
Ariana dan Mikael ke rumah kost Ariana untuk mengambil barang-barang yang penting bagi wanita itu.
"Kenapa tidak sekalian kau bawa saja barang-barangmu semua ke rumahku?" tanya Mikael. Berbaring menatap gadis itu.
Ariana hanya terdiam menumpuk buku-buku yang perlu dia bawa. Selembar foto hendak terjatuh namun dia dengan sigap mengambil dan memasukkan kembali ke dalam buku. Itu adalah foto lama Mikael yang dia simpan selama ini.
Kenapa dia dulu tidak menolak perjodohan itu padahal masih berada di bawah umur? Jawabannya karena dia sudah jatuh cinta pada Mikael. Kenapa dia tidak mengajukan cerai? Karena ada sesuatu dalam hatinya yang tidak rela jika berpisah dari pria itu. Bertahun-tahun dia menunggu pria itu pulang dan meminta maaf. Namun, itu tidak pernah terjadi.
Satu-satunya orang yang tahu dia mencintai Mikael hanya ibunya. Ibunya ikut merasakan kesedihan dan penderitaan putrinya hal itu menjadi beban hatinya. Di tambah lagi gunjingan orang-orang membuat pikirannya bertambah hingga akhirnya ibunya sakit. Ariana sempat tidak meneruskan sekolah setelah SMU untuk merawat ibunya yang mulai sering masuk rumah sakit hingga akhirnya satu-satunya wanita yang dia cintai pergi meninggalkannya.
"Ariana kelasku akan dimulai setengah jam lagi. Bisakah kau lebih cepat sedikit?" tanya Mikael.
"Aku sudah selesai. Kau bantu aku membawa tas itu. Biar aku membawa buku ini."
Mereka lalu membawa barang bawaan Ariana ke bagasi mobil.
"Aku nanti turun di halte bis dekat kampus," ucap Ariana tanpa menatap ke arah Mikael.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau terlihat oleh yang lain."
"Baiklah jika itu maumu," jawab Mikael. Pria itu bukannya tidak peduli. Dia hanya tidak ingin berdebat dengan Ariana dan membiarkan wanita itu melakukan apa yang dia minta. Dia membebaskannya tetapi tetap mengikat agar tidak bisa kemana-mana.
Mereka lalu berhenti di halte bus. Ariana turun dari mobil.
"Kau yakin sampai di sini saja?" Ariana menganggukkan kepalanya. Mobil Mikael lalu berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
Di saat dia mulai berjalan, motor sport milik Adam berhenti di sebelahnya.
"Na, naik," ucap pria itu. Melihat Adam membuat senyum Ariana mengembang lebar. Dia lalu naik ke atas motor menuju ke kampus. Mikael sedang berjalan masuk ke dalam gedung ketika melihat Ariana boncengan dengan mesra bersama Adam. Pria itu hanya menatap tajam menatap ke arah mereka. Setelah itu, dia pergi masuk ke dalam gedung dengan hati yang membara karena marah.
"Ya Tuhan, Pak Mikael kenapa wajahnya? Kok bisa biru-biru seperti itu?" tanya sebagian mahasiswa yang ditemuinya. Mikael menjawab dengan sopan.
__ADS_1
"Pak Mikael, apa ini sakit?" tanya seorang dosen muda cantik, Ika. Dosen itu menyentuh rahang Mikael dengan tangannya.
"Sudah tidak terlalu lagi." Mikael mundur selangkah merasa risi.
"Aku punya obat khusus untuk luka ini. Biar aku obati terlebih dahulu, Pak. Ikut denganku." Ika lalu menarik tangan Mikael.
Mikael terkejut melihat Ariana tengah berdiri melihatnya. Bibirnya terkatup rapat tetapi tatapannya seperti menyiratkan sesuatu. Entah apa itu, yang pasti Mikael tahu wanita itu tidak menyukainya.
Ariana lalu menggandeng lengan Adam dan pergi ke arah yang berlawanan dengan Mikael. Hatinya merasa panas.
"Jadi begitu tingkah suamimu?" tanya Adam.
"Dia sudah bukan suamiku lagi mengingat kami sudah berpisah selama enam tahun lamanya dan itu bukan waktu yang sedikit."
"Kau yakin tidak mempunyai perasaan apapun setelah bertemu dengannya dan menghabiskan waktu berdua. Apa kau tidak menyukainya?"
"Tidak," ucap Raina tegas tetapi kepalanya mengangguk.
"Jika kau menyukainya aku akan mundur mulai dari sekarang."
Raina menatap tajam ke arah Adam dan menekuk wajahnya. "Jika kau mau pergi juga silahkan. Aku tidak peduli!" Emosi Ariana mulai naik, dia mulai berjalan menjauh.
