
Mobil Elang akhirnya berhenti di depan rumah keluarga Toha mengamati sekitarnya. Dia tidaj berani membuka pintu kaca karena sebagian besar orang sekitar sini telah melihatnya sewaktu memukul Mikael.
Dia benci menjadi pengecut. Akan tetapi, dia tidak bisa langsung terus masuk ke dalam untuk mencari kebenarannya. Malu dan takut bercampur jadi satu. Malu jika bertemu dengan orang-orang dari keluarga Mikael dan takut jika kenyataannya Zahra memang ada hubungan kerabat dengan Mikael.
Elang menghembuskan nafas berat. Perutnya mulai merasa keroncongan di saat yang tidak tepat. Apakah dia harus pergi mencari makan atau dia tetap di sini menunggu Zahra terlihat keluar dari rumah baru bertanya tentang masalah ini.
Sudah tiga jam dia menunggu Zahra keluar dari rumah itu namun dia belum melihat pucuk hidungnya sama sekali.
Di saat dia sedang menahan lapar yang terasa sangat, Elang melihat ada gerobak bakso lewat depannya. Serta merta dia memanggil tukang bakso itu.
"Pak, beli," panggil Elang. Tukang bakso itu berhenti dekat dengan mobil Elang.
"Satu Pak, jangan pakai mie, hanya saja baksonya dibanyakin, saya bayar dua porsi."
"Ya. Bang tunggu dulu."
Tukang bakso mulai meracik baksonya dan diberikan pada Elang. Pria itu lalu memakan baksonya sambil netranya tetap menuju ke arah rumah itu.
"Abang mau kemana? Kok berhenti di sini?" pedagang bakso itu berjongkok di dekat pintu mobil Elang. Menunggu pria itu menyelesaikan makannya.
"Sedang beristirahat dari perjalanan jauh, menunggu teman yang mau menjemput, soalnya saya tidak tahu dimana alamat pasnya. Saya hanya disuruh menunggu di sini," kilah Elang.
"Pak, bukannya ini rumah keluarga Toha ya?" tanya Elang.
"Iya," jawab pedagang bakso itu.
"Abangnya kenal sama keluarga itu?" tanya Tukang bakso itu.
"Tidak terlalu hanya mengenal Mikael saja tetapi tidak akrab."
__ADS_1
"Oh, Pak Mikael, cucu tertua kakek Toha?"
"Memang berapa cucu keluarga Toha?"
"Ada banyak hanya saja yang tinggal di sini namanya Ameena dan suaminya Bang Aris. Sedangkan anak-anak keluarga Toha lainnya sudah punya rumah sendiri dan tinggal di sana bersama cucunya."
Elang menganggukkan kepala. Berarti Zahra tidak ada hubungan dengan keluarga Toha jika memang iya, Tukang bakso ini pasti tahu. Rasa tenang menghinggap di hati Elang.
Ketika dia sedang menyuap bakso untuk digigit, Elang melihat Zahra keluar dari rumah itu. Di belakangnya nampak Kakek Toha dan Ibu dari Mikael.
"Uhuk... ," bakso tertelan dengan sempurna tanpa dia kunyah terlebih dahulu membuat Elang tersedak dan batuk, batuk sembari memukul dadanya yang terasa panas.
"Pelan-pelan Bang," kata Tukang bakso. Elang lalu mengambil air mineral dan meminumnya hingga merasa enakan. Tatapannya tidak pernah lepas dari sosok wanita yang dari tadi ditunggunya.
"Kalau itu?" tanya Elang.
"Wah, bisa aja," ujar Elang menyerahkan mangkuk bakso itu pada penjualnya. Dia lalu menyerahkan uang lima puluh ribuan.
"Saya ambilkan kembaliannya di gerobak," kata tukang bakso itu.
"Kembaliannya ambil saja."
"Terima kasih, Bang." Pria itu memasukkan uang tadi di saku celananya. " Wah, penglarisan ini," ujarnya senang.
"Oh ya, Neng Zahra itu anak angkat dari keluarga Toha," terang tukang bakso tadi membuat Elang tersedak ketika sedang menghabiskan air mineralnya.
"Kenapa, Bang?" tanya Tukang bakso lagi.
