Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Kembali lagi ke tugas


__ADS_3

"Ish kau itu menyebalkan."


"Terkadang yang menyebalkan itu dirindukan," ucap Mikael tanpa mengalihkan perhatiannya pada laptop.


Beberapa jam kemudian mereka telah sampai di rumah Mikael. Ini sudah sore menjelang petang, satu orang pelayan membukakan pintu.


Ariana mulai masuk ke dalam tetapi sekarang dengan rasa yang berbeda. Seperti dia telah lama meninggalkan rumah ini dan sewaktu mencium aroma Cemara di rumah ini dia merasakan kenyamanan seperti kembali pulang ke rumah. Ariana mulai menepis perasaan itu.


"Bi, tolong bawakan tas dia ke kamar atas depan kamar saya."


"Baik Pak," kata pelayan itu.


"Ayo, ikut denganku," ajak Mikael menggendong Dita. Satu tangannya membawa koper milik Dita.


"Ibu tinggal di sini juga. Aku suka ... aku suka ...." Dita menepuk tangannya.


"Biar aku yang gendong kau, bawa kopernya saja," pinta Ariana merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, aku sudah biasa." Pria itu tersenyum.


"Dita aku ingin lihat kamarmu, bolehkan?"


"Boleh. Aku bersama dengan Ibu saja Ayah?" Dita akhirnya pindah ke tangan Ariana.


"Dimana pengasuh Dita?" tanya Ariana ketika mereka berjalan ke kamar.


"Aku meliburkan pengasuh selama kita ke kampung. Lagipula pengasuh itu hanya bekerja sampai pukul enam sore saja, jika tidak sampai aku sampai ke rumah. Di rumah ini hanya ada dua pelayan saja mereka suami istri."


Mereka memasuki lantai atas berisi ruang keluarga yang sangat luas. Ada lemari berisi mainan anak dan juga meja kerja dengan tumpukan map diatasnya, sofa pada umumnya dan layar televisi besar.


"Wah, Neng Dita sudah punya Ibu lagi, yah," ledek Bibi pelayan tadi ketika berpapasan di depan kamar Dita.


"Heem, Ibu ini akan tidur di sini," jawab Dita jujur.


Ada tiga pintu yang mengapit ruangan itu membentuk huruf L. Mereka menuju ujung yang ternyata kamar Dita. Ariana masuk ke dalam dan berbincang dengan anak itu serta duduk di sana. Setelah itu, Arina meninggalkannya bersama dengan Bi Wati.

__ADS_1


"Ini kamarku," tunjuk Mikael pada sebuah kamar yang luas tetapi dia tidak membukanya dan di sebelah lagi ada kamar berukuran sama seperti Dita. Mikael membukanya.


"Ini kamar yang akan kau gunakan. Rumah ini tidak terlalu besar jadi tidak banyak kamar di dalamnya. Di bawah ada satu, itu khusus untuk Bi Wati dan suaminya."


Ariana masuk ke dalam kamar itu. Ada sebuah dipan berukuran sedang dan lemari dua pintu berukuran sedang. Semua ornamen berwarna putih. Ariana menebak jika Mikael suka dengan warna putih karena dari depan hingga ke atas tidak ada warna lain selain warna putih kecil kamat Dita berwarna pink.


"Itu tasmu jika kau butuh sesuatu kau tinggal mengetuk pintuku. Aku selalu sedia setiap saat untukmu," kata Mikael dengan wajah datar.


"Kamar yang nyaman," ujar Ariana duduk di pinggiran tempat tidur.


"Kamar mandimu dan Dita ada di sebelah kamar ini." Ariana menganggukkan kepalanya.


"Apakah Ibu Dita sering kemari?" tanya Ariana. Dia tidak akan nyaman jika wanita itu datang dan membuat keributan lagi.


"Ya, terkadang, tidak cukup sering."Mikael bisa menebak jika Ariana menanyakan sesuatu namun ditahannya.


"Dia tidak pernah menginap di sini dan kami tidak pernah bersama lagi setelah berpisah. Apa itu cukup?"


"Apakah Dita anak ... tanpa ikatan perkawinan, aku hanya heran, bagaimana bisa kau yang hidup di lingkungan beragama melakukan itu? Atau mungkin kalian telah menikah secara siri?"


"Itu masa kelam dan kata orang tua, orang yang tidak tepat akan membuat kita tersesat. Aku menyadarinya sekarang."


