
Mereka lalu tertawa bersama. Bukan karena memiliki selera humor yang buruk tetapi mereka mempunyai nilai kesopanan dan tanggung jawab yang hampir mereka langgar. Mereka juga faham jika nilai kesopanan mereka langgar maka tanggung jawab baru akan datang menghampiri.
Ada terlalu banyak anak tangga pikir Ariana jengkel. Dia melewatinya naik turun puluhan kali setiap hari tetapi tidak sekalipun dia mengeluh. Namun, menaikinya seperti membutuhkan waktu yang lama.
Waktu mereka sampai di depan kamar nafas mereka terengah-engah. Ariana hendak membuka pintu kamarnya, Mikael malah menariknya dan menekan tubuh Ariana di dinding pintu. Menatapnya dalam seolah pria itu tidak akan melepaskannya kali ini.
"Ayolah, jangan di sini, di ujung lorong ini ada kamar Elang."
Mereka saling menarik ketika memasuki kamar tidur dan Mikael menendang pintu dengan kakinya hingga pintu tertutup rapat. Ariana menyeret Mikael hingga ke atas tempat tidur dan jatuh dengan tidak elegan di atas kasur busa tebal yang memantul sehingga menimbulkan suara tercekat erangan dan hempasan. Ada tarikan rambut, senggolan siku benturan lutut dan cengkeraman pada apapun yang mereka bisa pegang. Sungguh sangat liar.
"Oh, Tuhan, Ariana pikir aku seorang bar-bar," pikir Mikael
Dalam ketergesaan mereka masing-masing mencoba membuka kancing yang sama dari celana dan baju Mikael.
Ariana terkesiap, menatap Mikael untuk sejenak lalu mengangkat bahu dan tertawa. Dia bingung mengapa dia tidak membiarkan pria itu saja yang membuka celananya. Ini sangat memalukan.
Dengan sangat tergesa-gesa Maikel membuka gesper celananya dan sialnya itu macet. Ariana beranjak menjauh darinya dan kembali tertawa.
"Kau saja yang membukanya, mungkin akan menurut padamu," ujar Mikael membayangkan jari lentik dan panjang wanita itu menyusuri kulitnya.
Ariana lalu menatap mata cokelat terang milik Mikael. Menawan. Keras kepala dan suka memerintah.
Tidak ada alasan untuk menolak permintaan sang suami. Pria itu tidak membuat pilihan lainnya. Akhirnya Ariana maju dan mulai bergelut dengan gesper juga kancing celana pria itu. Dia menahan nafas ketika menyentuh resleting suaminya. Dia menariknya cepat karena gugup dan Mikael mengaduh.
Ariana menggigit bibir bawahnya dan menaikkan alis dengan wajah polos. Mikael gemas melihatnya. Wanita itu lantas menarik kemeja pria itu.
Terlihat luar biasa punggung pria itu, dipadukan dengan otot yang menyembul di bahu pria itu dan pinggang yang ramping. Terlihat seperti bentuk tubuh olahragawan. Pikir Ariana.
__ADS_1
Mikeal sudah berniat mengatakan sesuatu dengan suara serak ingin agar Ariana membuka seluruh bajunya tetapi akhirnya dia sendiri yang melakukannya.
Dia merasa gugup, bingung dan t*ransang keberadaan Ariana membuat godaan terbesar dalam hidupnya. Dia tersenyum. Menyerah pada h*sratnya sendiri.
"Nikmatilah Mikael setelah berbulan-bulan lamanya kau menunggu saat ini." Batin Mikael
Mikael mengulurkan tangannya untuk meraih Ariana. Untuk menarik tubuhnya perlahan ke arah tubuhnya. Untuk membaringkan wanita itu di atas tempat tidur, tempat dia bisa mencondongkan tubuh diatasnya. Menyapukan bibir, jari, dan lidahnya di sekujur tubuh Ariana.
Dia tidak tahu berapa lama dia akan bertahan menahan diri tetapi dia akan berusaha yang dia mampu. Oleh karena ingin merasakan, menyentuh, membelai, mendekap lalu mempelajari setiap garis dan lekukan wanita itu.
