Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Ibu Sah


__ADS_3

Pertama kali Mikael membawanya ke sekolah Paud Dita. Mereka masuk bersama dan berinteraksi dengan guru-gurunya.


"Oh, ini mama Dita," kata salah seorang guru. Dita menganggukkan kepalanya.


"Ibu cantik kan?" celetuk anak itu memegang kaki Ariana.


"Hmmm dan masih sangat muda. Makanya punya anak secantik Dita," kata Bu guru memegang dagu Dita. Mikael tersenyum, tangannya memeluk pinggang Ariana seolah ingin menegaskan jika hal itu benar adanya.


"Yuk, sekarang masuk ke kelas," ajak Bu guru tadi pada Dita.


"Ibu nanti jemput aku pulang kan?" tanya Dita sebelum masuk ke kelas. Ariana melihat ke arah Mikael.


"Nanti kami akan menjemputmu pulang," ucap Mikael. Biasanya pengasuh yang akan menemani Dita ke sekolah dan menungguinya hingga selesai namun kini Dita belajar untuk ditinggal di sekolah hingga jam sekolah selesai. Baru dijemput pulang.


"Yeay!"


"Kami pergi dulu, ya, baik-baik di sekolah jika ada yang nakal hmmm pukul saja tetapi jangan buat masalah terlebih dahulu," bisik Ariana pada Dita membuat anak itu melebarkan matanya.


"Kau mengatakan apa?" tanya Mikael setelah melihat Dita masuk ke sekolah dan mereka berada di dalam mobil dalam perjalanan ke universitas.


"Tidak apa-apa hanya pembicaraan antara ibu dan anak," jawab Ariana asal. Mikael menaikkan satu alisnya ke atas.

__ADS_1


"Okey, pembicaraan antara ibu dan anak. Aku senang kau mulai mau menjalani peranmu sebagai Ibu," ujarnya kemudian.


"Wanita itu butuh kepastian, jika kau bisa memberinya, baru dia akan berpegang erat padamu. Jika kau mempermainkannya maka kau akan membuat hidupnya hancur." Perkataan Ariana membuat Mikael tersenyum kecut.


Dia mengusap rambut Ariana pelan lalu menariknya untuk dicium. "Kita tidak tahu hidup akan membawa kita kemana. Dulu itu sebuah kesalahan karena menyiakanmu tetapi aku menjadikannya suatu pelajaran. Jika tidak aku tidak akan mendapatkan Dita. Aku tidak berharap kau bisa mencintai Dita dengan sepenuh hati, kau cukup menerima dan memperlakukan dia dengan baik itu lebih dari cukup."


"Aku bukan tidak menerimanya hanya saja kau tahu aku tidak mungkin membuat kecewa seorang anak karena hubungan kita belum tentu dan jelas."


"Apakah sekarang sudah jelas?" tanya Mikael.


"Belum, aku tidak yakin bagaimana reaksi keluargaku jika melihatku menerimamu kembali."


Mikael menghela nafas panjang. "Aku akan menemui mereka bulan depan sekalian menengok ibu lagi."


"Aku lebih takut kehilangan wanita baik sepertimu," jawab Mikael membuat wajah Ariana tersipu.


Sejenak mereka terdiam.


"Tadi mengapa Bu guru Dita seperti terkejut melihatku datang? Apakah Sheila tidak pernah mengantar Dita atau ...."


"Sheila malu mengakui Dita sebagai anaknya. Akhirnya aku memutuskan memakai namamu sebagai ibu dari Dita. Hanya dengan cara itu Dita mempunyai akta kelahiran karena aku menggunakan buku nikah kita." Ariana membuka mulut lebar dan menutupnya seketika.

__ADS_1


Ariana menunjuk ke arah Mikael lalu tangannya berputar-putar ruwet. Memegang dahinya sendiri.


"Jadi secara hukum Dita adalah anakku?" tegas Ariana menelan Salivanya dengan sulit.


"Ya," jawab Mikael.


"Memang kapan Sheila meninggalkan Dita?" Rasa ingin tahu Ariana tentang masalah ini begitu tinggi sekarang. Tadinya dia tidak ingin mencampuri urusan dalam negeri pria itu.


"Beberapa bulan setelah kelahiran Dita, Sheila mulai sibuk dengan dunia hiburan dan kau tahu seperti apa dunia itu, pergi pagi dan pulang malam lalu ketika Dita belum berumur setahun Sheila benar-benar meninggalkannya. Waktu itu sinetron yang sedang diperankan oleh Sheila sedang naik daun dan dia tidak ingin ada rumor tentang dirinya jadi dia memutuskan untuk meninggalkan Dita begitu saja."


"Adakah ibu setega itu pada anaknya?" gumam Ariana setengah tidak percaya tetapi dia melihat kenyataan yang ada. Rasa prihatin dan iba pada Dita membuatnya merasa bersalah karena tidak masih menutup diri pada kehadiran anak itu. Dita tidak bersalah mengapa dia harus melakukan itu? Dia bahkan belum pernah menyebut dirinya ibu didepan Dita.


"Aku tidak ingin menarik rasa simpatimu dengan menjelekkan wanita lain namun itulah yang terjadi."


"Jadi dari kecil Dita sudah kurang kasih sayang Ibu?" Ariana menatap Mikael.


"Bisa dibilang seperti itu. Aku dan Dita saling memiliki satu sama lain karena kami tidak punya siapapun lagi hingga kau datang dan mau membantuku menemukan kembali keluargaku," ucap Mikael.


"Dengan kata lain kau mendekatiku karena hanya ingin dekat dengan keluargamu?" tanya Ariana lirih dengan nada kecewa. Mikael yang mendengar pertanyaan Ariana lalu menghentikan kendaraannya tiba-tiba. Sehingga mobil yang berada di belakangnya menabrak bamper belakang mobil.


Brak!

__ADS_1


"Woy, kalau berhenti jangan tiba-tiba!" teriak orang di belakang mobil mereka. Ariana dan Mikael saling berpandangan.


__ADS_2