Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Matilah Aku?


__ADS_3

"Hanya saja ada masalah ini yang membuat Tuan Sanjaya marah. Mungkin butuh waktu lama untuk bisa memaafkan Den Mike sepenuhnya.


"Saya cukup tahu diri, Pak," ungkap Mikael terdengar sedih.


"Den Mikael yang sabar, semua pasti akan terlewati dengan baik." Paryo mencoba untuk memberi semangat pada Mikael.


"Terimakasih. Saya sudah diterima di sini saja sudah bersyukur. Untuk mengembalikan lagi kepercayaan yang sudah memang berat dan butuh banyak kesabaran. Ini tidak sebanding dengan luka yang telah saya torehkan selama enam tahun untuk keluarga ini."


"Kalau butuh apa-apa tinggal panggil saya atau istri saya di rumah itu. Kalau jam makan biasanya nanti setelah Isya, Den Mikael bisa ikut bergabung bersama kami. Saya tidak tahu apakah Tuan Sanjaya akan memperbolehkan Den Mike, ikut bergabung dengan Non Ariana dan keluarganya atau tidak?"


"Iya, Pak. Kalau begitu saya harus cepat-cepat beres-beres karena sudah hampir maghrib."


"Silahkan, saya juga mau sholat dulu baru ke kebun."


"Sendiri Pak?"


"Tidak nanti di temani oleh Dodi," kata Paryo.


Mikael mengangguk lalu meneruskan pekerjaannya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mengeluarkan semua barang yang ada. Setelah itu dia akan mulai menyapu dan membersihkannya.


Ariana mengajak Dita ke bawah untuk tahu di mana kamar Mikael berada. Dia berjalan melewati kamar para pekerja kebun. Lalu bertanya dimana kamar suaminya. Mereka menunjuk ke arah kamar dengan tumpukan barang-barang kotor di depannya.


Dengan perasaan cemas dan penuh kemarahan Ariana datang ke sana untuk memastikan apakah Ayahnya memberikan kamar mandor dulu yang sudah menjadi gudang untuk Mikael.


Benar saja, dia melihat Mikael sedang menyapu dengan tubuh penuh dengan kotoran dan debu. Matanya memerah seketika. Ayahnya kenapa tega melakukan ini pada menantunya sendiri? Padahal Mike bisa saja tinggal di kamar pekerja kenapa harus di dalam gudang?


"Ayah?" panggil Dita. Mikeal menghentikan gerakannya, membalikkan tubuh, menatap Ariana yang sedang mengusap pipi yang mulai basah.


"Eh, kalian kenapa kemari? Ini kotor lho. Sebaiknya kalian kembali ke kamar saja."


Ariana lalu melepaskan tangan Dita dan masuk ke dalam kamar itu memeluk tubuh suaminya.


"Maaf, Ayah sangat keterlaluan," ucapnya.


"Tidak apa-apa, asal bersamamu semua akan dijalani dengan mudah." Mikael menggerakkan tubuhnya agar Ariana melepaskan pelukannya. Tangannya sangat kotor tidak ingin membuat tubuh istrinya ikut kotor juga. "Lepaskan, tubuhku kotor. Lagian malu kalau dilihat yang lain."

__ADS_1


"Padahal," ucapan Ariana terpotong ketika Mikael menggelengkan kepalanya.


"Ini ujian dari Ayahmu, dia hanya ingin melihat emosiku dan menilai bagaimana caraku mengatasi ini semua."


"Kau ini malah membela Ayah."


"Eh benar. Bukankah kamar ini kotor dan banyak bagian yang rusak. Tugasku adalah merapikan dan membersihkannya agar nyaman untuk ditinggali. Sama seperti masalah kita. Aku harus membersihkan kebencian yang telah aku taburkan dan membuat hubungan indah kembali dengan semua orang agar aku bisa nyaman tinggal di sini."


Ariana terhenyak oleh penuturan Mikael.


"Kalau begitu aku akan membantumu," kata Araina.


"Tidak kau urus saja Dita dan jaga dia itu sudah membantuku." Mikael mengecup pipi Ariana.


"Ayah tidak menciumiku?" tanya Dita menunjuk ke pipinya.


"Tentu saja, kemarilah," kata Mikael.


