
Hana duduk sendiri di kursi kayu memandang keluar jendela. Di halaman Ayu dan Bagus, bermain dengan Aaric anak bungsu Raina serta Rere. Mereka terlihat senang sekali dalam lingkungan keluarga ini.
Dia tidak menyangka akan langsung diterima di keluarga Roy. Mereka menyambutnya dan anak-anak dengan baik. Bahkan Janeta memberikan kalung yang sedang dia gunakan untuk diberikan pada Hana. Di mana lagi dia akan menerima keluarga yang begitu baik seperti mereka?
"Kau tidak keluar, semua orang menanyakan mu," ujar Roy membuat lamunan Hana buyar seketika.
"Aku ingin sendiri," jawabnya. Roy lalu duduk di pinggir tempat tidur menghadap ke arah Hana.
"Kenapa? Kau tidak nyaman dengan mereka?"
"Tidak, hanya saja ini semua terlalu baru untukku dan aku belum terbiasa dengan semuanya. Aku butuh waktu untuk membiasakan diri dan berbaur dengan mereka."
"Aku mengerti."
"Tidak kau tidak mengerti. Mereka sangat baik padaku hanya saja, aku merasa tidak pantas berada di dekat mereka."
Roy mengangkat kedua alisnya ke atas.
"Kau belum mengenal Raina. Dia sepertimu bahkan lebih parah. Jika kau lahir dari keluarga berada, Raina hanya orang biasa. Hidupnya penuh lika liku, ku pikir akan sangat baik jika kalian berdua berbicara dari hati ke hati."
"Akan banyak waktu," ucap Hana tersenyum manis.
"Ya, jika kau memutuskan menikah denganku akan banyak waktu bagi kalian berdua berbicara."
Hana mengangkat wajah menatap ke arah Roy.
"Menurutmu apa itu pernikahan?"
"Pernikahan itu bukan hanya soal cinta. Ada yang lebih penting dari sekadar cinta. It’s all about faith, teamwork, and commitment. Aku tahu cinta itu penting, tapi nggak ada yang tahu bentuk cinta itu sendiri tanpa tiga hal itu".
"Cinta tidak menciptakan pernikahan. Pernikahan yang sadar, terencana, menciptakan cinta. Hal yang sama terjadi dalam sebuah hubungan. Kadang pertemanan yang lama pun akhirnya timbul cinta lalu kenapa dalam pernikahan tidak bisa tumbuh cinta?"
Hana terdiam. Roy mengambil kedua tangan Hana dan memegangnya erat.
"Awalnya kau takut ketika ku sentuh lama-lama. kau mulai terbiasa ketika ku sentuh tanganmu. Begitu pula dengan hubungan kita. Awalnya kita tidak saling mengenal, lama kelamaan karena terbiasa timbul rasa nyaman yang akan berubah menjadi cinta. Aku pun dulu takut dengan pernikahan tetapi ketika aku bertemu dengan Karina, almarhum istriku, aku lebih takut kehilangannya. Jadi aku memilih untuk langsung menikahinya pada hari itu juga. Kau tahu itu pernikahannya mendadak dan tidak direncanakan. Namun, aku tidak menyesalinya karena belum sampai tiga bulan kami menikah dia meninggal dunia. Umur tidak ada yang tahu Hana."
Hana menutup mulutnya. "Kau pasti sangat terpukul."
"Sangat hingga aku memutuskan tidak akan akan jatuh cinta dan menikah lagi. Dua kali aku jatuh cinta dan dua kali pula wanita yang kucintai meninggal dalam pelukanku. Itu seperti sebuah kutukan yang bertubi padaku."
"Aku turut menyesal."
"Jika kau takut menikah karena gagal, aku sendiri takut menikah denganmu karena takut kau akan pergi selamanya seperti dua kekasihku yang lain."
Hana menautkan kedua alisnya jadi satu.
"Kau pikir aku akan mati jika menikah denganmu?"
__ADS_1
"Mungkin." Wajah Roy nampak putus asa dan sedih ketika mengatakannya.
Hana lalu tertawa keras. "Kau itu berbadan besar dan mengerikan, tidak pantas jika mengatakan sesuatu yang diluar nalar. Mereka meninggal karena suatu sebab bukan karena mati terbunuh olehmu. Bukan begitu?"
"Ya, tapi semuanya berujung seperti itu."
"Itu hanya kebetulan saja. Aku tanya cinta pertamamu meninggal karena apa?"
