Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Salah Paham


__ADS_3

Tiga hari kemudian ...


Hati Mikael merasa sakit dan perih ketika mendengar bahwa ibunya telah sakit dan sedang koma di rumah sakit. Dia ingin datang untuk menungguinya atau sekedar menjenguk dan mengatakan mencintainya. Namun, kembali lagi situasi ini membuat dia sulit untuk melakukannya. Bukan karena dia tidak mau mencoba, hanya saja Haji Sofyan sudah mengultimatum semua orang untuk melarang Mikael masuk ke ruangan ibunya.


Ameera, adiknya menghubunginya siang ini, menyampaikan keadaan ibunya. Dia mendengar adiknya berharap sangat dia datang namun Mikael mengatakan tidak bisa dan adiknya mengatainya dengan perkataan yang merobek dan menambah luka di hati. Anak yang tidak tahu di untung dan tidak berbakti pada orangtuanya, ucap adiknya tadi mengakhiri panggilan.


Ariana dikejutkan dengan panggilan dari salah satu petugas admistrasi yang datang mendekat.


"Ariana, kemarilah!" panggil Rita, seorang wanita paruh baya yang sedikit gemuk tetapi masih terlihat cantik dan menarik.


Ariana dengan patuh berjalan ke arahnya.


"Apakah kau punya masalah dengan Profesor Mikael?"


"Aku, um, aku ... tidak tahu." Wajahnya memerah dan mulai menggigit bagian dalam pipinya dengan keras.


“Saya menerima dua pesan penting pagi ini, yang meminta saya untuk membuat janji bertemu denganmu. Sebelumnya, saya tidak pernah melakukan ini untuk profesor atau dosen lainnya. Mereka lebih suka menjadwalkan janji mereka sendiri. Untuk beberapa alasan yang saya tidak ketahui dengan pastinya, dia bersikeras agar saya menjadwalkan pertemuan denganmu."


Ariana mengangguk dan mengeluarkan handphonenya dari tas, untuk membuat alarm pengingat tentang pertemuannya dengan sang Profesor.


Bu Rita memandangnya penuh harap. "Jadi nanti siang pukul empat sore?"


Ariana menundukkan wajahnya. "Nanti?"


“Dia ada seminar siang ini dan dia ingin bertemu denganmu nanti di kantornya. Bisakah kau menemuinya karena aku harus mengirim email kembali kepadanya untuk mengonfirmasi. ”


Ariana mengangguk dan mencatat janji temu di alarm memori hpnya, berpura-pura bahwa notasi itu perlu.


“Dia tidak mengatakan tentang apa itu, tetapi dia mengatakan itu serius. Aku ingin tahu apa artinya itu…” Bu Rita terdiam tanpa sadar.


Siang harinya, Profesor Mikael sedang berjalan di aula departemen, meninggalkan mahasiswanya dan beberapa rekan kerjanya berada di belakang. Dia dalam suasana hati yang buruk, dan tidak ada yang berani bertanya padanya. Biasanya pria itu akan menyapa mahasiswa dengan senyum lebarnya yang membuat para wanita berteriak histeris setelahnya. Pria itu tampan dan memikat semua yang melihatnya.

__ADS_1


Sepanjang hari ini dia marah-marah, wataknya yang mudah tersinggung diperburuk oleh stres dan kurang tidur. Beberapa mahasiswa menjadi sasaran empuk kemarahannya.


Ariana sudah berdiri di depan ruangan Profesor sejak jam satu lebih untuk melakukan temu janji. Dia hampir melonjak senang karena hampir pukul setengah tiga sang profesor belum juga muncul. Senyum cerahnya berangsur menghilang ketika melihat sang Profesor berjalan ke arahnya bersama dengan Adam.


Adam memberi tanda padanya di belakang profesor dengan meletakkan telapak tangan di lehernya yang artinya dia akan mampus jika bertemu dengannya. Dada Ariana berdebar kencang seketika. Jika bisa dia lebih baik dikejar anjing gila dari pada bertemu dengan pria ini.


Profesor Mikael berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam ruangan, Adam menatap mata Ariana dan menggelengkan kepalanya, mengucapkan beberapa sumpah serapah pilihan tentang Profesor, sebelum tersenyum. "Kita pulang bersama nanti." Ariana balik menatapnya lalu menganggukkan kepala.


Adam tersenyum dan membungkuk ke arahnya. "Kita akan nonton dan makan malam sesudahnya."


"Ariana, masuk!" Panggil Profesor Mikael. Ariana lantas bergegas masuk ke dalam ruangan itu. Langkahnya terhenti dan terlihat ragu ketika hendak menutup pintu ruangan.


Ariana bisa melihat wajah Profesor Mikael yang tampak lelah. Ada lingkaran keunguan di bawah matanya dan sangat pucat, hal itu membuatnya terlihat lebih kurus. Saat dia meneliti file, lidahnya dikeluarkan dan perlahan menjilat bibir bawahnya.


Ariana menatap, terpaku oleh mulut sensualnya. Setelah beberapa saat, dengan susah payah dia mengalihkan pandangannya dari bibir pria itu dan beralih melihat kacamatanya.


