Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Kenangan Lama


__ADS_3

"Kenapa kau memutuskan tidak jadi pergi?" tanya Mikael setelah mereka mengantarkan Dita ke Paud.


"Entahlah, mungkin aku bodoh sehingga memutuskan tetap tinggal di rumahmu." Ariana terdiam menatap keluar jendela.


Terkadang terbesit pertanyaan dalam dadanya. Apakah Mikael ingat pertemuan mereka pertama kali? Ariana mendesah. Seakan beban berat menindih dadanya. Matanya terasa panas namun dia berusaha agar jangan sampai air matanya menetes untuk pria itu. Pria yang telah memberikannya rasa sakit selama bertahun-tahun.


Tepatnya delapan tahun lalu di sebuah perkebunan sawit di kampung mereka. Ariana bersama ayahnya, Makmur Sanjaya sedang melaksanakan kunjungan di sebuah perkebunan kelapa sawit yang besar milik keluarga Toha. Mereka berhenti di tengah perkebunan. Saat itu, Ariana melihat seekor kelinci berlari melompat dan penasaran lalu mengikuti kelinci itu. Hingga tanpa disadari dia terpisah dari rombongan.


Saat sadar dia telah jauh dari rombongan Ariana segera kembali. Namun, dia tidak bisa menemukan jalan pulang. Ariana sangat takut saat itu. Dia berteriak keras memanggil nama ayahnya dan meminta tolong berjalan terus hingga dia lelah. Ariana hanya bisa menangis.


Di saat itu, berpapasan dengan ular hitam yang besar. Ariana ketakutan. Tubuhnya gemetar tatkala melihat ular itu mendekat dan seperti menatapnya.


Ariana berteriak keras sembari menutup matanya pasrah dengan semua yang akan terjadi.


Dor!


Seseorang menembak ular itu tepat dikepalainya. Ariana masih memejamkan matanya dengan rapat. Hingga seseorang memegang kedua pipinya.


"Hei, buka matamu. Semua baik-baik saja." Pria itu menepuk pipi Ariana. Ariana membuka matanya dan bertemu tatap dengan mata cokelat terang itu.


Seketika rasa takut dan panik hilang tiba-tiba. Dia memeluk tubuh pria di depannya dengan erat dan menangis dalam pelukan pria itu. Awalnya si pria hanya diam lalu dia ikut memeluk Ariana.


"Semua baik-baik saja kau tidak perlu cemas. Mau kuantar pulang?" tanya pria itu.


Ariana menganggukkan kepalanya. "Di mana rumahmu?''


"Rumahku jauh. Aku sedang ikut Ayah kemari dan terpisah," ucap Ariana sesengukan.


"Ya, sudah kita ke rumahku saja. Nanti biar dari sana kau diantarkan ke tempat tinggalmu."

__ADS_1


Ariana menganggukkan kepalanya. Mereka bangkit dan Ariana melihat bangkai ular itu tergeletak di tanah. Ariana bergidik ngeri jika pria itu tidak segera datang mungkin dia sudah dimakan oleh binatang melata. Mereka lalu pergi dari sana dengan menaiki motor gunung.


Baru mereka sampai di tengah jalan. Motor pria itu mogok di jalan. Setelah dicoba berkali-kali tetap saja tidak mau hidup. Akhirnya mereka memutuskan jalan kaki.


"Siapa namamu?" tanya pria itu.


"Ariana." Dia melirik ke arah pria di sampingnya. Tampan dan gagah juga pemberani.


"Namaku Mikael. Kenapa kau bisa tersesat di perkebunan ini?"


"Aku ikut rombongan ayahku, tiba-tiba aku melihat kelinci, aku mengikutinya dan terpisah dari semua orang."


"Kau harus hati-hati berada di kebun sawit yang besar ini. Selain kau bisa tersesat juga banyak binatang buas yang bisa menyerang kita."


Ariana menganggukkan kepalanya.


"Ayah dan Kakakku," jawab Ariana polos. Pria itu tersenyum.


"Bukan maksudku teman pria?'' Ariana menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu aku akan jadi pria pertama yang menggenggam tanganmu," ujar Mikael memegang tangan Ariana.


"Jalanan sulit kita harus cepat pergi keluar dari perkebunan ini. Kau lihat langit sudah gelap sebentar lagi akan ada badai datang."


