Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Pertikaian


__ADS_3

Keadaan Ibu Siti semakin membaik dan sudah pulang kembali ke rumah. Hal itu, membuat keluarga nampak bersemangat dan kembali bahagia.


Ariana dan Mikael berpamitan pada Ibu Siti jika akan kembali ke kota, esok pagi. Dia harus meneruskan kuliahnya. Sedangkan, Mikael harus mengajar di universitas dan bekerja di sebuah perusahaan besar.


Awalnya Ibunya tidak setuju tetapi setelah Mikael janji akan mengunjungi ibunya dua Minggu lagi ketika akhir pekan, Ibu Siti mengijinkannya. Baginya yang penting Mikael dan Ariana tetap bersama.


"Kalau begitu berikan ibumu ini seorang cucu," pinta Ibu Siti.


"Nanti setelah Ariana menyelesaikan kuliahnya, Bu," jawab Mikael. Ariana tersenyum kecut. Dia merasa bersalah karena telah membohongi wanita baik ini.


"Terlalu lama," kata Ibu Siti. "Ibu ingin segera menimang cucu."


"Ada Dita yang lucu dan manis."


"Akan berbeda jika itu adalah anakmu." Wanita itu menghela nafasnya. Arina menatap Mikael meminta jalan keluar dari masalah ini.


"Dia sama-sama cucu Ibu," ujar Ariana tersenyum manis. Ibu Siti mendengus.


"Ya, sudahlah."


Mikael sendiri merasa sedih karena anaknya telah dibedakan oleh ibunya. Dia yang bersalah kenapa Dita yang harus menanggung akibatnya.


"Katamu kalian satu kampus?" tanya Ibu Siti. Ariana dan Mikael menganggukkan kepalanya.


"Kalian memang berjodoh sehingga menyatukan kalian lagi setelah lama berpisah. Padahal Ibu sudah berhenti berharap jika kau tetap akan jadi menantu Ibu."


"He... he... he... iya Bu. Kita tidak tahu takdir akan membawa kita kemana."


"Kalian tinggal satu rumah kan?"


"Tentu saja iya, Bu," ujar Mikael. Ariana mengelap dahinya yang mulai berkeringat karena interogasi ibu mertuanya.


"Baguslah, aku harap kau tidak sedang berbohong Mikael. Aku mendengar jika kalian tidak pernah satu rumah dari mulut Dita ketika Ameena sedang menanyai anak itu, kemarin."

__ADS_1


"Itu karena kedekatan kami belum diketahui oleh keluarga Ariana sehingga dia memilih untuk tetap tinggal di kostnya sampai semua masalah selesai. Bukan begitu, Sayang,"


"Eh, iya." Ariana terkejut ketika dipanggil Sayang oleh Mikael.


"Tetapi setelah ini kalian tinggal satu rumah kan? Karena jika tidak Ayah dan Ibu tidak akan memaafkan kalian karena telah membohongi kami."


"Sepulang dari sini kami akan tinggal satu rumah dan rencananya mungkin kami akan membicarakan hubungan kami pada keluarga Ariana tetapi menunggu waktu yang tepat."


"Harus dan segera agar tidak ditemukan lagi pertikaian."


"Bu, sudah adzan Isya, kami mau ke masjid." Ariana dan Mikael lalu berpamitan dari kamar Ibu Siti menuju ke masjid untuk sholat berjamaah. Mereka lalu melaksanakan sholat bersama.


Kesalahan Ariana adalah tidak menceritakan masalah ini terlebih dahulu pada ayahnya atau saudara yang lain. Tidak sadar, jika salah satu anggota keluarganya telah mendengar hal ini. Rumor kembalinya pewaris keluarga Toha dan istrinya sampai juga ke telinga Elang, kakak dari Ariana.


Elang lalu mendatangi kediaman keluarga Toha bersama dengan teman-temannya dari geng motor yang diketuai dan dimiliki olehnya.


Dia melihat Mikael sedang berjalan ke rumahnya setelah keluar dari masjid seusai menjalani shalat Isya. Pria itu berjalan mendekatinya, sedangkan teman-temannya berjalan di belakang.


Mikael yang tidak siap dan tidak melihat ada musuh ada dibelakangnya terpental. Dia handak melawan tetapi ketika tahu yang dia lawan adalah kakak Ariana dia terdiam. Bahkan ketika kaki panjang milik Elang menendang tubuhnya berkali-kali, Mikael hanya diam saja.


