
"Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan ini. Sebaiknya kau datang saja ke rumah nanti malam," kata Mikael. Ariana menatap tajam pada suaminya.
Mikael yang mengerti kegundahan Ariana mengusap punggungnya.
"Maaf, aku harus membayar baju untuk Ariana. Dita ayo ikut dengan Ayah." Mikael lalu merangkul bahu istrinya meninggalkan Sheila dengan kesal sedangkan tangan satunya meraih tangan Dita.
Mereka mengabaikan Sheila yang berdiri dengan wajah memerah dan penuh kebencian. Dia tidak rela Mikael bahagia sedangkan dirinya hidup sendiri dan merana.
Setelah bertemu dengan Sheila membuat mood Ariana memburuk. Wanita itu dalam mode diam, bahkan meminta pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah Ariana memilih masuk ke kamarnya setelah menyiapkan makan siang untuk suami dan anaknya. Mereka tadi membeli makanan di luar dan dibawa pulang ke rumah. Tadinya mereka akan makan diluar namun keinginannya itu hilang seketika ketika mendengar ucapan Sheila.
"Kau tidak ikut makan?"
"Aku pusing dan lelah. Kau makan dulu dengan Dita," ucapnya melangkah pergi.
Ariana pergi ke kamar mandi menatap dirinya di cermin lalu menatap penampilannya. Apa yang Sheila katakan itu memberi seperti sebuah hinaan jika dirinya hanyalah wanita dari kelas rendah yang tidak pantas bersanding dengan Mikael.
Namun, apakah benar yang dikatakan oleh wanita itu? Apakah Mikael akan malu jika membawanya ke komunitas kerjanya. Dia bukan wanita yang sangat cantik, walau bukan berarti dia jelek tetapi jika dibandingkan dengan Sheila dia jauh kalah menawan.
Dia juga bukan wanita berpendidikan yang bisa dibanggakan oleh Mikael lalu dia bukan apa-apa yang bisa Mikael tunjukkan pada siapapun. Ariana merasa rendah diri untuk saat ini. Dia lalu menutup wajahnya dengan tangan dan menunduk.
Tiba-tiba sebuah pelukan hangat datang dari arah belakang. Tangan besar itu mengeratkan tubuhnya pada tubuh Ariana dan mencium kepalanya dalam.
"Kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Ariana menggelengkan kepalanya mengusap wajahnya. Mikael menunduk meletakkan kepalanya di ceruk leher wanita itu.
"Tidak apa-apa," ucapnya menatap Mikael dari pantulan cermin.
__ADS_1
"Benar, tidak apa-apa?" tanya Mikael. Ariana menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kita makan," kata Mikael.
"Aku masih kenyang," tolak Ariana.
"Tadi pagi hanya makan bubur ayam saja, biasanya juga nasi dua piring," goda Mikael.
Ariana mencubit pinggang suaminya sembari mencebikkan bibirnya. "Aku tidak pernah makan sebanyak itu."
"Ayo kita makan, perutku sudah sangat lapar. Dita juga sedang menunggumu di bawah."
"Kenapa kalian tidak makan dulu saja?" Ariana membalikkan tubuhnya menatap Mikael.
"Kenapa kau tidak makan saja bersama kami," balik Mikael merengkuh bahu Ariana dan membawanya turun.
"Dia tidak mau makan tanpamu," kata Mikael dengan pandangan saling bertemu dengan Ariana.
"Dita sangat menyayangimu," tegas Mikael.
"Aku tahu, aku juga menyayanginya."
"Aku juga tahu itu."
Ariana masuk ke ruang makan dan melihat Dita sedang menyentuh ayam panggang kesukaannya. Mencuil daging itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Dia menoleh dan melihat Ayah dan Ibunya datang, lalu tersenyum lebar karena ketahuan.
"Cacing di dalam perutku terus saja mengigit dan menyuruhku mengambil itu," ujar Dita.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau tidak makan saja?" ucap Ariana memotong daging dan memberikannya kepada Dita."
"Aku menunggu Ibu dan Ayah datang, tidak enak makan sendiri. Ibu juga akan makan jika sudah melihatku makan," ujar Dita. Dia memang terlihat lebih pandai bicara dibanding dengan anak seusianya.
"Anak lebih suka meniru apa yang dia lihat. Dia tahu kau selalu makan setelahnya atau bersamanya maka dari itu dia memilih untuk menunggumu datang." Ariana mencium pucuk kepala Dita. Dia lalu mengambil potongan ayam yang lain untuk Mikael.
"Mana piringmu?" tanya Mikael.
"Aku akan makan satu piring saja dengan Dita."
"Ayah sendiri... ," ledek Dita. Mereka lalu makan bersama.
Hari sudah mulai gelap dan Ariana makin menunjukkan kegelisahannya. Dia berjalan mondar mandir di kamarnya membuat Mikael yang sedang mengerjakan pekerjaannya mengalihkan pandangan pada istrinya.
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa," jawab Ariana. Dia lalu memilih duduk di meja rias dan mende. sah keras. Seperti ingin mengeluarkan beban berat dari dalam dadanya.
Mikael tidak konsentrasi lagi dengan pekerjaannya. Dia lalu menutup laptopnya. Di saat itu suara adzan berkumandang.
"Kita sholat dulu," ajak pria itu. Mereka lalu menunaikan kewajibannya di ruang tengah bersama Dita.
Momen yang paling membuat Mikael senang adalah saat seperti ini. Hatinya merasa tenang dan tentram. Impiannya terasa sudah terwujud. Semoga tidak ada lagi kejadian buruk yang membuat rumah tangganya berantakan. Ariana mencium punggung tangan Mikael dan pria itu mencium pucuk kepala istrinya dan dilanjutkan dengan Dita.
"Dita harusnya sudah belajar mengaji mulai dari sekarang," kata Ariana.
"Tapi Ibu yang mengajariku, ayah ..." Dita menatap Mikael. "Galak!" lirih Dita di dekat Ariana. Ariana tertawa keras.
__ADS_1
"Kalian terlihat seperti keluarga yang sempurna dan nampak bahagia sekali?" ucap Sheila di ujung tangga membuat ketiga orang itu langsung menatap ke arahnya. Dia mengatakannya dengan suara tidak senang dan seringai jahat.