Sebenarnya dia bukan emosi karena Adam tetapi emosi karena kata mundur. Dia merasa tidak patut diperjuangkan dan dicintai sehingga semua pria akan meninggalkannya.
Adam meraih tangan Ariana dan memeluknya. "Jangan marah aku tidak akan meninggalkanmu."
Ariana tersenyum kecut lalu mendorong pelan tubuh Adam. "Ini kampus, nanti kita dimarahi Pak Dosen."
Adam tersenyum, mengacak ringan rambut Ariana dan menarik tangannya ke kelas.
"Seminggu kemarin aku sudah mulai bekerja. Ayahku terkejut dengan niatku itu awalnya namun dia mendukung penuh. Jadwalku sangat padat seusai kuliah. Terkadang menemui klien hingga malam."
"Wow, kau keren."
__ADS_1
"Tentu saja. Aku tidak mau kalah keren dengan Pak Mike. Aku ingin kau bangga mengenalkanku kepada keluargamu."
"Keluargamu sendiri akan menerimaku atau tidak?" tanya Ariana.
"Harus, mereka harus mau jika tidak aku tidak akan mau bekerja lagi di perusahaan itu."
"Kau tidak boleh bersikap seperti itu. Bagi mereka kau adalah kebanggaan serta masadepan mereka. Banyak harapan dan cita-cita yang sudah mereka pikirkan untuk dirimu."
"Ariana, bagiku kau itu segalanya. Jadi, aku akan melakukan apapun agar kita bersama."
Ariana tersenyum lebar. Dicintai memang lebih baik dari pada mencintai karena kita akan diperjuangkan oleh seseorang bukan memperjuangkannya.
"Selamat pagi semuanya," sapa Mikael ketika masuk ke dalam ruang kelas. Dia sempat melihat Ariana dan Adam yang terlihat mesra saling berpegangan tangan. Wajahnya langsung ditekuk dan moodnya turun seketika.
"Sepertinya seharian ini kita akan bertemu. Jamku hanya dua jam pelajaran saja tetapi mata kuliah Bu Endang untuk sementara waktu diserahkan padaku jadi waktu tatap muka kita bertambah."
"Pantas Bapak yang masuk ke kelas ini bukan Bu Endang," celetuk salah seorang mahasiswa.
"Bu Endang kemarin mengalami kecelakaan serius dan mungkin selama beliau mendapat perawatan, jam pertemuannya akan diambil oleh saya."
Terdengar riuh mahasiswa berbicara. Sedangkan para mahasiswi terlihat tersenyum senang. Apalagi mahasiswi paling centil di kelas ini, Keisya. Tersenyum lebar sembari memainkan bolpoin di tangannya. Dia menatap penuh minat pada Mikael.
Sudah bukan hal baru lagi jika Keisya mengejar Dosen itu. Dia sering mencari alasan untuk mendekatinya. Baginya, Mikael adalah target yang harus dia dapatkan.
Keisya adalah seorang selebgram cantik. Dia sering mengunggah foto seksi di laman publik miliknya. Selain itu, banyak rumor yang mengatakan jika dia adalah sugar baby bagi om-om di luaran sana. Ariana tidak peduli tetapi jika wanita itu berani menyentuh suaminya dia akan menemui akibatnya.
"Dia mengatakan jika Minggu lalu telah memberikan tugas pada kalian untuk membuat makalah. Sebagian sudah mengumpulkan dan sebagian lainnya belum. Dia memberikan catatan siapa saja yang belum mengumpulkan tugas. Ada lima orang saja. Hmmm sepertinya memang anak-anak yang sering lalai dari tugasnya."
"Ferdy, Hikam, Mira, Esa, dan Ariana." Mikael menatap tajam pada mahasiswa yang telah disebutkan namanya. Terutama pada Ariana.
"Sebenarnya kalian ini sungguh-sungguh tidak dalam belajar? Jika tidak serius dan tidak ingin meneruskan pelajaran, saya tidak masalah. Kalian bisa meninggalkan ruang kelas ini. Saya lebih baik mendidik beberapa siswa tetapi yang punya semangat tinggi dalam menempuh ilmu dari pada banyak anak tetapi merasa tidak butuh pada pengetahuan. Contoh mereka yang seperti ini adalah lima anak ini. Seharusnya mereka menumpuk tugas tepat waktu bukannya asik dengan mainan atau pacaran saja. Terutama kau Ariana! Ini ruang kelas bukan saatnya untuk saling bermesraan dengan pegangan tangan!''
Wajah Ariana memucat, tangannya dan Adam memang saling bertautan di bawah meja. Bagaimana dia bisa tahu?
__ADS_1