Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Menjemput Kekasih


__ADS_3

Mikael mengendarai mobil sendiri menuju ke rumah Raina. Berbagai perasaan dan feeling buruk bersarang dalam otaknya. Dia tahu siapa yang harus dihadapi tetapi jika dia datang dengan keluarganya maka sama saja membawa masalah baru. Mereka malah akan merasa bahwa dia tidak serius untuk meminta maaf.


Tinggal dua belokan lagi dan dia akan sampai di rumah Ariana. Dadanya berdegub kencang memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Ariana, apakah wanita itu benar-benar mencintainya seperti apa yang Ameena katakan? Jika iya, itu seperti sebuah fatamorgana. Dia pernah begitu menyakiti wanita itu jadi rasanya itu tidak mungkin.


Namun, apapun itu, dia akan berusaha sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan hubungan yang baru mereka bina.


Mikael menahan nafasnya kala mobil masuk ke dalam pekarangan rumah Ariana. Dia langsung saja menerobos masuk tanpa meminta ijin pada penjaga. Beberapa pekerja keluarga Sanjaya mulai berlarian ke arah mobilnya.


Mikael mematikan mesin mobilnya. Dia memakai kaca mata hitam miliknya, menarik nafas untuk memberi semangat pada diri sendiri lalu membuka pintu mobil. Semua orang terkejut melihatnya keluar dari mobil. Seorang pekerja langsung berlari masuk ke dalam rumah.


"Pak Sanjaya... Pak Sanjaya," teriak pegawai itu seperti orang yang kesetanan.


Ariana yang sedang berada di belakang rumah membantu para pekerja memitil jagung bagitu terkejut mendengar teriakan orang itu. Dia berdiri dan bertanya pada orang di sekitarnya melalui isyarat mata.

__ADS_1


"Non, anu... itu... suami Non ada diluar eh mantan... ah aku tidak tahu yang jelas cucu keluarga Toha ada di depan rumah."


"Yang benar Ika?"


"Benar, masa aku bohong sih, Non," ujar pekerja muda itu yang juga sahabat Ariana.


Wajah Ariana memucat. Dia langsung berlari tanpa alas kaki ke arah luar rumah lewat samping. Hatinya merasa senang sekaligus takut. Telapak kakinya sempat menginjak batu runcing. Dia menghentikan langkahnya untuk menyingkirkan batu yang menancap di kulit. Darah segar mulai mengalir tetapi dia tidak peduli.


Dia merasa senang karena secepat itu Mikael datang tetapi takut dengan nanti apa yang akan terjadi. Ayahnya pasti murka dan Bayu yang sudah mendendam pasti akan menggunakan kesempatan itu untuk melampiaskan kemarahannya.


Ariana menghentikan langkahnya ketika sudah berada di dekat Mikael. Dadanya berdebar dengan kencang. Nafasnya terengah-engah karena baru saja berlari dan sebuah senyuman lebar menghiasi bibirnya.


"Kau cepat sekali kemari?" tanya Ariana dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Aku datang kemarin malam. Pulang ke rumah Kakek."


"Mau apa datang kemari?" tanya Ariana setengah berbisik melihat ke sekitar, penuh dengan orang yang menatap ke arahnya.


"Tentu saja untuk meminta restu pada keluargamu untuk membawa kau pulang," kata Mikael tersenyum manis. Senyuman dengan lesung pipi yang dalam dan membuat meleleh hari orang yang melihatnya.


Ariana mengepalkan tangannya erat. Ingin sekali dia memeluk pria itu dan bergelayut manja di lengannya yang kokoh tetapi dia tahu situasinya.


Mikael merasa tenang ketika melihat Ariana ada di hadapannya dan menyambut kedatangan pria itu dengan raut wajah yang bersinar.


Ariana terlihat cantik natural, tanpa sapuan make up. Dia juga terlihat lebih segar dan muda. Mikael tidak percaya jika wanita itu adalah istrinya saat ini


"Ariana!" panggil kakaknya dari arah belakang. Tubuh Ariana membeku seketika. Lehernya bergerak naik turun. Dia memejamkan matanya takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


"Untuk apa kau menemui pria brengsek ini. Masuk ke dalam kamarmu!" perintah Bayu.


"Tapi Kak, aku ingin bertemu dengannya. Niatnya baik."


__ADS_2