
Setelah makan pagi yang di selingi dengan drama tanpa kata. Keluarga kecil itu pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana mereka berdua tidak tahu harus melakukan apa karena anak kecil di larang masuk ke dalam sana.
"Kau saja terlebih dahulu, baru aku," ujar Mikael.
"Bukankah kau yang ingin menemui ibumu?"
"Jika aku masuk terlebih dahulu mereka tidak akan percaya padaku, jika kau terlebih dahulu mereka akan tahu jika aku datang bersamamu."
Mereka menatap ke arah Dita yang sedang bermain dengan bunga di halaman rumah rumah sakit.
"Seharusnya kita memang membawa pengasuhnya," ujar Mikael.
"Bukan saatnya merutuk, kita harus melewatinya bersama agar semua selesai dengan cepat dan baik."
Mikael menghela nafasnya.
"Okey, aku akan masuk terlebih dahulu. Kau menunggu di sini." Ariana hendak berjalan terlebih dahulu namun tangannya dipegang oleh Mikael. Ariana menatap tangan itu dan Mikael buru-buru melepaskannya.
"Maaf. Biar aku masuk saja terlebih dahulu. Jika kau yang menemui mereka, aku menjadi seperti seorang pengecut yang berlindung dibalik tubuhmu," ungkap Mikael.
"Kau harus berdiri seperti ksatria yang gagah berani untuk di sidang." Ariana memberi semangat pada Mikael. Pria itu tersenyum dan mengusap rambut Ariana.
"Terimakasih," katanya lalu berjalan pergi sebelum Ariana menyela seperti biasa.
"Profesor," panggil Ariana ketika pria itu terlihat menjauh masuk ke dalam rumah sakit. Mikael membalikkan tubuhnya.
"Semangat," ucapnya tersenyum. Mikael menganggukkan kepala. Ariana menghela nafas berat.
"Kenapa kita kemari, Bu?" tanya Dita.
"Untuk menjenguk Kakek Nenek mu, Sayang, mereka tidak memperbolehkan anak kecil masuk."
"Kenapa tidak boleh?"
"Karena di dalam banyak kuman jahat yang akan menyerang tubuh."
"Kalau begitu aku akan berubah menjadi pahlawan melawan monster," ujar Dita. Jawaban polos Dita membuat Ariana tertawa.
"Kau cukup jadi Putri kecil ayahmu, Sayang," jawab Ariana.
__ADS_1
Sedangkan di dalam rumah sakit, Mikael menuju ke ruangan ibunya setelah mendapat petunjuk arah dari petugas terdekat. Langkahnya terhenti ketika melihat ayahnya berdiri bersandar di pintu dengan wajah yang terlihat lelah dan sedih.
Mikael mengepalkan tangannya dan memberanikan diri maju.
"Lupakan perkataan orang tuamu dulu dan lakukan semua seperti tidak terjadi apa-apa. Jika dia marah dengarkan dan jangan menyangkal, apapun itu. Minta maaf dan semuanya akan membaik," ucap Ariana ketika di mobil.
Mata Mikael beradu pandang dengan ayahnya. Pria itu membuang muka ke samping seraya menegakkan tubuhnya.
"Yah," panggil Mikael pelan.
"Untuk apa kau kemari? Untuk menambah masalah bagiku, atau menunggu kematian ibumu?"
Mikael hanya terdiam dan menunduk.
"Dimana Ariana, katanya kau membawanya ikut serta kemari?"
"Dia ada di luar bersama Dita, anakku!"
"Anak dari hubungan gelapmu kau bawa kemari? Apa kau ingin membuat ibumu mati jika mengetahuinya?"
"Ayah, aku minta maaf untuk semua kesalahanku. Namun, jangan kau salahkan anakku. Bagaimana pun dia juga tidak ingin berada di dalam situasi ini. Ku mohon," ungkap Mikael dengan suara goyah.
Pak Sofyan lalu menuju kursi stainless yang, duduk di sana dengan tubuh lemas. Dia terdiam .
Walau jawabannya 'ya' Mikael tidak berani untuk mengatakannya.
"Pergilah, kau sudah bukan anak kami lagi, jadi untuk apa kau mengingat kami. Tidak usah membohongi semua orang untuk dikatakan sebagai anak yang berbakti pada orang tuanya."
Mendengar kata ayahnya membuat hati Mikael terpukul hebat, nafasnya menjadi sesak seketika. Matanya memerah dan dia mengedipkan matanya cepat hanya agar buliran bening itu melesak keluar.
