
"Ibu La...," Dita datang dan mengambil tangan Sheila dan menciumnya, tidak seperti biasanya yang langsung memeluk.
"Kau pintar sekali," kata Sheila berjongkok mengusap pucuk kepala Dita. Dita baru memeluk Sheila. "Ibu yang mengajariku untuk selalu mencium tangan orang yang lebih tua."
Ariana mengangkat dua alisnya ke atas sedangkan Sheila menatap malas ke arah samping. Mikael mengulurkan tangan membantu Ariana bangkit. Ariana menerima uluran tangan itu lantas bangkit lalu melipat mukena nya. Sedangan, Mikael mendekat ke arah Sheila.
"Apa kau sudah makan?" tanya Mikael membuat Ariana hanya bisa menghela nafas saja.
"Aku baru saja pulang dari pemotretan, jadi belum sempat untuk makan."
"Kalau begitu kita makan bersama. Ayo, kau turun terlebih dahulu." Terlihat kilatan pancaran kebahagiaan di mata Sheila. Wanita itu lantas mengajak Dita untuk turun tangga tetapi menghentikan langkahnya tatkala melihat Mikael hanya berdiri saja.
Ternyata pria itu menunggu Ariana datang mendekat dan berjalan sembari menggandeng tangan Ariana.
Mereka akhirnya duduk bersama di meja makan berbentuk bundar itu. Ariana duduk dengan diapit oleh Dita dan Mikael sedangkan Sheila duduk di sebelah Mikael.
Sheila mengamati bagaimana Ariana melayani mantan kekasihnya dan Dita. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
Ariana meletakkan cah brokoli dengan campuran sayuran lainnya ke atas piring Dita.
"Dia tidak suka sayur," ucap Sheila.
"Aku suka makanan Ibu, enak," kata Dita memakan brokoli. Ariana tersenyum kecil.
Sedangkan Sheila tertegun. Anaknya itu memanggil Ariana dengan kata Ibu saja dan dia dipanggil Ibu Sheila, sepertinya ada suatu perasaan tidak terima ketika kasih sayang anak diberikan kepada wanita lain, seorang yang baru datang di kehidupan Dita. Sheila tidak bisa menerimanya. Ingin rasanya dia memarahi Dita dan mengatakan jika dia ibunya sedangkan wanita itu bukan apa-apanya.
__ADS_1
Mikael seperti cuek, fokus dengan makanannya. Berkali-kali dia meminta tolong pada Ariana untuk mengambilkan lauk, atau minuman. Sheila hendak mengambilkannya dan tangan Ariana yang hendak menjangkau sayur bayam akhirnya ditarik kembali.
"Na, mana sayurnya?" tanya Mikael menatap ke arah istrinya. Ariana menatap Sheila dan wanita itu meletakkan kembali sendok sayur yang sudah dia pegang.
Ariana lalu meletakkan sayur itu ke piring Mikael. Semua orang tahu jika Mikael tipe orang yang tidak suka berbicara di waktu makan jadi mereka lebih banyak terdiam tidak ingin membuka obrolan terlebih dahulu.
Acara makan telah selesai dan Mikael mengajak semuanya duduk di ruang keluarga sembari menyalakan televisi.
"Aku akan menyuci piringnya." Ariana menata bekas makanan di meja dengan si Mbok Jum. Mikael yang sedang menggendong Dita menatap ke arahnya
"Biar Mbok saja yang menyelesaikannya," ujar Mikael menggandeng tangan Ariana meninggalkan Sheila sendiri. Wanita itu menghentakkan kaki ke lantai dengan kesal. Dia seperti sedang dipermainkan oleh Mikael. Namun, tidak apa-apa yang penting rencananya berhasil.
Mikael duduk di sofa sedangkan Ariana sedang berdebat dengan Dita tentang film apa yang akan mereka putar sekarang.
"Aku ingin film Frozen," kata Dita.
"Ehm... ," Dita terlihat keberatan.
"Ini bagus lho.. Ibu sangat suka cerita ini. Cerita tentang putri yang baik hati dan tidak sombong."
"Sama seperti Dita," tunjuk Dita pada diri sendiri. Ariana menganggukkan kepalanya.
Sheila lalu duduk di sebelah Mikael, pria itu lalu duduk di sudut sofa bagian lain.
"Okey, dari kemarin kau meminta bertemu denganku, untuk apa?" tanya Mikael. Mata Ariana membelalak dan mengalihkan pandangannya ke arah dua mantan kekasih itu.
__ADS_1
"Aku ingin meminta maaf dan telah menyesali kesalahanku. Aku juga ingin bisa merawat Dita, bersamamu." ucap Sheila tanpa tendeng aling-aling.
"Kenapa kau ingin melakukannya bukankah selama ini kau telah meninggalkan kami?"
Dada Ariana yang mendengarnya terasa sesak. Pikiran buruk bergelayut dalam otaknya membuat matanya memanas. Ingin rasanya dia berteriak untuk mengusir wanita ini. Namun, tidak bisa. Dia merasa tidak punya hal untuk melakukan ini.
"Aku menyayangi Dita. Bagaimana pun dia adalah anakku yang tidak bisa kuabaikan begitu saja. Aku mencintainya dengan sepenuh hatiku." Suara Sheila terlihat mengeras membuat Dita mengalihkan pandangannya kepada Ayah dan Ibu kandungnya.
"Hei, lihat itu si bawang putih yang sedang mencuci baju di sungai. Kau pernah melihat orang melakukan itu di kampung, kau ingat?" Ariana mencoba mengalihkan perhatian Dita. Dia kesal mengapa Mikael tidak membicarakan itu diruang tertutup. Dia takut jika Dita melihat pertengkaran orang tuanya.
"Kecilkan suara bicaramu atau keluar dari rumah ini sekarang!" ucap Mikael tegas namun lirih dan hanya didengar mereka berdua.
Sheila yang mendengar pengusiran Mikael menelan Salivanya berat. Dia menatap kosong ke depan pada Dita yang memilih duduk di pangkuan Ariana daripada memilih duduk di dekatnya.
"Baiklah. Aku tidak bisa kehilangan Dita," kata Sheila.
"Sebelumnya kau juga telah meninggalkan dia, jadi untuk pergi dari hidupnya itu bukan soal sulit untukmu."
"Aku sungguh menyesalinya. Maafkan aku!"
"Sudah lama aku memaafkanmu tetapi untuk melupakan semua yang terjadi tidak bisa semudah itu, Sheila."
"Berikan kesempatan padaku untuk membuktikan diri jika aku berubah."
"Bagaimana cara kau membuktikannya?" Ariana terlihat melirik ketika Mikael mengatakan itu. Dia melihat tangan Sheila hendak meraih tangan suaminya. Ariana mengepalkan tangan marah namun ditahannya. Sedangkan Mikael menatap Sheila.
__ADS_1
"Aku ingin kita bersama lagi, aku tidak masalah jika aku menjadi yang kedua."