"Kanker."
"Lalu istrimu?"
"Di tembak oleh seseorang," jawab Roy jujur.
Hana terkesiap namun wajahnya lalu berubah biasa saja. "Nasibmu sangat buruk pantas saja jika kau belum punya keluarga sampai hari ini. Untung ada aku yang mau menampung bibitmu sehingga kau punya anak," ucap Hana dengan nada menggoda.
"Iya, makanya jika kau tidak menerimaku aku akan menerimanya."
"Karena kau takut aku akan jadi korban cintamu selanjutnya?"
"Ya, seperti itulah," ucap Roy lemas.
Hana kembali tertawa membuat Roy heran.
"Apanya yang lucu?"
"Kau tidak cocok bersikap melankolis seperti itu. Kau lebih pantas terlihat garang dan menakutkan," ujar Hana.
"Terkadang, seringnya," ucap ragu Hana. Sebuah senyuman menghiasi bibirnya yang penuh dan berisi.
"Akan lebih baik jika kau sering tersenyum seperti ini," kata Hana seraya menarik kedua sudut bibir Roy ke atas.
"Kau terlihat tampan jika melakukannya."
"Begini?"
"Ya, begitu," ucap Hana.
"Kau akan lebih tampan lagi dan terlihat muda jika mencukur jenggot serta rambutmu."
"Wanita suka dengan keduanya. Itu akan membuat pria nampak macho dan garang."
"Aku tidak menyukainya."
"Aku tidak akan mencukur janggut maupun rambutku kecuali kau yang melakukannya," tantang Roy.
"Kau mulai nakal." Hana mulai bangkit, merapikan pakaiannya.
__ADS_1
"Bukankah ini baik untuk hubungan kita ke depannya? Butuh terobosan untuk membuat kita saling dekat," jujur Roy.
"Aku tidak bisa memotong rambut. Bisa-bisa aku malah membuatmu botak."
"Tidak masalah karena itu karyamu," kata Roy. "Jika ada yang bertanya, aku jawab calon istriku yang melakukannya."
"Selalu saja tidak mau kalah dan memaksa."
"Aku tidak memaksa hanya memberimu solusi, kau tidak suka dengan rambutku maka kau bisa memotongnya sesuai dengan yang kau inginkan."
"Bicara denganmu membuatku gerah. Aku akan mandi."
"Kita belum melakukan apapun dan kau sudah gerah?"
"Mengapa pria selalu berpikir ke arah sana?" Hana mengambil baju dari dalam lemari.
"Karena wanita adalah sebuah imajinasi yang indah."
Dia mengeluarkan satu dress berwarna tunik.
"Jangan itu, wajahmu akan terlihat tidak cerah," kata Roy.
Hana memasukkan lagi dan Roy lagi-lagi melarangnya.
"Jika kau tidak memperbolehkan ku memakai itu semua kenapa kau membelikannya untukku!"
"Hyun yang memilih bukan aku." Roy lalu bangkit dia memilih satu dress berwarna putih degan ikat tipis di pinggangnya.
"Ini akan cantik jika kau gunakan. Pakailah dalaman berwarna merah itu akan membuat terlihat bagus. Walaupun tidak terlihat langsung namun aku menyukainya."
Mata Hana membola dengan cantik sehingga bulu matanya yang panjang dan lentik ikut bergerak seperti ombak. "Kau mulai mengatur dalaman ku juga."
"Hanya sebatas saran saja."
"Sudah keluar sana, aku mau mandi."
"Mau kubantu juga?" Hana ingin mengatakan sesuatu. "Maksudku membantu mengisi bak dan memberi aroma terapi ke dalamnya."
"Tidak, aku bisa melakukannya sendiri." Hana lalu mendorong tubuh Roy keluar kamar.
"Jika kau di sini terus aku tidak akan mandi. Kau urus saja Ayu dan Bagus agar mau mandi sore."
"Baik, Calon Nyonya Quandt." Roy lalu membalikkan tubuhnya hendak pergi namun Hana kembali memanggilnya.
"Kenapa? Kau berubah pikiran ingin kubantu mandi?"
"Ish hilangkan pikiran itu dari otakmu. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu."
__ADS_1
"Apa?" Roy bersandar pada dinding pintu.
"Mati itu takdir dari Tuhan, Pak Roy. Tapi aku yakin mereka pasti bahagia meninggal dalam pelukanmu," kata Hana.