Kesabaran adalah harga pantas untuk melihat wanitanya menemukan ******* terlebih dahulu. Baginya merasa menang ketika mendengar suara tercekat, erangan, dan nafas yang baik turun serta tersengal-sengal. Lalu menatap manik mata wanita itu menghitam karena gairah dan pipinya memerah membutuhkan pelampiasan rasa
Setelah merasa cukup membuat wanita itu kelelahan dan tidak sabar. Dia lalu meraih tubuh belakang wanita itu dan mengangkatnya untuk melakukan penyatuan.
Ariana memfokuskan pandangan pada mata pria itu, dia tidak bisa menahan diri untuk tersenyum saat meluapkan kenikmatan yang dirasakannya. Saat kakinya melingkar di pinggang pria itu dan mengeluarkan suara saat pria itu memasuki tubuhnya.
Mikael telah menemukan ******* ketika suara erangan keluar dari tenggorokan. Pria itu memang senang dipandangi ketika berada di puncak kenikmatan. Katanya dia ingin dikenali di atas tempat tidur dan dia sangat terbuka dalam soal itu, berharap agar mereka berdua mengungkapkan apa yang mereka inginkan dari pasangannya.
***
Waktu pasti berlalu. Ariana tidak tahu berapa lama dia tidak bisa memikirkan apapun selain tubuh besar Mikael yang berada di atas tubuhnya. Terasa berat memang. Namun, kemaskulinan yang luar biasa menyenangkan dan otot yang terentang di atas tubuh wanita yang pu"as dan bahagia. Dia harus menggerakkan tubuhnya dan Mikael sedikit jika ingin melihat jam di dinding.
Mungkin nanti saja putusnya karena saat ini dia tidak ingin memperdulikannya. Namun, pria itu mulai bergerak dengan mengeluarkan suara yang seksi dari mulutnya. Ariana mengeratkan pelukannya dari pria itu.
"Apakah aku terlalu berat, kau pasti terhimpit."
"Tidak, aku menyukainya... ," balas Mikael.
__ADS_1
"Aku juga menyukainya, tetapi aku tidak bisa terus menindihmu."
Mikael berguling membawa serta Ariana berbaring di atas tubuhnya dan mereka berciuman. Setelah itu Ariana duduk di atas perut pria itu dan tersenyum.
"Apa yang membuatmu tersenyum," kata Mikael menurunkan Ariana dan membaringkan di sisinya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
"Aku hanya teringat dengan kejadian tadi."
"Aku begitu gugup tadi dan takut jika aku begitu terburu-buru lalu menyakitimu," kata Mikael terus terang. Pria itu lantas mengecup dagu wanita itu.
Ariana memasukkan kedua tangannya di pinggang Mikael lalu memeluk tubuh pria itu erat meletakkan kepala di dada pria itu.
"Aku sangat menunggu saat ini dan kau tidak tahu betapa tersiksanya diriku ketika bersamamu namun tidak bisa menyentuhmu lebih."
"Tetapi setelah malam ini rasanya aku berada di puncak kemenangan. Merasakan menjadi pria sempurna ketika bersama dengan dirimu dan bisa memilikimu sepenuhnya dengan restu orang tuamu. Sesuatu yang aku pikir tadinya sangat mustahil untuk kudapatkan."
"Kesabaranmu berbuah manis," sambung Ariana.
"Bukan kesabaranku tetapi cintamu yang membuatku tegar untuk menghadapi segalanya. Ada saat aku ingin menyerah dan kalah tetapi ketika melihat semangatmu dan tatapan matamu yang menyiratkan banyak harapan dari hubungan ini membuatku bertahan. Semua terasa ringan ketika kau ada di sampingku," ungkap Mikael membuat Ariana tersentuh.
"Aku juga merasakan demikian. Hampir setiap malam aku menangis karena kita tidur terpisah walau dalam satu rumah. Berpikir kapan semua ini akan berakhir. Namun, ketika aku melihat kegigihanmu untuk bertahan dan menghadapi semua ujian yang Ayah berikan dengan keikhlasan, aku hanya bisa berharap semoga semua ini cepat berakhir dengan baik."
"Kita baru saja melewati pintu pertama menuju rumah tangga yang sakinah, mawadah, warrohmah. Jalan masih panjang untuk bisa meraihnya. Mulai kini, katakan semua yang kau rasakan dan tegur aku bila aku melakukan kesalahan." Ariana menganggukkan kepalanya.
***
Wes lagi bahagia mereka. Sekarang tinggal Elang yang sedang dilema dengan cintanya... kasih semangat ya kawan-kawan.
__ADS_1