
"Aku tarik ucapanku, lain kali jika aku bertemu dengannya akan kusobek mulutnya," omel Ariana. Mikael tertawa.
Dita sendiri bingung dengan reaksi dua orang dewasa yang mendengar kalimatnya tadi.
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Haji Toha. Wajah Mikael terlihat menegang saat ini.
Seorang penjaga menghampiri mobil mereka yang berhenti di depan pintu gerbang. Ariana mengeluarkan kepalanya.
"Saya kira siapa ternyata Nona. Kenapa datang tengah malam?" tanya Pak Pur penjaga yang telah bekerja selama puluhan tahun di rumah ini.
"Iya, kami dari Jakarta langsung kemari." Pak Pur lalu melihat ke dalam mobil. Matanya membulat melihat ada Mikael di dalam.
"Den," ucapnya. Dia terlihat bingung mau mengijinkan atau melarang mereka masuk.
"Tanya Kakek, aku boleh masuk ke dalam atau tidak?" Pak Pur lantas menyuruh penjaga lain untuk menggantikannya sedangkan dia pergi berlari memasuki rumah.
"Kukira saranmu untuk tidur di hotel itu lebih baik."
"Tidak, bila ada tetanggaku yang melihat masalah bisa runyam. Kakak bisa langsung membawaku pulang jika ketahuan aku bersamamu. Jika langsung ke rumah kakek, aku akan aman hingga besok, setidaknya kau sudah bisa bertemu dengan ibumu. Tugasku selesai setelahnya dan aku bisa pulang kembali ke rumah."
Tidak lama kemudian Pak Pur datang dan menyuruh kawannya untuk membukakan pintu gerbang agar mobil itu bisa masuk ke dalam.
Dada Mikael sudah mulai berdetak dengan kencang. Mulai mempersiapkan diri dengan makian dan hujatan dari seluruh keluarga. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama.
Di sana nampak berdiri Kakeknya yang memakai kaos dan sarung, serta adiknya Ameena dan suaminya mungkin. Dia bahkan tidak bisa menghadiri pernikahan adiknya dan belum pernah melihat suaminya.
"Biar aku dulu saja yang turun." Ariana lalu turun terlebih dahulu dan berjalan mendekati Kakek Toha. Mencium tangannya. Menyalami Ameena. Wanita itu memeluknya.
"Aku tidak menyangka kau akan membawanya pulang Ariana," ujar Ameena. Dia mengenal Ariana setelah menetap di kampung sini bersama dengan orang tuanya. Ibunya sering membawanya bertemu dengan Ariana dulu. Kata Ibu Siti, Ariana adalah kakak iparnya jadi harus dihormati walau umurnya lebih kecil.
"Dia yang membawaku pulang kemari," bisik Ariana di telinga Ameena takut terdengar oleh Kakek Toha. Ameena mengangkat kedua alisnya terperangah.
Mikael turun menggendong Dita yang telah tertidur. Kakek Toha nampak tercengang begitu juga dengan adik dan suaminya.
__ADS_1
"Dia bukan anakmu kan Ariana?" tanya Kakek Toha Ariana menggelengkan kepalanya.
"Jangan memarahinya sekarang Kakek, kami dari perjalanan jauh besok saja," bujuk Ariana. Orang tua itu menghela nafasnya menatap tajam ke arah Mikael.
Pria itu ingin meraih tangan Kakek Toha namun pria tua itu membalikkan tubuhnya. "Memalukan!" serunya sebelum melangkah pergi.
"Kakak, akhirnya kau berani juga pulang ke rumah," kata Ameena menyudutkan. Mikael menghela nafasnya.
"Bagaimana kabarmu?" sapa Mikael pada Ameena untuk pertama kalinya semenjak enam tahun. Sebelum ini mereka sangat dekat tetapi semua berubah karena kesalahan Mikael.
"Buruk jika mengingat kondisi Ibu tetapi kali sekeluarga baik-baik saja." Ameena memeluk kakaknya. Sudah terlalu lama sekali mereka tidak bertemu. Mereka melupakan pertengkaran mereka ditelepon tempo hari.
Mata Ameena dan Mikael sama-sama berkaca-kaca. Mereka tidak mengatakan apapun tetapi sudah bisa menerangkan jika mereka saling merindukan.
"Ini putrimu?" tanya Ameena menyentuh pipi Dita. Mikael menganggukkan kepalanya.
"Oh, ya. Kenalkan ini suamiku. Aris."