Mereka lalu berjalan dengan berpegangan tangan erat. Ramalan pria itu mengenai cuaca benar, hujan rintik-rintik mulai turun. Mereka lalu menemukan gubuk tua hanya beratapkan dedaunan kering dan berbentuk panggung sehingga mereka naik dan duduk untuk menunggu hujan reda.


Bukannya reda, hujan itu malah berubah menjadi badai. Bunyi petir yang keras terdengar menyambar di langit. Ariana yang memang takut petir sedari kecil berteriak keras dan menyembunyikan wajahnya ke dalam lutut. Dia mulai menangis.


"Tenang, semua akan baik-baik saja." Mikael mulai menarik tubuh Ariana yang gemetar ketakutan. Dia memeluknya.

__ADS_1


"Aku yakin, kau pasti belum pernah dipeluk oleh pria?" ujar Mikael mencoba mengalihkan perhatian Ariana dari ketakutannya. Ariana menganggukkan kepalanya. Mikael meletakkan kepala Ariana di dadanya yang hangat dan harum. Ariana mulai merasa tenang dan nyaman.


"Kalau begitu aku juga pria pertama yang memelukmu. Tentu saja selain ayah dan kakak mu." Ariana terdiam. Mikael mulai bertanya tentang hal kecil. Seperti keluarganya. Makanan dan apapun yang bisa mengalihkan perhatian Ariana dari ketakutannya. Itu berhasil. Ariana tenang.


Hari mulai gelap. Pria itu tahu jika mereka berdua terjebak di tengah perkebunan itu. Dia mulai mencari dedaunan dan kayu di dekat gubuk itu dan mulai menyalakan api unggun.


Udara malam mulai dingin. Tidak ada makanan di tempat itu. Untung saja ada botol air minum yang tertinggal. Mungkin milik pekerja, jadi mereka bisa meminumnya. Ariana meringkuk kedinginan di sebelah pria itu.


Mikael menarik tubuh Ariana mendekat. Memintanya masuk ke dalam pelukan pria itu.


"Percayalah, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku hanya ingin kau nyaman dan tidak kedinginan." Ariana lalu duduk diantara dua kaki pria itu dan masuk ke dalam pelukannya. Entahlah, waktu ini semua terjadi Ariana sangat percaya pada pria itu.


Mikael melepaskan jaketnya dan menjadikannya menutupi tubuh Ariana. Lalu tubuhnya bersandar di dinding gubuk. Tangannya memegang senjata api untuk berjaga jika ada hewan buas yang menyerang. Mereka terdiam seperti itu hingga malam tiba.


Dari kejauhan mulai terdengar suara orang memanggil. Mereka lalu bangkit dan melihat secercah sinar dari kejauhan.


"Kami di sini!" teriak mereka berdua senang dan antusias. Lama kelamaan rombongan itu datang.


"Kita selamat," ucap Ariana senang.


Mikael mengernyitkan dahinya, "Selamat?" gumamnya tersenyum geli. Rombongan orang yang mencari mereka akhirnya mendekat. Mereka lalu dibawa naik ke mobil bak terbuka. Ariana duduk di sebelah Mikael di bagian kursi penumpang.


Mereka akhirnya sampai di rumah keluarga Toha. Sebelum mobil berhenti Mikael memanggil Ariana lirih.


"Ariana," panggil pria itu di telinga Ariana. Gadis muda itu menoleh. Tepat di saat itu bibir Mikael dengan nakal mengecup bibir Ariana cepat. Membuat tubuh wanita itu membeku.


"Agar kau selalu ingat jika aku yang pertama untukmu," bisik Mikael. Mobil berhenti dan pria itu lantas turun dari mobil itu. Mereka lalu berpisah setelahnya.


Semenjak itu, Ariana akan senang jika diajak ke rumah Haji Toha sekedar berharap bisa melihat kembali pemuda yang mencuri hatinya. Sayang pemuda itu tinggal di kota jadi hanya saat-saat tertentu saja dia bisa melihat kembali Mikael. Bahkan, dia mendengar jika pria itu meneruskan kuliah di luar negeri. Ariana hanya bisa menahan rindu dan menyembunyikan perasaannya dari siapapun.

__ADS_1


__ADS_2