Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Aroma Menggoda


__ADS_3

Ariana keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Wajahnya terlihat segar setelahnya. Harum aroma sabun menguar ke ruangan itu. Mikael merasa terganggu dengan aroma itu. Dia itu pria yang sudah tidak bersama dengan wanita selama bertahun-tahun. Kini mencium aroma itu saja membuat konsentrasinya hilang seketika.


Dita yang sedang mewarnai menghentikan kegiatannya. Bangkit dan berjalan ke arah Ariana. Dia mengekor Ariana dan berceloteh banyak hal. Beberapa saat kemudian mereka keluar dari kamar.


"Aku akan makan, kau mau makan sekarang atau tidak?" tanya Ariana hati-hati.


"Aku sedang tidak bernafsu," ucap pria itu ketus. Ariana mengedikkan bahunya sedikit. Dia lalu menuju ke bawah ke arah ruang makan.


Ariana sudah makan sebetulnya hanya saja perkataan Dita menggelitik hatinya. Apakah pria itu menunggunya makan atau memang sedang diet dan tidak ingin makan malam. Namun, untuk apa dia melakukan diet. Perutnya sudah rata berbentuk, berotot dan ??? Ariana menggelengkan kepalanya mengingat betapa seksinya pria itu jika sedang bertelanjang dada. Beberapa kali dia melihatnya ketika mereka bersama di kampung.


Ariana melihat menu makanan di meja. Nampak enak hanya saja dia ingin sesuatu yang beda. Dia lalu mengambil ayam kecap dan meletakkannya di piring. Pergi ke dapur dan mulai mencari sesuatu di laci dan lemari pendingin.


"Ibu ingin membuat apa?"


"Mie ayam yang pedas," jawab Ariana.


"Boleh aku minta? Tapi Ayah tidak memperbolehkan aku makan mie." Ariana menatap mata bulat dan besar milik Dita.


"Kalau begitu dia tidak akan menolak mie buatanku. Kau pun akan mencobanya nanti."


"Kalau ayah marah?"


"Tidak akan," jawab Ariana.


Dia mulai masak mie mencampur dengan sayuran, bawang geprek sosis dan telor. Terakhir dia meletakkan irisan ayam di atas mie yang sudah matang. Bau harum mie buatan Ariana menguar ke segala sudut rumah. Tampilannya pun cantik, berwarna-warni. Dia membuat semangkuk besar mie itu dan dibawanya ke atas.


Mikael menoleh ketika melihat Ariana kembali dengan membawa makanan ke atas. Dia adalah orang yang rapi tidak pernah makan kecuali di ruang makan dan kini wanita itu membawa makanannya ke atas.


"Kau bisa makan di bawah saja, ini ruang santai bukan tempat makan."

__ADS_1


"Aku ingin makan sambil menonton televisi. Kau mau ikut makan atau tidak? Aku memasak banyak," tawar Ariana.


"Kau masak mie instan?"


"Aku buang air seduhannya tadi sehingga aman untuk dimakan," kata Ariana. "Lagipula aku tidak makan ini setiap hari." Wanita itu meletakkan mangkuk besar itu di meja.


"Ayah aku boleh makan ini ya?" tanya Dita memelas. Mikael terdiam dan mulai berpikir. Sebelum pria itu mengatakan hal yang membuat perut Ariana mulas, dia memilih mendekat ke arah Mikael. Memegang tangan pria itu dan menariknya ke meja sofa.


Pria itu menurutinya dan duduk di lantai bersama Ariana. Menatap wanita itu ketika mengambil mie dengan sumpit dan meniupnya pelan.


"Kau coba dulu dan katakan apa rasanya. Pasti enak," ucap wanita itu menyerahkan mie di sumpit itu pada Mikael.


"Pasti enak," Dita bertepuk tangan tidak sabar melihat Ayahnya makan dan memperbolehkan dia ikut makan.


Mikael lalu mencobanya.


"Bagaimana enak Ayah?" tanya Dita tidak sabar.


"Ini enak," ujar Ariana mencoba mienya. Dia juga menyuapi Dita.


"Enak, Bu," kata Dita senang. Akhirnya dia boleh makan mie juga.