"Kalau anak keluarga mereka saya jadi minder. Mereka kan keluarga kaya raya," kata Elang.
__ADS_1
"Abang ini pun dilihat dari orang berada. Jadi tidak usah minder, lagipula Abang tampan pasti Kak Zahra juga akan tertarik. Tetapi rumornya, dia akan dilamar oleh kerabat dari keluarga Toha. Entah berita ini benar atau tidak saya kurang tahu."
"Terima kasih, Pak," kata Elang. Penjual bakso lalu undur diri untuk meneruskan lagi jualannya.
Elang memerhatikan Zahra yang sedang menyapu halaman rumah. Dia menghela nafas tidak tahu bagaimana caranya agar wanita itu mendatanginya. Dia ingin bertanya banyak.
Keraguan mulai merayap dalam hati. Zahra adalah anak angkat keluarga Toha berarti tahu tentangnya. Sial. Dia memaki diri sendiri dan merasa kesal dengan takdir yang seperti mempermainkannya.
Haruskah dia memupus perasaanya yang telah terlanjur bersemi di dada atau dia tetap maju ke depan. Tidak bisa mereka pasti tidak mengijinkannya mendekati Zahra.
Elang mengantukkan kepalanya pada stir mobil. Berarti Zahra kemarin sudah tahu siapa dirinya. Dia merasa dipermainkan oleh wanita itu. Selama ini banyak wanita yang mengejarnya tetapi hanya Zahra yang terlihat dingin dan anti pati padanya. Apakah ini penyebabnya karena dia pernah melihat Elang? Ya, dia pasti tahu tentang dirinya.
Elang merasa bodoh kali ini. Elang lalu menyalakan mesin mobilnya dan melajukan pelan serta menurunkan kaca mobil. Dia mengklakson pelan Zahra.
Wanita itu melihat ke arah mobilnya dan terdiam tanpa ekspresi. Hal itu, membuat Elang ingin marah dan memaki wanita itu kenapa tidak berterus terang padanya dari awal. Jika dia tahu maka dia tidak akan memupuk rasa itu dari awal.
Elang kembali lagi ke rumahnya dengan lesu. Sepertinya dia harus memupus rasa cinta yang baru bersemi di hatinya untuk wanita itu.
"Tuhan, kenapa kau tidak berbaik hati sedikit saja padaku. Aku baru pernah jatuh cinta dan kini kau mempermainkan aku. Jika aku harus menjilat lidahku sendiri dan meminta maaf pada Mike lalu mendekatinya demi Zahra maka di mana harga diriku?"
"Tidak bisakah Kau, membuat Zahra datang dari keluarga lain dan tidak ada hubungannya dengan keluarga Toha?"
"Haruskah aku melupakannya dan mencari pengganti wanita itu. Wanita yang telah menyelamatkannya. Dia seperti menarikku kembali dari kematian tetapi dia membuat hatiku mati dengan masalah ini," gerutu Elang sepanjang perjalanan. Dia merasa menjadi pengecut karena tidak berani mendekati Zahra tadi. Percuma saja gelar ketua geng motor yang tersemat padanya sedangkan dia terlihat melempem menghadapi masalah ini.
Zahra sendiri terkejut ketika melihat Elang lewat di depan matanya. Pria itu memang benar-benar mencari keberadaannya dengan cepat. Apakah katanya tentang mencari Zahra di Jakarta juga benar adanya? Jika iya, itu terasa aneh. Seorang Elang yang tampan dan dari keluarga mapan mengejarnya seolah dia adalah wanita terakhir di bumi ini.
Sekarang setelah tahu dia adalah anak dari keluarga Toha apa yang akan pria itu lakukan? Zahra tidak tahu. Rumornya Kak Mikael sudah diterima oleh keluarga Sanjaya, jika iya berarti Elang bisa mendekatinya. Namun, jika iya itu terasa menggelikan untuk semua orang. Zahra tersenyum sendiri membayangkannya.
Namun, Kakek Toha mengatakan ada rekannya yang ingin melamar Zahra untuk anaknya. Zahra sudah menyerahkan keputusan pada Kakek Toha sepenuhnya. Sepertinya, Elang tidak akan mendekatinya lagi setelah tahu siapa dirinya.
__ADS_1