Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Dilema


__ADS_3

Setelah menidurkan Dita, Ariana hendak melihat ke kamar Mike. Dia mengendap pelan diantara kegelapan ruang tengah rumah itu.


"Ariana?" panggil Sanjaya. Ariana menghentikan langkahnya. Dia hampir tidak bernafas ketika suara Ayahnya memanggil namanya.


"Ya, Ayah," jawab Ariana membalikkan tubuh.


"Mau kemana?" tanya Sanjaya dengan suara berat.


"Aku ingin memastikan keadaan suamiku, ingin tahu apakah dia sudah makan atau belum? Aku sedikit khawatir, apalagi Ayah tidak memberikannya tempat tidur yang layak. Belum lagi dia masih terluka."


"Apakah dia mengkhawatirkanmu ketika pergi tanpa kata dulu?" balik Sanjaya setelah itu pergi meninggalkan Ariana sendiri. Wanita itu menelan Salivanya dalam-dalam. Dia tahu jika Ayahnya masih belum terima dengan keadaan Raina.


Ariana tidak tahu harus melihat keadaan Mikael atau kembali ke kamarnya. Dia terpaku untuk sejenak. Melihat ke lorong di mana Mikael berada lalu beranjak naik ke kamarnya lagi. Mungkin dia masih harus menahan diri untuk memperlihatkan perhatiannya pada pria itu. Masih ada tembok tinggi yang kokoh diantara mereka berdua. Dia harus menghancurkan dikit sedikit penghalang itu.


Ariana lalu memutuskan kembali ke kamarnya. Esok dia akan melihat keadaan Mikael. Malamnya Ariana tidur dengan gelisah menanti fajar datang.


Ketika jarum jam sudah berputar di angka 4, Ariana sudah mandi dan segera turun ke bawah. Dia khawatir Mikael belum bangun karena terlalu lelah membersihkan kamarnya.


Dia mengendap pergi ke kamar Mikael seperti pencuri. Mengetuk pintu perlahan, karena tidak ada jawaban dia mulai menurunkan handle pintu. Pintu kamar seketika terbuka karena tidak dikunci dari dalam.


Netra Ariana menyapukan pandangannya ke seluruh isi kamar karena tidak melihat pria itu ada di kamar. Dipan kayu hanya beralaskan kardus bekas lemari pendingin di lapisi oleh sarung kotak-kotak berwarna hijau. Laptop dan handphone milik Mikael juga berada di atasnya.


Kamar itu sudah bersih dan rapi. Tidak ada debu yang di setiap sudutnya. Mikael memang tipe pria yang suka kebersihan dan kerapian.


Di bawah tempat tidur ada koper besar milik Mikael. Ariana lalu duduk di dipan itu, menunggu suaminya datang. Bau harum khas Mikael merasuk ke dalam indera pengecap Ariana membuatnya rindu untuk memeluk Mikael. Ariana malu sendiri dengan pikiran itu. Mengapa dia berpikir mesum ketika mengingat malam panas mereka yang indah. Ariana tersenyum sendiri sehingga tidak sadar ketika Mikael masuk ke dalam kamar.


"Kau sudah berada di sini?" tanya Mikael membuat Ariana terkejut menoleh ke arah Mikael. Rambutnya yang basah mengenai lehernya yang besar dan berotot. Ariana menggelengkan kepalanya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Mikael mencondongkan tubuhnya, menyentil dahi Ariana. Wanita itu mengusap bekas sentilan Mikael sembari mencebik.


Mikael melepas handuk yang menutupi dadanya yang bidang dan seksi. Ariana menelan air liurnya menatap pria itu dengan terpana.

__ADS_1


"Ariana ... Ariana ... ," panggil Mikael. Jiwa wanita itu melayang entah kemana.


Mikael lalu berjongkok di depan Ariana dan menjentikkan jari di depan wajahnya membuat Ariana terkejut.


Kedua tangan Mikael memegang lutut wanita itu, membuat tubuh Ariana menegang seketika.


"Sepertinya aku harus segera pergi dari kamar ini sebelum aku gila," katanya, lalu bangkit tapi tangannya ditarik oleh Mikael sehingga jatuh dalam pelukan pria itu.


