Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Rahasia Zahra


__ADS_3

Dear Diary,


Seorang pria tua datang mencari ibuku, aku tidak tahu siapa dia hanya saja dia memelukku lalu pergi begitu saja.


Sore harinya, Ibu Nur memberitahu jika dia yang akan membiayai semua kebutuhanmu di sini.


Apakah yang dimaksud itu adalah kakek Toha. Jika iya mengapa dia mencari ibu Zahra lalu menemui anak itu dan mengatakan akan menanggung biaya sekolah Zahra?


Berbagai pertanyaan mampir di benak Elang. Niat hati dengan membaca diary Zahra dia bisa tahu tentang isi hati wanita itu untuknya malah dia menjadi penasaran dengan masalalu wanitanya itu.


Elang kembali membuka halaman demi halaman buku itu yang sebagian besar menceritakan keseharian wanita itu di panti asuhan. Lama-kelamaan rasa kantuk menyerangnya hingga akhirnya dia tertidur dengan memeluk buku itu.


Sedangkan Mikeal bergegas bangun dari tempat tidur walau rasa kantuk menderanya. Dia baru saja memejamkan matanya satu jam lalu. Percintaannya dengan Raina sedikit banyak membuatnya puas tetapi pekerjaan yang begitu banyak dan menumpuk membuatnya lelah. Dengan malas dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah itu, dia bersiap dengan sweater tebal untuk keluar dari kamar menuju ke lantai bawah tempat di mana para sopir mulai bersiap pergi membawa dagangan mereka.


Sejenak dia menatap wajah istrinya yang sedang terlelap. Mulut wanita itu sedikit terbuka ketika tertidur. Sesekali terdengar dengkuran kecilnya ketika merubah posisi tidur.


Mikael tersenyum, dia mendekat untuk mencium pipi istrinya sebelum turun ke bawah. Rasa cinta kepada istrinya terus bertambah seiring dengan kebersamaan mereka secara intens. Dia bisa mengenal watak dan sifat Ariana untuk belajar memahami apa keinginan wanita itu. Ariana memang layak diperjuangkan dan dia merasa tidak rugi karena telah melepaskan pekerjaannya sebagai dosen untuk mengejar cinta gadis itu. Dia kini sudah bukan gadis lagi, pikir Mikael geli.


Dia lalu turun ke bawah dan melihat Ayah mertuanya sedang berjalan diantara temaramnya lampu ruang tengah.


"Paman tidak istirahat saja di kamar?" tanya Mikael.


"Sudah terbiasa jadi sulit untuk merubahnya."


"Bagaimana dengan penjualan hari ini?" tanya Sanjaya.


"Bagus Paman tidak ada kendala yang berarti," ujar Mikael lalu mereka berdua ke halaman samping melihat anak buah Sanjaya melakukan bongkar muat barang.


Mikael mulai mengecek dengan seksama bongkar muat itu membuat hati Sanjaya tenang karena telah memasrahkan pekerjaan itu pada orang yang tepat. Anak itu cepat sekali bisa belajar tentang penjualan. Namun, tidak heran karena pendidikannya juga di bidang itu. Bagaimana pun berlian di letakkan di manapun akan tetap bersinar. Dia berada di kalangan bawah dari proses jual beli tetapi dia mulai melakukan inovasi dan membicarakannya terlebih dahulu dengan Sanjaya.


Pagi harinya, Elang terbangun dan kaget melihat jam di dinding. Dia lalu turun ke bawah untuk membantu ayahnya. Dia menaikkan alisnya tatkala melihat Mikael dan Sanjaya sedang berunding tentang satu hal. Mereka nampak kompak, seperti tidak ada sekat lagi yang membatasi.

__ADS_1


Elang mendekat sambil menyisir rambut dengan sela jari ke belakang. Lalu merenggangkan tubuhnya.


"Pekerjaanku kini terasa ringan," ujar Elang.


"Ringan karena kau mengabaikan semuanya.Kau malah sibuk dengan urusanmu sendiri," sungut Sanjaya kesal.


Di saat bisnisnya sedang bermasalah malah Elang sibuk dengan urusannya sendiri. Biasanya dia adalah orang yang bertanggung jawab dengan pekerjaannya tetapi mungkin putranya sedang punya masalah sendiri yang dianggapnya lebih penting. Sanjaya mencoba mengerti tetapi dia juga harus menegurnya.


"Aku melepaskannya untuk sejenak karena tahu adik iparku ini bisa mengatasi semuanya," Elang menepuk bahu Mikael dengan keras sembari tertawa hambar lalu segera melarikan diri takut jika Ayahnya memperpanjang masalah ini.