"Tidak mau, Ayah harus mandi dulu. Badan Ayah kotor pasti banyak kuman," ujar Dita.


"Nanti malam kau akan tidur di mana?" tanya Ariana tidak melihat ada tempat tidur. Hanya dipan lama saja.


Ariana menghela nafas dalam. Membayangkan Mikael yang perfeksionis harus tidur di sana.


"Semua akan baik-baik saja Ariana. Kita bisa membeli kasur dan perlengkapannya besok."


Ariana menganggukkan kepala.


"Kau jangan khawatir. Kamar ini akan kusulap menjadi kamar yang bagus, besok."


"Apa kau bisa mengerjakan semuanya sendiri?" Ariana melihat atap plavon yang bolong.


"Ada uang untuk membeli barang, ada tenaga ada video tutorial, pasti bisa mengerjakannya."


Ariana menepuk kesal pada Mikael. Suaminya itu selalu saja bisa menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Apa kau kecewa pada Ayah?" tanya Ariana lirih.


"Tidak, itu wajar dilakukan orang tua untuk memastikan bahwa anaknya berada di tangan orang yang tepat."


Terdengar bersin-bersin dari Dita. "Lihat, putri Ayah itu akan bersin di tempat kotor. Ariana bawa dia menjauh dari sini kalau tidak tubuhnya nanti akan memerah karena gatal."


Ariana lalu membawa Dita pergi dari sana. Perkataan Mikael sedikit banyak menenangkannya. Semua itu memang masuk diakal dan benar adanya.


Ariana lalu mengajak Dita pergi sholat Maghrib di kamar. Lalu Ariana pergi ke bawah untuk mengambil buku Iqro. Dia mulai mengajari Dita huruf Hijaiyah.


"Ini dibaca A, kalau ini Ba. A Ba," kata Ariana dan diikuti oleh Dita dengan baik.


Elang yang baru pulang melewati kamar Ariana dan melihat adiknya itu sedang mengajari seorang anak kecil.


"Anak pria itu?" tanya Elang.


"Humm," jawab Ariana tanpa menoleh. Dita menatap ke arah Elang.


"Dia kakak Ibu, kau boleh memanggilnya Paman."


"Seperti Paman Aris?"


"Ya," jawab Ariana.


"Paman," sapa Dita tetapi Elang hanya diam. Dia meninggalkan mereka tanpa kata. Hanya saja wajahnya terlihat tidak senang.


Elang memang kesal karena adiknya malah terlihat dekat dengan anak dari wanita yang telah menggoda suaminya. Seharusnya anak itu tinggal di rumah keluarga Mikael saja. Kenapa malah tinggal di sini dan diberikan beban mengurus bocah itu pada Ariana? Ariana yang terlalu bodoh atau naif, mau saja diperdaya oleh Mikael.


Dia lalu pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Moodnya yang membaik karena telah bertemu dengan Zahra kini memburuk lagi setelah menyadari bahwa Mikael berada di rumah ini. Dia tidak habis pikir mengapa Ayahnya malah memberi pria itu kesempatan walau diberi syarat tidak mudah.


Seharusnya, ayahnya menyuruh Ariana menggugat cerai Mikael saja dan menikahkannya dengan pria lain. Lagipula, soal hamil itu tidak masalah. Banyak janda satu anak yang bisa menikah lagi dan dapat pria yang lebih baik dari suaminya yang dulu.


Elang lalu duduk di pinggir tempat tidur merogoh kertas dalam sakunya. Kertas berisikan alamat rumah Zahra.


Dia lalu mandi setelah itu mengambil laptop dan mencari alamat rumah Zahra melalui internet. Dahinya mengerut, tidak percaya dengan lokasi yang dia peroleh. Lalu diperjelas dengan bentuk rumah yang Zahra tempati. Matanya membelalak lebar tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

__ADS_1


Elang ingin memanggil Ariana untuk memastikan apa yang dia lihat dan bertanya tentang Zahra tapi di telan kembali. Matanya mengerjap memandangi gambar penampakan rumah Zahra dari layar laptop. Tenggorokannya seperti tercekat.


Apa hubungan Zahra dengan Mikael? Jika mereka ada hubungan kekerabatan maka matilah dia. Mau ditaruh di mana wajahnya.


__ADS_2