Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Menggoda


__ADS_3

Mata Ariana terbelalak. Tubuhnya membeku seketika. Dia langsung menyipitkan matanya dan menatap tajam pada Mikael.


"Kenapa kau mencium pipiku, perjanjiannya aku hanya menemani bukan untuk disentuh!" Ariana meletakkan kembali handuk hangat itu dengan kasar di baskom sembari melipat tangan di dada.


"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih tidak lebih. Seorang kakak sering melakukannya pada adiknya," kilah Mikael.


"Hanya kali ini tidak lagi!" Ariana mengacungkan telunjuk ke depan Mikael.


"Tidak lagi," ucap pria itu lalu bergumam lirih. "Tidak lagi hanya kecupan."


"Apa?"


"Tidak apa-apa," ujar Mikael mulai mengambil handuk itu dan memerasnya.


"Kenapa kau tidak mengambil air es saja?" tanya Mikael.


"Oh, harusnya pakai air es ya? Mengapa kau tidak mengatakan dari tadi." Ariana menatap ke arah baskom itu. "Tadinya ini aku pikir kugunakan untuk membersihkan luka tubuhmu yang jatuh di tanah tadi."


"Ya, sudah tidak apa-apa," kata Mikael.


Ariana lantas mengambil tangan Mikael yang kotor dan membersihkannya.


"Pelan," ucap pria itu.


"Kenapa kau tadi tidak mengaduh sewaktu dihajar oleh Kak Elang, malah baru sekarang."


"Jika tadi tidak ada yang mendengar kalau sekarang ada yang memperhatikan." Ariana lantas manyun mendengarkannya.


Setelah selesai Ariana menyingkirkan baskom, dia mengambil handuk kering. Lalu mengelap tubuh pria itu.


"Kenapa aku merasa punya istri ya?" goda Mikael.


"Sementara, ini kulakukan hanya karena aku merasa bersalah. Kakakku yang melakukannya dan aku yang akan bertanggung jawab. Satu hal yang perlu kuingatkan. Aku bukan istrimu lagi. Kau tidak menafkahiku selama enam bulan lahir batin dan talak itu bisa jatuh." Ariana mengambil salep dan mulai memakaikannya ke wajah Mikael terlebih dahulu.


"Aku belum pernah mengatakan kata cerai apakah itu artinya kita telah bercerai secara hukum agama dan hukum negara?"


Ariana menelan Salivanya dalam-dalam. "Kau harus memegang janjimu untuk melibatkan ku hanya sampai kita kembali ke kota."


"Kalau begitu aku tidak akan pulang ke kota."


Ariana menekan jarinya di sudut bibir Mikael yang sobek dengan kesal.


"Aww, sakit," ujar pria itu.


"Aku juga sakit jika kau permainkan."


"Aku tidak akan mempermainkan kali ini."

__ADS_1


"Akh! Sudahlah, kau obati sendiri saja lukamu. Berbicara denganmu membuat kepalaku terasa pening." Ariana meletakkan salep itu di atas paha Mikael begitu saja lalu bergerak keluar kamar sembari membawa baskom tadi.


"Kau akan turun untuk makan malam atau mau kuambilkan makannya kemari."


"Aku akan turun."


"Aku tunggu karena tadi semua sudah makan terlebih dahulu," ucap Ariana.


"Aku pun akan menunggumu jatuh cinta padaku," ujar lirih Mikael menatap kepergian Ariana. Dia mulai tertarik pada Ariana ketika melihat bagaimana wanita itu rela menjadi perisai baginya dari serangan Elang.


"Lebih baik dicintai dari pada mencintai, benar yang orang katakan. Jika dicintai kita akan melihat bagaimana orang berjuang untuk kita. Sedangkan jika kita yang mencintai hanya kita yang berjuang dan akhirnya lelah serta menyerah."


"Kau istimewa karena itu keluarga ini begitu membelamu. Kini aku menyadarinya."


Esok paginya, Ariana dan Mikael berpamitan pada semua orang untuk kembali ke kota. Ibu Siti terlihat sangat keberatan dengan kepergian mereka yang cepat namun dia tidak bisa mencegahnya. Mereka akan pulang naik pesawat mengingat kondisi Mikael yang babak belur dan masih terluka akibat perkelahian dengan Elang kemarin.


Mobil mereka tinggalkan di rumah ini dan akan diantar oleh orang suruhan Kakek Toha. Kali ini Mikael pergi dengan tenang dan senang.


