
Ariana menghembuskan nafas berat. Menatap ke arah Adam.
"Bagaimana perjalanannya?" tanya Sanjaya berbasa-basi.
"Baik, Om, tidak ada kendala yang berarti," jawab Adam. Mereka lalu berbicara untuk saling mengenal.
"Om, sebelumnya saya minta ingin mengatakan sesuatu mengenai niat kedatangan saya kemari."
Adam lalu menatap ke arah Ariana dengan lekat.
"Saya kemari untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Ariana," ucap Adam terus terang.
"Tunggu Adam, apakah kau sudah tahu status Ariana?" tanya Sanjaya tidak mengerti mengapa anak ini masih kekeh untuk melamar Ariana padahal Elang sudah memberitahu jika Mikael datang ke rumah untuk meminta maaf.
"Ya, saya sudah tahu jika Ariana masih berstatus sebagai istri orang. Namun, itu tidak membuat niat saya berubah sebelum Ariana sendiri yang menolak saya. Saya tahu jika selama enam tahun ini Ariana dan suami ya telah putus kontak, walau akhir-akhir ini mereka bertemu kembali di kampus tanpa sengaja.
"Adam kau tidak mengatakan jika calon istrimu ini masih berhubungan dengan suaminya!" seru ayah Adam.
"Betul Yah, tetapi mereka telah lama berpisah."
"Ini tetap salah Adam, setidaknya biarkan Ariana menyelesaikan proses perceraiannya. Bukan aku sebagai orang tua mencegah keinginanmu namun ini tidak dibenarkan!" lanjut Ayahnya.
Ariana menelan Salivanya dengan sulit. Dia menatap ke arah Ayahnya lalu kepada semua orang.
__ADS_1
"Adam, aku tahu tadinya aku telah menerimamu sebagai kekasih ketika aku sendiri walau statusku adalah istri Pak Mikael. Aku tahu kau menerima statusku apa adanya. Namun, kita tidak tahu rencana Tuhan selanjutnya pada waktu itu. Beberapa waktu lalu Pak Mike, berniat meminta rujuk denganku. Setelah menimbang semuanya dah setelah melihat jauh ke dalam hatiku. Aku memutuskan kembali padanya." Elang terlihat akan menyela tetapi Ariana merenggangkan tangannya.
Mendengar ucapan Ariana wajah Adam dan kedua orang tuanya memucat sedangkan air muka ibunya berubah menjadi merah padam. Mereka merasa dipermalukan oleh kejadian ini.
"Jangan potong ucapanku, Kaka."
"Raina, kau harus dengar ucapan Kakak. Mike itu tidak baik bagimu!" ujar Elang yakin.
"Dia baik bagiku atau tidak aku yang akan menjalaninya. Ketika kalian semua menjodohkan ku apakah kalian memikirkan jika dia buruk bagiku? Tidak kan. Jadi kini ketika aku memutuskan untuk kembali lagi padanya kumohon hormati keputusanku!" ujar Ariana.
Tiba-tiba suara mobil Mikael kembali memasuki halaman rumah. Dia melihat sebuah mobil lain terparkir di depan pintu utama rumah ini. Rasa tidak enak mulai menghampiri. Apakah Ariana telah dibawa pergi jauh ketika dia sedang pergi?
Dengan buru-buru dia masuk ke dalam rumah walau sudah di cegah oleh beberapa penjaga yang bisa dia jatuhkan langsung.
"Tuan, jangan masuk!" ucap salah satu penjaga berusaha menghentikan langkah kaki Mikael untuk memasuki rumah itu.
"Ariana, Adam," gumam Mikael. Ariana yang melihat Mikael hendak berdiri tetapi tangannya dicegah oleh Sanjaya. Dia menoleh ke arah Ayahnya.
"Ada apa ini?" tanya Mikael dengan nada tenang. Walau hatinya dirundung oleh berbagai pertanyaan dan dadanya bergemuruh karena marah. Hubungannya dengan Ariana belum juga usai kini Adam datang bersama orang tuanya. Dia bisa melihat kemiripan antara dia paruh baya yang duduk di sisi Adam.