Sedangkan Mikael terkejut dengan sikap Elang yang tiba-tiba berlagak dekat dengannya atau memang kakak iparnya itu sudah memaafkan dirinya sepenuhnya? Apapun itu, semua sudah dilalui dan semoga dia tidak mengecewakan semua orang lagi.


Elang memilih beribadah subuh di rumahnya tidak seperti Mikael dan Ayahnya. Setelah itu, dia duduk di tempat tidur dan membuka kembali Diary Zahra. Semakin dia membacanya, semakin dia merasa salut pada kesabaran Zahra dalam menghadapi problematika hidup di usia dini.


Dirinya saja yang ditinggal ibunya ketika sudah dewasa merasa terpukul dan sedih. Padahal masih ada ayah dan dua saudara yang lain. Sedangkan Zahra tidak punya siapapun dan hidupnya miris. Tinggal di panti asuhan yang hanya untuk makan saja harus menunggu waktu, tidak bisa jajan sesukanya lalu bersenang-senang layaknya remaja seusianya.


Dear Diary,


Akhirnya Kakek Tua itu datang lagi. Dia mengatakan akan membawaku pergi ke rumahnya sebagai anak angkat. Rasanya sulit berpisah dengan orang-orang yang biasa dekat denganmu dan meninggalkan panti yang sudah jadi rumahmu. Aku sempat menolak pada Ibu Nur dan mengatakan akan pergi bekerja saja di luar kota. Tidak perlu ikut dengan pria itu.


"Elang... Elang... ," suara ayahnya terdengar dari balik pintu. Elang lalu menutup buku itu dengan cepat dan menyembunyikan di bawah tempat tidur.


"Kau nanti pergi ke perkebunan di desa sebelah. Katanya singkong di kebun itu bisa kita panen besok kau cek dulu, apakah sudah layak untuk di panen atau belum?"


"Sekarang Ayah?"


"Semakin pagi semakin baik tetapi kau harus sarapan dulu," ujar Sanjaya.


"Baik, aku akan bersiap. Ekhmmm tidak serahkan tugas ini saja pada Mike?"


"Kau itu sudah dibantu malah meminta lebih, dia sudah sibuk dengan urusan keuangan lagipula dia belum mengerti tentang perkebunan."


"Siap, Ayah," kata Elang, langsung menutup itu lagi membuat Sanjaya terkejut. Elang lalu menatap ke bawah tempat tidurnya. Rasa penasarannya bertambah. Sebuah rahasia? Rahasia apa? Dia akan membacanya lagi setelah menyelesaikan perintah sang mandor rumah ini.

__ADS_1


Ariana bangun kesiangan dan mendapati matahari sudah masuk ke celah-celah kamarnya. Dia langsung bangkit, di saat itu Mikael masuk ke dalam kamar.


"Kenapa kau tidak membangunkan aku?" tanya Ariana.


"Sudah, tapi kau memejamkan mata lagi," ucap pria itu tenang. Dia lalu duduk di depan Ariana yang sedang mengerutkan alis setengah tidak percaya dengan perkataan suaminya.


Jari telunjuk Mikael menyentil hidung Ariana, lalu tersenyum.


"Kau kelelahan," ujar Mikael lalu mengangkat tubuh wanitanya ke atas pundak.


"Akh!" seru Ariana keras karena terkejut. Mikael menabok keras pantat wanita itu.


"Sekarang mandi lalu buatkan aku segelas kopi, aku tidak mau orang lain yang membuatkannya."


"Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri," ujar Ariana menolak tetapi Mikael tetap membawanya ke kamar mandi.


"Aku takut kau sulit berjalan, kau terlalu aktif bergerak semalam," ujar Mikael menurunkan Ariana lalu menyalakan air keran yang hangat.


"Ish, bukannya kau yang terlalu liar," ucap Ariana kesal. "Aku hanya melakukan apa yang kau mau." Ariana mencebikkan tubuhnya.


"Kalau aku mau sekali lagi sekarang apa kau ijinkan?"


"Katamu aku lelah," tolak Ariana. Tubuhnya memang terasa pegal seperti remuk, pinggangnya sakit.


"Ya, sudah jika kau menolaknya," ucap Mikael beranjak pergi tetapi tangan Ariana mencegahnya.


"Jika kau ingin tinggal lakukan saja, jangan meminta...," ucap Ariana.


"Aku tidak ingin memaksa ketika kau sedang tidak menginginkannya." Mikael menatap manik mata Ariana


"Aku selalu ingin bersamamu," ungkap Arina tangannya yang basah menyentuh leher Mikael dan bergerak lembut di sana.


"Ibu..., Ayah ... kemana kalian? Aku lapar," teriak Dita dari luar pintu kamar mandi.

__ADS_1


Ariana dan Mikael lalu tertawa kecil tanpa suara. Sudah berapa kali anak itu menghentikan acara panas orang tuanya.


__ADS_2