"Bagaimana dengan lukamu?" tanya Ariana menatap wajah Mikael yang masih membiru. Mikael memegang bibirnya yang sobek.


"Ini sudah kering jika di badan masih terasa pegal," ujar Mikael.


"Apakah kau akan pergi mengajar besok dengan keadaan seperti itu?''


"Tidak apa-apa, aku akan mengatakan jika aku telah dirampok," kata Mikael.


"Bukannya kau yang mencuri?'' ujar Ariana dengan wajah serius.


"Lebih tepatnya menculikku," lanjut Ariana menggerakkan dua alisnya.


"Kalau begitu aku tidak akan melepaskanmu jika bayarannya tidak sesuai," tanggap Mikael.

__ADS_1


"Ariana, aku perhatikan kau lupakan tugas kuliahmu padahal harus kau kumpulkan besok di meja kerjaku!" ujar Mikael mengalihkan perhatian. Ariana menepuk jidatnya.


"Kau janji untuk memberikan nilai besar untukku."


"Aku berjanji untuk membantumu, salah satunya dengan cara mengingatkanmu untuk mengerjakan tugas, agar kau dapat nilai besar. Jika kau tidak tahu bagaimana mengerjakannya kau bisa tanyakan padaku nanti."


Ariana mengeram kesal. "Pembohong....," teriak Ariana kesal melepas sepatu hendak melempar ke arah Mikael namun pria itu segera menutup pintu.


Setelah makan malam, Dita langsung ke kamarnya untuk tidur. Mikeal membacakan buku cerita untuknya.


Dia duduk di sofa sembari melihat film drama Turki kesukaannya. Sesekali dia menatap kamar Dita. Dia minta pulang karena bukunya dan flashdisk berisi materi ada kamar kost. Namun Mikael melarangnya pergi. Dia berjanji akan membantu Ariana mengerjakan tugasnya setelah menidurkan Dita.


Akhirnya, setelah hampir satu jam menunggu Mikael keluar dari kamar Dita. Dia langsung ke meja kerjanya dan menyalakan laptop.


"Tugasmu adalah untuk menjelaskan semua tentang kerangka Konseptual Akuntansi Keuangan, apa dan kepentingannya di lakukan, tingkat standar konseptual akuntansi dan masukkan contohnya pada akuntasi syariah."


"Mudah easy, kau hanya perlu mencarinya di internet dan buku."


"Kau menghabiskan waktuku untuk mengerjakan tugas itu sekarang, kau harus membantuku mengerjakannya!'' Ariana menatap tajam pada Mikael.


"Ikuti aku," kata pria itu berjalan ke kamarnya."


Wajah Ariana memucat, menggenggam dua tangan di dada. Dia takut jika dia harus membayar tugas itu dengan tubuhnya.


"Kau jangan pikir aku akan melakukan perbuatan mesum! Di dalam ada buku yang kau butuhkan. Aku hanya ingin melihat bagaimana caramu untuk menemukan buku apa yang kau butuhkan untuk mengerjakan tugas ini."


Ariana bernafas lega. Dia lalu mengikuti Mikael masuk ke dalam kamarnya. Baru masuk saja, Ariana sudah mencium kuat bau parfum Chinnamon. Aroma yang memabukkan.



Tata kamar Mikael berbeda dengan ruangan sebelumnya. Ini terlihat besar jika dibandingkan dengan kamarnya atau Dita, bahkan dua kali lipat kamar mereka berdua. Rak buku setinggi tembok yang dituju Ariana ada di belakang pintu.


"Sekarang ambillah buku yang kau perlukan untuk mengerjakan tugasmu," Mikael berdiri bersandar di tembok melihat Ariana menatap rak buku itu.


"Kemarin kau mengatakan jika harus mencari di buku apa?" pancing Ariana karena sejatinya dia tidak tahu. Dia memilih jurusan ini asal baginya asal bisa kuliah dan bisa mendapatkan pekerjaan setelahnya. Dia berencana untuk menjadi PNS di kabupaten. Cita-cita yang simple tapi sulit baginya.

__ADS_1


"Kau memang tidak pernah mengerti atau memang menyepelekan pelajaranmu, setiap kutanya kau selalu tidak bisa menjawab. Aku sampai bertanya sebenarnya yang ada di otakmu itu apa? Bisakah kau konsentrasi terhadap pelajaranmu untuk memahami materi dan mendapatkan nilai bagus." Mikael mulai berceramah menjadi seorang profesor yang menuntut kesempurnaan dari mahasiswanya.


__ADS_2