Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Mempelai pengganti


__ADS_3

"Aku menurut apa kata Kakek," ucap Zahra dengan suara gemetar.


"Kau lihat Sofyan, Zahra ini tidak pernah menolak permintaanku. Dia selalu melakukan apa yang ku perintahkan tanpa membantah apapun. Dia cucu terbaik yang pernah ku miliki kau beruntung mempunyai dia."


"Elang aku terima lamaranmu tetapi kehidupan Zahra dulu tidak semanis yang sekarang. Apa kau siap menerimanya dengan semua masalah yang melekat pada dirinya, termasuk asal usul?"


"Saya siap dan saya sudah tahu semuanya tentang Zahra." Elang menatap Zahra penuh cinta.


"Bagaimana dengan dirimu Sanjaya? Apa kau mau menerima Zahra sebagai menantumu, statusnya hanya anak angkat di keluargaku, dia bukan siapa-siapa?"


"Saya terserah pada keputusan anak saja. Apapun itu, asal mereka bahagia dan punya komitmen bersama saya tidak melarang." Sanjaya terdiam menatap ke arah Elang.


"Yang kedua, bahagia itu ada di hati. Kalau hidup mereka berpegang pada Yang Kuasa makan ketenangan selalu ada di hati. Nak Zahra, Elang itu sedikit bandel. Jika kau memang mau menikah dengannya bapak harap kau mau membawanya ke jalan yang Alloh tunjukkan."


"Yah, aku itu anak sholeh karena ingin dapat istri yang solehah, kata orang lelaki baik itu untuk wanita yang baik pula, jadi walau aku bandel aku selalu berpegang teguh pada ajaran Nabi. Tidak pernah berbuat hal tidak senonoh, benar tidak Zahra?" potong Elang membuat semua tertawa.

__ADS_1


Wajah Zahra sendiri memerah dibuatnya.


"Ya sudah acara lamarannya akan dimulai, jika tidak ada yang keberatan," ucap Kakek Toha.


Lalu acara seserahan di mulai. Pihak calon mempelai pria tidak membawa apapun jadi doa restu yang diberikan.


"Tunggu, aku dari pihak mempelai pria ingin memberikan sesuatu." Ariana lalu melepaskan kalung dan gelang miliknya pada Zahra sebagai bawaan dari mempelai pria.


"Aku sebenarnya bawa cincin untuk ku sematkan di jari Zahra," ucap Elang malu. Dia mengeluarkan sebuah cincin berlian bermata kecil yang dua simpan di saku bajunya.


"Mulai hari ini saya tidak akan menolak pemberian darimu," ucap Zahra membuat hati Elang berbunga. Pria itu langsung menatik tangannya yang terkepal menyikut ke belakang.


"Yes!" ungkapnya senang.


"Ayo, pasangkan Kaka," dorong Ariana di sebelah Elang.

__ADS_1


Elang yang biasa terkenal macho, cool dan terlihat garang kini nampak berbeda. Tangannya gemetar ketika akan mengambil tangan Zahra untuk menyematkan cincin itu ke jarinya.


"Santai Nak Elang, rileks, ambil nafas," ledek Kakek Toha.


Elang menyeka keringat di dahinya, menarik nafas dalam lalu meraih tangan Zahra dan menyematkan cincin itu dijari manisnya.


Seluruh ruangan mulai bertepuk tangan senang. Melupakan kejadian rusuh tadi, menganggapnya tidak ada.


"Mulai sekarang aku adalah kakak iparmu kau tidak boleh macam-macam lagi padaku."


"Aku juga kakak iparmu!" ujar Elang tidak mau mengalah.


"Sudah... sudah... kita berdoa dulu untuk bersyukur karena acara ini berlangsung dengan baik walau calon mempelai prianya diganti tetapi tidak mengurangi kebahagiaan keluarga ini."


Lalu doa dipanjatkan oleh pemuka agama yang ada di acara itu.

__ADS_1


"Kakek, kalau boleh, Elang minta tolong jika pernikahannya dipercepat saja. Tiga hari lagi begitu."


__ADS_2