memeluknya dari belakang. Pipinya bersentuhan dengan kulit basah yang keras milik Mikael.
"Sepertinya hati Ayah sudah luluh padamu. Dia mengatakan suami dan putrimu, bukan lagi pria itu dan putrinya."
"Itu bagus, jika semua sudah selesai kita akan buat adik untuk Dita."
Ariana merasa kesal dengan pembicaraan ini karena hanya membuatnya frustasi mereka terkadang bercumbu tetapi tidak pernah tuntas. Semua hanya karena janji konyol itu dengan ayahnya.
"Ijinkan aku sholat lalu menemui ayahmu."
Ariana lalu melepaskan Mikael.
Elang pergi ke tempat biasa dia nongkrong bersama dengan teman-temannya. Sebuah cafe yang dijadikan satu dengan restoran.
"Hai bro!" sapa Hanung, Elang yang sedang suntuk hanya tersenyum hambar lalu duduk di kursi sofa panjang yang melingkar di pojok ruangan yang sengaja mereka pesan.
"Kau mau minum apa?"
"Berikan dia wine, dia sedang putus cinta," goda temannya.
"Mana bisa dia minum itu. Dia hanya minum kopi atau susu putih saja."
"Bagaimana minum susu yang punya itupun malah menolaknya," gelak tawa terdengar berbarengan tetapi Elang tetapi tidak bereaksi.
Elang memang ketua Genk motor tetapi dia tidak pernah minum minuman keras. Dia tidak melarang temannya untuk meminum itu tetapi dia anti untuk menyentuhnya. Tidak ada yang berani melawannya. Selain karena dia jago silat, kakaknya Bayu juga punya kedudukan di militer. Hal itu membuat dia disegani oleh orang lain.
Ayahnya adalah orang terhormat, pernah menjadi camat, pernah menjadi anggota DPRD, pernah mencalonkan juga diri jadi Bupati walau kalah jumlah suara. Sehingga Elang sangat menjaga reputasi nama baik keluarganya dengan tidak melakukan hal buruk yang bisa diekspos masyarakat luas.
"Hai, Lang?" sapa seorang wanita muda cantik. Dia memakai dress berbahan cardinal diatas lutut. Wanita keturunan Tionghoa yang cantik dan luwes. Dia datang bersama dengan teman-temannya.
"Karina, akhirnya kau datang. Temani Elang nih, dia lagi suntuk," celetuk Bima. Elang menatap tidak senang sahabatnya.
"Dengan senang hati aku akan menemaninya," ucap Karina.
Hanung lalu pindah posisi duduknya sehingga Karina bisa duduk di sebelah Elang. Wanita itu meletakkan tangannya di atas paha pria itu. Elang hendak menyingkirkan tangan yang nakal itu tetapi dia melihat Zahra masuk ke dalam restoran yang bersisian dengan cafe itu. Dia datang bersama dengan seorang pria berpakaian jas lengkap.
Wajah pria itu terlihat bersih dan menarik walau lebih tampan Elang dari sisi manapun. Hal yang membuat Elang kesal adalah pria itu menggenggam tangan Zahra sepanjang mereka memasuki restoran itu.
Hati Elang yang mencoba melupakan wanita itu kembali lagi panas. Dia menatap tajam ke arah genggaman tangan sepasang sejoli itu. Lalu beralih ke wajah Zahra yang terlihat diam saja dan tidak keberatan dengan hal itu.
Elang memegang gelas ditangannya dengan kencang lalu pyak! Gelas itu tiba-tiba pecah. Di saat itu, Zahra menoleh ke arah Elang dan melihat kejadian itu. Mereka beradu pandang untuk sejenak.
__ADS_1
Karina melihat darah keluar dari tangan Elang dan menetes deras.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Karina khawatir memegang tangan Elang.