Dengan langkah gontai Mikael mendekati ayahnya dan bersimpuh memegang salah satu tangan pria paruh baya itu. Mencium punggung tangannya.
"Ayah, kata maaf saja mungkin tidak bisa mengembalikan rasa malu dan luka yang aku berikan pada kalian. Namun, aku sungguh menyesalinya. Waktu tidak bisa diputar kembali tetapi aku ingin memperbaiki semuanya dengan baik. Beri aku kesempatan untuk menjadi anak yang berbakti untuk kalian," ucap Mikael.
Sofyan menatap ke atas.
"Entahlah, Nak. Aku dan semuanya tidak bisa begitu mudah untuk memaafkanmu. Apalagi mempercayai kau sudah kembali pada Ariana dengan begitu mudah. Aku ini orang tua, tidak mudah untuk bisa kau bohongi."
"Tatap mataku dan katakan kau memang berniat baik pada Ariana dan akan menjalani kehidupan pernikahan kalian selamanya. Tidak akan pernah lagi meninggalkannya."
__ADS_1
Netra Mikael membesar seketika. Dia menelan Salivanya dengan sulit. Menjanjikan sesuatu hal yang tidak mungkin dia lakukan. Bukan karena dia tidak ingin tetapi karena Ariana tidak akan menerimanya dengan mudah. Dia sudah punya calon suami yang dia cintai.
"Kau tidak bisa kan maka pergilah jika hanya ingin bermain-main. Sumpah itu bukan hanya untuk dikatakan tetapi untuk dilakukan. Dulu kau menikahinya dan meninggalkannya dengan begitu mudah. Aku tidak ingin itu terjadi lagi." Sofyan hendak menarik tangannya tetapi Mikael memegangnya erat.
"Aku berjanji akan menjalani pernikahan ini dengan baik dan tidak akan pernah meninggalkannya lagi." Dia menjanjikan ini karena jika Ariana yang meminta cerai dia tidak bisa disalahkan.
"Satu lagi, cintai dia. Namun bila kau tidak siap maka lebih baik mundurlah. Aku tidak mau kau bohongi untuk kedua kalinya."
Berat untuk mengatakannya tetapi ketika dia mendongak untuk menatap netra ayahnya yang sendu akhirnya kata itu terucap juga. "Aku akan mencintai dia."
Sofyan memegang kedua rahang putranya dan menatap. "Kali ini aku coba untuk percaya padamu, maka jangan kecewakan lagi aku."
Mikael mengatup erat mulutnya dan menganggukkan kepala.
"Kita temui Ariana dan anakmu."
Mereka lalu kembali keluar rumah sakit. Mencari keberadaan Ariana dan Dita, namun keduanya sudah tidak ada. Mereka lalu ke belakang rumah sakit di sana ada taman lebar.
Netra Mikael menangkap gerakan Ariana yang sedang tertawa bersama dengan Dita. Mereka sedang bermain balon sabun.
"Itu mereka, Yah," Dengan bangga Mikael menunjuk ke arah Ariana dan Dita.
Pak Sofyan menyipitkan mata menatap keduanya. Dia tidak menyangka jika Ariana mau menerima anak dari suaminya dengan wanita lain. Dia lalu melangkah mendekat.
"Ariana," panggil Pak Sofyan.
"Ayah," panggil Ariana mengambil tangan Sofyan dan mencium punggung tangannya.
"Bagaimana kabarmu," tanya Sofyan tidak peduli dengan anak yang kini memegang kaki ayahnya.
"Baik Ayah, tinggal satu tahun lagi kuliahku dan aku bisa mencari kerja," kata Ariana bersemangat.
"Untuk apa mencari kerja, biar Mikael saja yang mencari uang untukmu, dia bisa membiayai hidupmu dengan penghasilannya," kata Sofyan.
Ariana menatap Mikael dan tersenyum kecut tetapi matanya nampak tidak mengerti. "Tentu saja dia bisa memenuhi kebutuhan hidupku ke depannya."
"Dita kemarilah," ucap Ariana menarik tangan kecil Dita mendekat. Dita enggan untuk melepaskan pegangannya dari kaki Mikael.
Ariana lantas menggendong Dita. Dia tahu jika tanggapan Sofyan pada Dita pasti akan sama dengan anggota keluarga yang lainnya tetapi tidak apa untuk mencoba membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.
__ADS_1
"Dita cantik beri salam yang manis pada Kakekmu," ucap Ariana. "Assalamualaikum, Kakek."
"Assalamualaikum Ka ... kek," ucap Dita ragu menatap netra pria paruh baya yang sangat mirip dengan ayahnya.