"Kenapa menjadi gila?" tanya pria itu ditelinga Ariana. Mengigit kecil daun telinga wanita itu membuat tubuh Ariana meremang seketika.


"Sepertinya, syarat ketiga Ayah itu sulit dilakukan," ungkap Ariana tiba-tiba menatap Mikael lekat.


"Oh ya?"


"Rasanya aneh bila suami istri tidur di kamar terpisah walau tinggal satu rumah. Itu namanya penyiksaan."


"Ini baru satu hari masih ada tiga ratus enam puluh lima hari lagi," ucap Mikael lirih.


Suara lantunan adzan mulai terdengar. Mikael lalu melepaskan pelukannya.


"Kita sholat," ajak Mikael.


"Di sini saja," pinta Ariana.


"Tidak ke musholla saja, terlihat lebih mesra jika jalan berdua untuk beribadah."


"Baiklah," kata Ariana bersemangat.


"Tunggu, aku pakai baju dulu," kata Mikael. Ariana lalu melihat isi kamar pria itu. Membuka salah satu pintu dikamar yang ternyata adalah kamar mandi.


"Airnya masih mengalir hanya saja belum dibersihkan. Aku kira kita harus belanja besok untuk mengisi kamar ini juga membeli banyak karbol untuk membersihkan kamar mandi."

__ADS_1


"Apa kau akan melakukan itu sendiri?" tanya Ariana.


"Tentu saja," tegas Mikael. Dia memakai baju Koko putih dengan peci berwarna hitam. Di bahunya tersampir kain sajadah. Membuat pria itu terlihat tampan berkali-kali lipat.


"Aku harus berwudhu lagi karenamu," kata Mikael ketika mereka sudah berjalan di halaman rumah menuju ke musholla.


"Tahu begitu aku tidak akan ke kamarmu mengajak untuk sholat bersama." Ariana mencebikkan bibirnya.


Sedangkan di belakang mereka, Sanjaya sedang berjalan menuju ke tempat yang sama. Dia lalu di dekati oleh ibu-ibu yang juga sedang berjalan ke musholla.


"Itu bukannya Ariana ya, Pak? Yang sebelah apakah suaminya?" tanya mereka ingin tahu.


Sanjaya tersenyum siap-siap mendapat cibiran atau gunjingan tetangga di pagi hari buta.


"Kelihatan serasi ya, mereka kelihatan cocok."


"Iya, memang kalau sudah jodoh nggak akan kemana-mana pasti kembali lagi."


"Ariana sendiri sudah bercerai dengan suaminya atau belum sih, Pak?" tanya seorang Ibu.


"Belum, tetapi kita tidak tahu takdir ternyata mereka memang kembali bersama."


"Iya kemarin suami Ariana yang mengimami ketika sholat subuh karena Pak Dadang belum datang."


Lalu berbagai pujian datang silih berganti sampai mereka di Mushola, membuat Sanjaya merasa sedikit tenang. Pasalnya, dia merasa mungkin ini jalan yang dipilihkan Tuhan untuk mereka bersatu kembali. Namun, tidak semudah itu Mikael melalui semuanya. Dia masih harus membuktikan dirinya layak untuk Ariana.


Sedangkan Elang langsung pergi keluar rumah setelah menunaikan sholat subuh. Dia akan pergi ke alamat yang dituju untuk membuktikan kebenarannya bahwa Zahra memang tinggal di rumah Mikael. Jika iya punya hubungan apa mereka dengan calon istri masa depannya itu.


Elang menaiki mobilnya dengan terburu-buru seperti sedang dikejar waktu. Padahal tidak ada yang menyuruh atau keadaan yang memaksanya untuk datang kesana. Berbagai pikiran buruk melayang dalam benaknya. Mungkinkah hal itu yang membuat Zahra selalu menghindarinya?


Rasa takut mulai kembali merasuk ke dalam dadanya. Jika benar Zahra ada hubungan dekat dengan Mikael apa yang harus dia perbuat dimasa depan? Akankah dia harus meminta maaf pada pria itu? Itu tidak mungkin harga dirinya terlalu tinggi untuk bisa menundukkan kepala di depan Mikael. Akan tetapi jika tidak, dia harus memupus cintanya untuk Zahra.

__ADS_1


Elang benar-benar merasa galau dan dilema kali ini.


__ADS_2