Dia belum pernah melihat Mikael memakai kacamata sebelumnya, atau mungkin dia hanya memakainya saat matanya lelah. Namun, kali ini manik mata cokelatnya yang tajam tersembunyi di balik sepasang kacamata Prada hitam. Bingkai hitam sangat serasi dengan hitam kelam rambut lurusnya yang jatuh di dahi, menjadikan kacamata sebagai titik fokus di wajahnya.


Ariana sadar bahwa dia belum pernah melihat seorang dosen terlihat sebegitu menarik seperti Mikael dan membuat mata wanita akan dimanjakan oleh pesonanya dan jatuh terpikat. Dia lebih cocok sebagai seorang model iklan rokok yang identik dengan ketampanan dan kemaskulinan.


Ariana menghela napas dan berjalan ke kursi besi beralaskan busa tipis berwarna merah yang terletak tepat di depan salah satu rak buku yang besar.


“Bawa kursi itu kemari dan duduk depanku karena aku tidak ingin menjulurkan leherku hanya untuk wajahmu yang masam itu.”


Cih, bahkan kata-katanya masih menyakitkan saja. Sepertinya itu wataknya atau juga hobi untuk menghina orang. Batin Ariana.


Ariana lantas mengangkat kursi itu. Oleh karena, gugup dan ceroboh dia menjatuhkan ransel yang disampirkan di bahu ke lantai. Dia meringis dan merasa malu dari kepala hingga kaki saat beberapa isi tasnya yang lebih kecil tumpah, termasuk wadah air dan kunci kamar kos yang berguling di bawah meja Profesor Mikael dan berhenti satu inci dari tas kulitnya.


"Mungkin dia tidak akan menyadarinya sampai aku pergi," pikir Ariana dalam hati melihat botol berwarna biru itu.


Dia baru saja mengangkat tasnya kembali namun tali di tas juga putus dan semua yang dia bawa jatuh ke lantai dengan dentuman keras. Dia berlutut dengan cepat ketika kertas, pena, iPod, ponsel, dan sebungkus roti bersebaran di atas karpet Persia yang indah milik Profesor.

__ADS_1


"Ya Tuhan, dari semua mahasiswa dan orang gila yang abadi, bunuh aku sekarang. Tolong!" umpatnya dalam hati lagi.


"Apakah kau sedang melawak, Ariana?"


Punggung Ariana menegang mendengar sarkasme itu lalu menoleh menatap wajah Mikael. Dia hampir menangis.


Bagaimana bisa seseorang dengan nama malaikat begitu kejam? Bagaimana bisa suara yang begitu merdu menjadi begitu keras? Ingatannya kembali ke masa lalu mereka. Namun, daripada merutuki nasibnya yang buruk lebih baik dia menarik napas dalam-dalam. Dia memutuskan bahwa ada baiknya dia membiasakan diri dengan keadaan sekarang, meskipun itu adalah kekecewaan yang mendalam dan menyakitkan.


Diam-diam, dia menggelengkan kepalanya dan kembali mengisi ranselnya yang sekarang rusak.


“Saya mengharapkan jawaban ketika saya mengajukan pertanyaan. Tentunya kau sudah mempelajari pelajaranmu sekarang? ” Mikael mengamatinya dengan cepat, lalu melirik kembali ke file di tangannya. “ Atau kau tidak sepintar itu untuk menjawabnya?"


"Maaf, Dokter Mikael " ujar Ariana sengaja memanggil salah lembut tapi tajam. Dia tidak yakin dari mana keberaniannya berasal namun dia tidak suka dihina.


"Aku ini profesor Mikael," bentaknya. “Doktor bukan dokter!"


"Berhentilah mengatakan hal bodoh. Lekas duduk kemari dan kita mulai berbicara penting."


Ariana bisa melihat bahwa Mikael sangat marah sekarang, jadi dia meletakkan tasnya di lantai dan duduk dengan tenang di kursi yang tidak nyaman. Dia melipat tangannya, hanya agar tidak meremasnya, dan menunggu.


"Kau ingin menghina atau mengejekku dengan menuliskan hal ini dan menggantungkannya di knop pintu?" Mikael melemparkan secarik kertas yang mendarat tepat di bawah sepatu ketsnya.


Ariana membungkuk untuk mengambilnya sembari menelan Salivanya dalam-dalam ketika membacanya.


Kamu dilahirkan ke dalam keluargamu dan keluargamu dilahirkan ke dalam dirimu.


Tidak ada pengecualian. Ibu adalah orang yang paling penting dalam hidupmu.


Dengan penuh cinta.


Ariana Prameswari.

__ADS_1


“Aku bisa menjelaskan. Itu adalah sebuah kesalahan. Kata terakhirnya tidak saya…”


“Aku tidak tertarik dengan alasanmu! Saya memintamu untuk menemuiku bukannya membuat quotes seperti itu, apa kau ingin mengejekku dengan masalah yang sedang kualami?" seru Mikael dengan wajah yang menggelap.


__ADS_2