Ariana lalu memberikan sumpit itu pada Mikael.


"Makan satu mangkuk bersama itu enak," katanya. Mikael menatap Ariana dengan ekspresi yang sulit dimengerti, tersenyum sangat tipis sehingga nyaris tidak terlihat sama sekali.


Mereka makan bersama sembari melihat acara televisi. Di sini yang makan paling banyak malah Mikael. Ariana lebih banyak menyuapi Dita daripada makan sendiri. Sebenarnya dia sudah kenyang setelah makan malam dengan Adam. Hanya saja dia tidak enak mendengar Mikael belum makan jadi dia menyiapkan makan untuknya dengan dalih dia yang ingin makan.


"Aku akan meletakkan ini ke dapur," ucapnya setelah mereka selesai makan. Dita yang merasa kekenyangan berbaring di sofa.

__ADS_1


Ariana lalu turun ke bawah dan pergi ke dapur untuk mencuci bekas makanan dan peralatan masak yang tadi dia gunakan.


"Kau pergi darimana saja bersama Adam?"


Ariana terkesiap. Mikael seharusnya tidak mengejutkannya seperti ini datang secara tiba-tiba tanpa suara. Ariana mencoba berkonsentrasi dengan pekerjaannya.


"Kami pergi keluar, kau pasti tahu apa yang anak muda lakukan jika bersama diluar."


Ariana tahu Mikael sedang menatapnya tajam, serasa menguliti tubuhnya.


"Ya, aku tahu seperti berciuman di jalan?"


Ariana menghentikan pekerjaannya. Apakah pria itu melihatnya sedang melakukan itu bersama Adam. Itu bagus setidaknya itu menegaskan jika dia punya pria lain sehingga Mikael tidak berhak lagi mengacak-acak kehidupannya.


"Tapi kami tidak pernah melakukan hal lebih, aku tahu batasanku?" Ariana tercekat ketika tangan Mikael berada di pinggangnya dan kepala pria itu tepat disamping telinganya sehingga pipi mereka menempel.


"Jika kau tahu batasanmu kau tidak akan melakukan itu, kau masih menjadi istriku," ucap pria itu. Ariana memejamkan matanya menahan debaran jantungnya yang keras.


"Aku kira status itu sudah hilang dan lenyap dari hidupku karena kau tidak pernah mengakuinya," ucap wanita itu sakit.


Tubuh Ariana tiba-tiba diputar sehingga menghadap ke arah pria itu. Tangan pria itu dengan lembut mengusap pipi Ariana.


Ariana merasa sesak nafas. Dunia seakan berhenti berputar. Tangan Mikael serasa membakar dan merasuki tubuhnya, memancarkan cahaya. Dia menjulurkan tangan mencari pegangan di belakang tubuhnya.


Dia tidak tahu begitu banyak tentang pria tetapi dia punya naluri wanita yang peka. Ariana menatap mata cokelat terang milik Mikael. Menebak apakah Mikael hanya ingin bermain-main dengan dirinya. Namun, yang dia temukan hanya hasrat pria itu hasrat yang sama dengannya. Ariana meletakkan tangannya di dada Mikael, ingin mendorong tubuh pria itu tetapi kulitnya merasakan debar jantung pria itu sama keras dengan miliknya.


Itulah yang membuat Ariana gemetar, ketika tangannya naik dan menelusuri leher Mike yang hangat dan rambutnya yang halus. Mikael merapatkan tubuhnya ke tubuh Ariana membungkukkan badan dan menyentuh bibir Ariana dengan bibirnya sendiri.


Mikael mencium, memagut dan ******* bibir Ariana seakan memenuhi gejolak dahaganya. Ariana membuka mulutnya dan membiarkan kelembutan bibir Mikael merasuki tubuhnya.

__ADS_1


Tangan Mikael melingkari pinggang Ariana dengan erat memperdalam apa yang mereka lakukan. Ariana sadar tubuhnya semakin masuk ke dalam tubuh Mikael yang kokoh dan hangat itu. Dia sebentar lagi melebur atau hangus terbakar dalam api gairah lalu akan melayang, terbang jika dia tidak menghentikan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


__ADS_2