"Hey, kau tidak berhak masuk ke rumah ini."
"Maaf, tetapi aku kemari untuk mencari istriku. Aku lega jika dia masih ada di rumah ini," Mikael berusaha untuk tersenyum walau terlihat dipaksakan.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa kau tidak memberi tahu jika suaminya juga ada di sini!" seru Ayah Adam kesal. Adam juga tidak tahu harus mengatakan apa, dia sama terkejut dengan ayahnya melihat Mikael ada di sini walau dia sudah memperkirakan jika pria itu datang ke rumah Ariana. Namun, dia tidak menyangka jika Mikael terlihat santai datang kemari.
"Itu yang harus saya tanyakan pada, Anda." Dengan santai Mikael duduk di salah satu kursi. Mengambil minuman tanpa persetujuan orang sekitar karena tenggorokannya terasa haus. Dia juga butuh jus jeruk ini untuk mendinginkan kepalanya yang mendidih.
Sanjaya hanya menikmati suasana ini dan melihat bagaimana akhir situasinya. Baru dia akan bertindak.
"Ariana masih istriku hingga detik ini. Kami juga masih berhubungan layaknya suami istri pada umumnya walau tadinya, seperti yang kalian tahu jika kami tidak pernah bersama semenjak menikah. Aku tahu keegoisan dan kebodohanku menyakiti semua orang, termasuk diriku sendiri. Aku seperti manusi biasa yang bisa melakukan kesalahan dan kesalahanku teramat besar seharusnya Ariana juga tidak memaafkan. Namun, hatinya sangat murni sehingga dia memaafkan kesalahanku dengan mudah dan mau menerimaku kembali."
"Kau dengar, kau masih saja mengejar istri orang. Dasar bodoh!" ujar Ayah Adam. Adam sendiri tertegun dengan ucapan sang Profesor. Terakhir dia bertemu dengan Ariana hubungan mereka masih baik-baik saja dan wanita itu tidak pernah mengatakan jika dia telah kembali ke pelukan suaminya.Dia merasa kecewa dan dibodohi. Seketika dadanya merasa sakit dan nyeri. Bagai di sayat pisau yang tajam. Nyeri.
"Adam, maaf, aku bukan bermaksud menyembunyikannya. Waktu itu aku masih ragu dengan pilihanku sendiri."
"Ragu dengannya atau aku?" tanya Adam balik penuh emosi. Matanya memerah menahan tangis dan kemarahan. Dia merasa ditipu habis dengan wajah lugu dan polos Ariana.
"Seharusnya kau katakan saja terus terang. Jika sudah begini, kau sama saja mengkhianati hubungan kita dan pertemanan kita."
"Maaf," lirih Ariana menunduk.
Mikael menatap Ariana dengan perasaan sedikit kecewa. Perkataan Ariana yang katanya ragu itu juga sedikit banyak melukai hatinya.
"Aku memang sedikit memaksa Ariana untuk menerimaku kembali dan aku akan melakukan segala cara untuk memastikan dia kembali. Bukan karena dia adalah barang yang diperebutkan tetapi aku membutuhkannya, jiwa dan hatiku juga membutuhkannya. Sebisa mungkin aku ingin dia tetap bersamaku." Mikael terlihat gentleman mengatakan hal itu.
"Apakah kau mencintainya, jika tidak lepaskan saja jika hanya dibuat sebagai ambisi semata karena aku tidak menerimanya. Aku telah mencintainya selama ini dan telah menahan diri tiga tahun untuk bisa bersamanya. Kau yang telah melukainya dengan mudah, datang dan mendapatkan kesempatan itu sedangkan cintaku terasa dicampakkan. Itu tidak adil kan Ariana?"
__ADS_1
"Hah!" ucap Ariana bingung. Dia juga menunggu ucapan cinta dari Maikel yang belum pernah dia dengar.
"Aku rasa dia hanya ingin memilikimu karena permintaan keluarganya bukan karena mencintaimu, Ariana. Apakah kau yakin akan hidup dengan pria seperti itu?" Elang mengompori kejadian ini. Membuat diri Mikael terdesak.