"Ariana kita ke rumahku saja!" pinta Mikael mencari alasan sewaktu mereka dalam pesawat perjalanan pulang.


"Hah! Aku tinggal di rumahmu. Tidak, aku lebih baik pulang ke kostan ku sendiri."


"Di rumahku lebih nyaman, kau tidak harus membayar uang bulanan dan kau bisa makan dengan bebas."


"Kau akan mengatur hidupku nantinya."


"Tidak kau akan bebas melakukan sesuatu asal jangan bawa lelaki main dan menginap di sana. Jika hanya untuk sekedar menjemput silahkan."


"Ya sudah."


"Iya, Ibu tinggal bersama kami saja, biar aku punya teman bermain."


"Sayang, tempat tinggal Ibu tidak di sana."


"Kan Ibu kemarin tidur bersama aku dan Ayah, kenapa sekarang tidak mau lagi?" cecar Dita.


"Kau terangkan padanya karena kau yang melempar masalah ini." Ariana berharap Mikael bisa menjelaskan hal itu pada Dita.


"Ayah juga tidak tahu, padahal Ayah sedang terluka dan katanya akan ada yang bertanggung jawab."


Ariana mendengus kesal. "Pak Profesor kau benar-benar menggunakan akalnya dengan baik. Baiklah, aku akan menginap di rumah kalian hanya sampai kau sembuh setelah itu jangan halangi aku untuk kembali. Satu lagi, kau juga harus mengurus surat cerai kita."


Mikael terdiam. Masalah perceraian ini masih saja belum usai.


"Apakah kau ingin ibuku masuk rumah sakit lagi karena mendengar perceraian kita? Setidaknya tunggu waktu yang tepat."


"Baiklah, namun ketika Adam melamarku, kau harus segera mengurusnya."

__ADS_1


"Ya, jika kau yang meminta."


"Aku sedang memintamu sekarang," ujar Raina menahan geram.


"Siapa tahu kau lupa," ujar Mikael.


"Sebetulnya kau ini kenapa sih dari semalam seperti berubah tidak seperti biasa yang sok dingin, angkuh dan berwibawa. Kenapa karaktermu berubah?"


"Kau suka yang mana?"


"Aku tidak suka keduanya." Ariana menatap Mikael sembari mengangkat kedua alisnya.


"Karena kau belum mengenalku. Jika sudah kau akan seperti mahasiswi lain yang mengejarku."


"Oh, aku pernah mendengar bagaimana mereka selalu cari perhatian padamu. Adakah yang pernah berhubungan lebih denganmu?"


"Aku bukan tipe pria seperti itu. Aku orangnya setia. Jika suka satu wanita tidak akan melihat wanita lain."


"Gombal!" Ariana lalu melihat Dita yang tertidur. Dia mengambil selimut dan mulai menyelimutinya. Dita meminta duduk dekat jendela sehingga Ariana duduk di sebelah Mikael.


Mereka saling terdiam. Ariana asik membaca chat dari teman-temannya dan Adam.


Adam :Kenapa aku takut kau jatuh cinta pada penjagal itu.


Ariana :Jangan sebut dia seperti itu!


Adam :Aku lupa jika dia adalah suamimu.


Ariana : Lebih tepat ke mantan mungkin karena kau adalah suami masa depanku.


Adam : Aku harap kau tidak lupa dengan itu. Oh, Ariana aku itu sangat mencintaimu.


Ariana :Aku juga.


Adam. : Salam kecup Sayang. Maaf aku tidak bisa menjemputmu karena aku juga ada di luar kota. 😘😘😘


Ariana. : Tidak masalah. 😘😘😘 muachhh!


"Muach." Mikael mengecup pipi Ariana membuat wanita itu terkejut lagi.


"Kau?!" Ariana memegang pipinya yang masih panas terkena sentuhan bibir pria itu.


"Aku hanya menggantikan Adam saja," kilah Mikael kembali serius melihat ke i pad-nya seraya menahan tawa.


"Ih.. !" Ariana nampak sangat kesal.


"Aku baru tahu jika kau dan Adam mengatai aku dengan sebutan penjagal. Itu bukan kelakuan seorang mahasiswi yang baik."

__ADS_1


Ariana membulatkan bola matanya wajahnya yang baru saja memerah kini bertambah panas lagi seperti kepiting rebus.


"Kau membaca chatku dengan Adam tadi?"


__ADS_2