Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Bukan Pengecut


__ADS_3

Mikael menatap makanan yang ada dihadapannya dengan tidak berselera. Seluruh keluarga terlihat melihat ke arahnya.


"Dita kau mau makan apa?" tanya Ameena. Hanya Ameena yang berlaku manis dan penuh perhatian dengan anaknya. Yang lainnya seperti tidak acuh pada anak itu.


Dita menatap ke arah roti. "Aku mau makan roti dengan selai cokelat."


"Mbak, apakah ada selai cokelat di dapur?" seru Ibu Siti pada pelayannya yang berada di dapur sebelah ruang makan ini.


Seorang wanita muda datang membawa selai cokelat itu. "Ini Ibu," kata gadis itu. Dia adalah pelayan muda di rumah itu cucu angkat dari kakek Toha. Dia dibawa sang kakek dari sebuah panti asuhan. Namun, dia diperlakukan seperti pelayan lainnya hanya saja dia tidak harus melakukan semua pekerjaan.


"Oh, Zahra, kau tidak jadi ke kota?" tanya Siti. Dia tahunya anak itu sudah pergi ke kota.


"Belum, Bu. Wawancara kerjanya akan diundur seminggu lagi."


"Oh, ya sudah." Zahra melihat ke arah Mikael.

__ADS_1


"Oh, kau masih ingat dengannya? Dia anak Ibu yang menikah dengan Ariana."


"Kak Mikael," kata Zahra antusias. Dia lalu mendekat ke arah pria itu dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Mikael menyambut uluran tangan itu, Zahra lalu meletakkan tangan itu ke dahinya dan mundur.


"Kau masih ingat dia, anak yang Kakek bawa dulu ke rumah ini. Sekarang dia sudah selesai sekolah keperawatan dan akan bekerja di rumah sakit ibukota."


"Oh ya aku ingat. Terakhir aku melihatnya, dia masih kecil. Sekarang sudah besar saja.


"Dia sebaya dengan Raina," tutur Kakek Toha.


"Kalau begitu duduk, kita makan bersama." Ajak Mikael. Zahra menggelengkan kepalanya setelah melihat ke arah Kakek Toha.


"Oh, ya sudah kalau begitu."


Zahra lalu keluar dari ruangan itu dengan membawa nampan di dada. Keluarga itu lalu melanjutkan makan pagi.

__ADS_1


"Apakah kau akan menemui Ariana hari ini?" tanya Ayah Sofyan.


"Ya, Ayah," kata Mikael.


"Sebaiknya kau bawa beberapa orang untuk keamanan. Ayah takut akan terjadi apa-apa denganmu," lanjut pria paruh baya itu khawatir.


"Aku itu seorang pria Yah, harus berani menanggung akibat dari apa yang sudah terjadi."


"Ya, kau berani menanggung akibatnya jika mereka menyambutmu dengan baik dan tidak kasar. Jika sebaliknya, kau bisa pulang tanpa Ariana dan nyawa," seloroh Ayah Sofyan.


"Jika aku membawa orang aku malah seperti seorang pengecut."


"Kalau begitu setidaknya kau ajak Paman Sadewa. Ayah khawatir dan was-was jika sesuatu yang buruk terjadi padamu."


"Percayalah Yah, mereka tidak akan membunuhku," kata Mikeal.

__ADS_1


"Coba terangkan pada anakmu betapa berbahanya pergi ke sana sendirian," ucap Ayah Sofyan pada Ibu Siti.


"Dia sudah dewasa dan tahu apa yang seharusnya dilakukan. Kau jangan terlalu mencemaskannya." Kakek Toha mengakhiri perdebatan di pagi hari itu.


__ADS_2