Warga tadi sempat berbicara dengan Mikael hanya diam saja melihat perkelahian itu. Mereka sadar jika ini adalah masalah yang sudah bertahun-tahun lalu telah dimulai dan kini sedang berada di puncaknya. Mereka mundur mencari aman setelah tahu Elang membawa beberapa temannya ke tempat itu lengkap dengan senjata di tangan.


Elang yang telah kalap mata mengambil celurit milik sahabatnya dan hendak menebas leher Mikael. Namun, Ariana yang baru keluar dari masjid langsung berteriak dan berlari memeluk tubuh Mikael.


"Jangan Kakak, jangan lagi!" teriaknya. Senjata hampir saja mengenai tubuh Ariana untung saja Elang menghentikan di saat yang tepat.


"Akh!" murka Elang melempar senjata tajam itu asal ke tanah. Wajahnya telah menggelap dan memerah seakan ada awan hitam yang menyelimutinya.


Ariana menangis, menatap wajah Mikael yang berdarah dan membiru bekas pukulan dan tendangan Elang.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Ariana menatap khawatir Mikael.


Mata Mikael nanar melihat bagaimana Ariana membelanya. Bisa saja senjata tajam itu mengenai tubuhnya tadi, namun wanita itu malah menjadikan tubuhnya sebagai perisai.

__ADS_1


Kini dia sadar bahwa wanita yang telah dia buang ternyata adalah seorang malaikat yang rela mati untuknya.


"Pergi Ariana biar aku bunuh pria yang menyakitimu!" teriak Elang.


"Kakak semua ini bukannya menyelesaikan masalah malah akan menambah masalah." Ariana bangkit dan menghadapi kakaknya. Mikael sendiri mencoba berdiri sembari menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Biar saja, yang jelas pria yang telah menghinamu ini mati di tanganku."


"Nak, Elang tenanglah!" ujar Kakek Toha yang tergopoh-gopoh keluar dari Masjid dan melihat kejadian ini. Dia takut jika peristiwa berdarah yang terjadi beberapa tahun silam terjadi lagi.


"Tenang karena dia adalah cucumu. Andaikan Ariana yang cucumu apakah kau akan membiarkan manusia biadap ini hidup?" ujar Elang emosi.


"Kak, aku tahu jika aku salah. Aku akan meminta maaf padamu dan pada keluargamu!"


"Tidak akan pernah ada maaf untukmu. Kau sudah menoreh luka dalam dan sampai kapan pun luka itu akan tetap terasa sakit kecuali jika kau mati di tanganku baru itu setimpal."


"Kau Ariana!" Ariana menelan Salivanya dalam-dalam menatap kakaknya. Dia bergerak maju untuk menenangkannya.


"Bukannya pulang kau malah kemari bersama binatang ini. Apa kau tidak malu dan jijik padanya?"


Ariana melihat ke arah sekitar semua orang menatap dirinya.


"Kak, dia itu masih jadi suamiku, aku harap kau mengerti!"


"Mengerti yang mana? Dia bahkan sudah meninggalkanku demi hidup bersama seorang wanita. Memalukan, keluarganya adalah orang terhormat dan terpandang namun cucunya hidup satu rumah dengan wanita yang tidak dinikahinya," ejek Elang.


"Kak kau tidak boleh mengatakan itu," ucap Ariana.


" Itu kenyataannya. Katakan padaku untuk apa kau bersama pria yang tidak menghargaimu! Dia hanya seorang pecundang, pengecut yang tidak tahu diri dan tidak bisa menghormati siapapun. Kau bodoh jika tetap mau bersamanya." Nafas Elang terengah-engah menahan kemarahannya. Matanya lurus tajam menatap Mikael yang sudah babak belur olehnya.


"Aku sebagai kakakmu tidak terima jika kau diperlakukan buruk olehnya! Hatiku panas mendengar adikku jadi bahan gunjingan banyak orang. Dadaku sakit ketika melihat tangismu, jiwaku terkoyak saat air mata ibu dan ayah jatuh melihat kau jatuh terpuruk dalam kesedihan yang dalam, tidak mengertilah kau akan hal itu!" seru Elang terdengar keras seraya menepuk dadanya. Amarah meluap dalam dirinya bagai lahar yang meletus dari gunung berapi.


Ariana tidak tahu harus mengatakan apa. Jika Elang mengatakannya tidak didepan semua orang mungkin dia bisa berkata jujur. Namun, seluruh keluarga Mikael ada di sini dan melihat semuanya. Haruskah dia jujur atau membela orang yang telah mengkhianatinya?

__ADS_1


__ADS_2