Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Rumah Impian


__ADS_3

"Aku menolaknya. Terserah kau akan membuat nilaiku jatuh atau apa. Aku tidak peduli hanya saja aku tidak mau masuk ke dalam lingkar mengerikan yang terjadi enam tahun lalu."


Mikail nampak menatap tajam dirinya. Ada gurat kemarahan dari wajahnya, rahangnya terlihat mengetat dan bibirnya yang tebal itu tertutup rapat. Seperti menahan sesuatu.


"Okey, kalau itu maumu. Namun, ketika suatu hari kau membutuhkanku untuk menandatangani surat perceraian aku tidak akan mau melakukannya. Sekarang kau bisa keluar dari ruanganku dan universitas ini. Aku akan mengeluarkanmu karena telah berbuat tidak menyenangkan dan melawan pada dosen. Selamat tinggal, pintu keluar ada di belakangmu!"


"Egois," ucap Ariana bangkit.


"Kau yang lebih egois, aku hanya meminta waktu beberapa hari saja padamu untuk bisa bertemu dengan ibuku tetapi kau menolaknya."


"Kau tinggal datang minta maaf pada mereka, kau bisa bersama lagi dengan keluargamu dan semua selesai!" seru Ariana.


"Jika semudah itu, sudah kulakukan dari beberapa tahun yang lalu." Mikael lalu melipat tangan di atas meja. Wajahnya terlihat tenang tetapi tatapan matanya menampakkan kesedihan yang mendalam.


"Pergilah. Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga. Mungkin takdirku tidak akan pernah bisa melihat lagi wajah ibuku. Hanya tinggal menunggu hari saja," ucapnya lirih di kalimat terakhir.


Ariana mulai ragu dengan keputusannya.Dia tahu betul bagaimana sakitnya kehilangan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya.


Ibu Siti, ibu dari Mikael, dia sangat mengenalnya dari kecil. Dia begitu penyayang. Sama seperti ibunya. Terkadang dia sengaja menemui Ariana di sekolah hanya untuk membawakan makan siang atau memberikannya bingkisan.


Walau keluarganya membenci keluarga Toha, tetapi itu tidak menghalangi perempuan itu untuk merajut hubungan dengan menantunya. Setelah Ibunya meninggal, ibu Siti menggantikan sosok ibu baginya. Namun, setelah dia kuliah di sini semua berubah. Dia tidak pernah bertemu dengannya lagi.


"Memang Ibu sakit apa?" tanya Ariana lirih. Manik mata Mikael memperlihatkan keterkejutannya tetapi pria itu mengambil handphone. Dia menunjukkan sebuah foto pada Ariana. Foto Ibu Siti yang berada di suatu ruangan dengan berbagai alat kehidupan yang melekat di tubuhnya.


"Ini foto terakhir yang dikirimkan adikku beberapa hari yang lalu. Sewaktu kau mendengar ... aku tidak tahu apa saja yang kau dengar. Wajar bila kau marah dan membenciku tetapi kali ini aku meminta bantuanmu. Bukan demi ku, tetapi demi ibuku."


Ariana mengusap wajahnya. Terdiam beberapa saja.


"Baiklah, demi dia, aku bersedia melakukannya.''

__ADS_1


"Kau yakin?" kata Mikael terkejut.


"Berapa hari?"


"Hanya satu Minggu mungkin bisa lebih cepat atau aku tidak bisa memperkirakan, melihat kondisi Ibu kedepannya."


"Tidak lebih dari satu Minggu setelah itu kita kembali kemari sebelum keluargaku tahu dan akan membuat masalah lain!" tawar Ariana.


"Baiklah, kalau begitu kita pergi sekarang?"


"Sekarang? Aku bahkan belum mempersiapkan apapun."


"Kita ke kostan mu dulu mengambil pakaian yang akan kau bawa setelah itu ke rumahku mengganti mobil dan membawa barang-barang ku."


"Apakah tidak bisa besok saja? Aku harus memberi tahu Adam masalah ini. Bagaimanapun dia kekasihku," ujar Ariana.


Mikael memasukkan barang-barangnya ke dalam tas kulit pria itu dan membawanya keluar ruangan. Ariana mengikutinya di belakang. Mereka berjalan bagai dua orang asing. Tidak ada yang pernah menyangka jika sejatinya mereka adalah sepasang suami istrinya.