"Kak," sapa Aris menyalami kakak iparnya.
Ariana mengambil Dita dari gendongan Mikael. Pria itu lantas memeluk adiknya.
"Aku merindukanmu, teganya kau meninggalkan kami lama. Ibu sampai sakit memikirkanmu." Ameena memeluk erat kakaknya itu. Menumpahkan segala isi hatinya lewat Isak tangisnya.
"Maaf," hanya kata itu yang Mikael katakan sembari mengusap kepala adiknya itu.
"Kalian pasti lelah sebaiknya kita ke kamar tamu, kamarmu belum dibersihkan. Kau tidak memberitahuku sebelumnya." Ameena melepaskan pelukannya.
"Aku takut diusir kembali sebelum masuk ke dalam rumah," ujar Mikael mengusap matanya yang basah.
"Kalian satu kamar kan? Jangan bilang jika kalian kesini hanya untuk bersandiwara saja?"
Mikael dan Ariana saling memandang dan menggelengkan kepalanya bersamaan.
__ADS_1
"Kalian tidak berbohong jika telah bersama lagi? Jangan kembali kecewakan keluarga kita!"
"Kami baru saja ingin mencoba semuanya dari awal," ungkap Mikael menatap Ariana dan mendapat anggukan wanita itu.
"Apapun itu kalian sudah berniat baik untuk tetap bersama. Ingat di keluarga kita tidak pernah terjadi perceraian."
Mikael menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan Ariana melihat ke arah lain. "Huft!"
"Ayo masuk," ajak Ameena membuka pintu rumah lebar-lebar.
Mikael terdiam menatap pintu itu. Matanya kembali merah. Setelah enam tahun akhirnya dia melangkah kembali masuk ke dalam sana. Pria itu menatap Ariana lagi meraih bahu wanita itu dan mengajaknya masuk bersama.
Ariana terkejut dengan perlakuan pria itu. Namun, dia tetap berjalan di sisinya. Langkahnya terasa bergetar ketika masuk ke dalam rumah. Aroma kayu menjadi hal pertama yang dia hirup masuk ke dalam paru-parunya.
Ingatannya akan masa kecil yang ceria bersama dengan keluarga besar kembali ke dalam otaknya. Dia menyapukan pandangannya pada ruangan sebesar lapangan bola itu. Tidak banyak yang berubah semua nampak sama hanya saja warna korden atau beberapa ornamen baru yang ada di ruangan itu.
"Kau lelah biar aku yang menggendongnya," pinta Mikael.
"Tidak apa-apa, kau temui saja orang-orang itu. Mereka pasti sangat merindukanmu," tunjuk Ariana pada sekelompok orang yang berdiri di sudut ruangan. Mereka pekerja rumah ini dan salah satunya orang yang telah mengasuhnya sewaktu kecil.
"Den Mike, Ya Tuhan sudah lama sekali. Mbok kangen," Wanita tua itu memeluk Mikael sembari menangis.
"Sehat, Mbok," tanya Mikael. Wanita itu menghanguskan kepalanya. Lalu diikuti dengan pelayan menyapa Mike. Ariana merasa terharu melihat sambutan dari orang-orang itu untuk Mikael. Mereka nampak merindukannya walau ditengah kekecewaan yang menghadang.
Ariana tidak menyesali keputusannya kali ini. Dia bisa membuat bahagia sebagian orang walau tidak tahu masalah apa yang akan mungkin terjadi selanjutnya.
Ariana menatap ke lantai atas. Di sana ada Kakek Toha yang menatap ke arahnya tanpa ekspresi. Pria itu lalu pergi meninggalkan tempat itu hilang dibalik tembok.
Ameena menarik tangan Ariana masuk ke kamar yang akan mereka tempati. Ariana meletakkan Dita di tempat tidur dengan lembut dan menyelimutinya.
"Anak kakak cantik," puji Ameena. "Sayang bukan anakmu, jika anakmu pasti semua orang akan bahagia."
"Seharusnya kau harus bahagia karena telah mempunyai keponakan," balik Ariana.
__ADS_1
"Kau tidak membenci anak ini karena ibunya telah membuat hidupmu menderita?"
Mikael yang ingin masuk ke dalam kamar menghentikan langkahnya untuk mendengar jawaban Ariana. Dia ingin tahu bagaimana perasaan wanita itu pada Dita. Entah mengapa dia peduli pada tanggapan Ariana untuk saat ini.