Mikael masuk ke dalam mobil. Ariana hendak masuk ke kursi belakang penumpang.


"Aku bukan sopirmu," ujar pria itu. Akhirnya Ariana duduk di kursi depan bersebelahan dengan pria itu. Rasa malu menderanya ketika beberapa mahasiswa yang melihat menatapnya dengan tatapan curiga. Mereka pasti berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Pikir Ariana.


Mereka lalu pergi ke kostan Ariana untuk mengambil bajunya setelah itu mereka ke rumah Mikael untuk mengambil barangnya pula. Ariana penasaran seperti apa rumah pria itu. Apakah besar seperti rumah keluarganya di kampung atau kecil seperti masyarakat perkotaan atau mungkin tinggal di apartemen?


Selama dalam perjalanan itu mereka terdiam tidak mengatakan apapun. Ariana tidak tertarik mengajak pria itu berbicara, dia hanya memainkan handphonenya membalas chat atau pesan orang-orang.


Mereka sampai di sebuah kompleks perumahan. Ariana mulai fokus melihat depan sembari menebak rumah Mikael yang mana? Kenapa hatinya malah berdebar tidak karuan seperti ini. Seperti akan pergi ke rumah mertua untuk pertama kalinya. Ariana menertawakan dirinya sendiri dalam hati.


Akhirnya mobil Mikael berhenti di sebuah rumah dengan pagar tinggi bercat hitam. Dia mengambil remote dan memencet tombolnya. Perlahan pintu gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Wow, walau Ariana pernah melihatnya dalam tayangan televisi dia baru pertama kali merasakannya.

__ADS_1


Rumah Mikael bergaya minimalis modern jika di lihat dari luar. Mobil lalu masuk ke dalam halaman. Rumah dengan banyaknya jendela kaca yang besar. Terlihat hijau dengan tanaman yang di tempelkan di tembok dan beberapa pot bunga besar. Sangat asri dan indah, tidak begitu besar namun cukup untuk keluarga kecil. Rumah idaman siapapun. Kenapa dia yang merasa bahagia sekarang. Ini pasti gila. Batinnya sembari tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum sendiri?" tanya Mikael mengangkat dua alisnya ke atas.


"Aku membaca pesan dari temanku yang lucu," jawab Ariana yang setengah terkejut mendapat pertanyaan seperti itu.


"Kita masuk dulu ke dalam," ajak Mikael melepas sabuk pengaman.


Mereka lalu keluar dari mobil. Menaiki beberapa anak tangga yang berada di luar rumah. Ariana menahan nafasnya ketika memasuki rumah itu untuk pertama kalinya. Dia merasa gugup.



"Apa kau menyukainya?" tanya Mikael melihat ekspresi Ariana.


"Hah...!" Ariana balas menatap Mikael dan tertawa kecil mengatasi kecanggungannya. Menghembuskan nafas keras.


"Ini sangat indah. Kau mengaturnya dengan bagus, bukan rumah dengan banyak barang mewah namun terlihat berkelas. Terlihat nyaman untuk ditinggali," jawab Ariana menghela nafasnya karena berhasil menjawab pertanyaan itu. Jantungnya mengapa tidak bisa diajak berkompromi, berdetak dengan keras. Ariana takut jika Mikael sampai bisa mendengarnya.


"Terima kasih atas pujiannya. Kau benar sebuah rumah yang penting nyaman untuk ditinggali. Entah itu mewah atau tidak."


"Aku akan keatas untuk mengambil barang-barang ku, lalu kita makan siang." Pria itu melepas melonggarkan dasinya dan duduk melepas sepatu.


"Silahkan duduk, jangan canggung! Anggaplah berada di rumah sendiri."


"Ini bukan rumahku," ujar Ariana dengan mimik lucu. Mikael tersenyum. Senyum yang memikat, ada dua lobang di kedua pipinya yang menambah indahnya senyuman itu.


"Ayah, kau sudah pulang?" terdengar suara anak kecil dari lantai atas menuju ke arah mereka.


"Ayah," gumamnya menatap ke arah Mikael. Dia lupa jika suaminya pasti telah memiliki istri lain seketika punggungnya seperti terkena beban berat. Sepertinya dia lupa pada kenyataan, jika Mikael itu punya wanita lain dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2