Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Tertangkap Basah Dita


__ADS_3

Mikael merasakan badannya panas, terbakar dan tubuhnya memberi reaksi. Perempuan ini begitu kecil, lembut dan bergairah dibalik belaian tangannya yang halus. Gerakan Ariana terasa canggung dan malu. Mikael tidak merasakan begitu bergairah mencium wanita seperti ini. Begitu lembut seperti cream manis, sekaligus begitu terangsang untuk melakukan....


"Ayah, Ibu, kalian sedang apa?" Kedua mata insan yang sedang diliputi oleh gairah itu membola mendengar suara Dita.


"Dita," gumamnya melepaskan tautan bibir itu dan membalikkan badan mencelupkan tangannya dalam bak cuci piring dan mulai menyabuni piring. Dia membiarkan Mikael berhadapan dengan Dita yang sedang menunggu jawaban pria itu.


"Hmmm Tuan Puteri ... ," Mikael mencari-cari kata-kata yang tepat sembari mengulur waktu. Akhirnya dia menyerah.


"Kami sedang mengungkapkan rasa sayang, seperti yang kulakukan padamu?" Dita menaikkan pupilnya ke atas sedang berpikir. Di belakang Mikael, Ariana terbatuk-batuk.


"Apa sudah selesai, karena aku sudah mengantuk?"


"Ayah harus membantu Ibumu mencuci piring, kau pergi dahulu ke kamar." Mikael tidak mau melepaskan kesempatan ini.


"Sudah mau selesai, kau pergi saja temani Dita tidur," kata Ariana mengatasi kecanggungannya. Dia sudah bisa menebak jika wajahnya memerah. Apa yang dia lakukan mengapa begitu mudah tergoda dan terpikat dengan pria di belakangnya. Bodoh! Rutuknya pada diri sendiri. Namun, dia tidak dapat memungkiri jika rasa itu masih tersimpan apik dihatinya.


"Baiklah, Ayah akan menemanimu tidur. Ariana jangan lupakan tugas Bu Endang. Kau harus menyelesaikannya malam ini." Mikael lalu mendekati Dita dan menggendongnya naik ke lantai atas.


Ariana memegang jantungnya sendiri yang hampir copot dan keluar.


Mengapa dia membiarkan perbuatan Mikael? Dengan pikiran yang melayang, Ariana membersihkan, menyabuni, membilasnya dan menyusun piring itu.


Ariana membiarkan pria itu menciumnya karena dia juga menginginkannya. Sedangkan Adam, dia hanya sebuah pelarian atau pembuktian bahwa dia masih bisa memiliki pria selain Mikael.


Janjinya untuk tidak terjebak atau tertarik pada pria itu seakan melayang dan menguap di udara saat pria itu menatapnya dengan penuh perhatian.


Kini perasaan itu semakin besar karena mereka tinggal satu rumah. Mikael membutuhkannya untuk tujuan lain seperti mendapatkan akses kembali pada keluarga besarnya, juga membutuhkannya untuk Dita. Lalu apa arti dirinya bagi pria itu?


Ariana harus mencari cara agar tahu apa isi hati Mikael agar dia bisa menentukan sikap ke depannya. Perasaannya seperti digantung tidak jelas. Dia tidak ingin membina suatu hubungan semu seperti dulu kala.


Dengan pikiran ini Ariana pergi naik ke atas menaiki satu demi satu anak tangga dan berhenti di ruang keluarga menatap ke kamar Dita yang masih terang. Dia lalu masuk ke dalam kamarnya dan mengambil buku serta catatan yang ada dan mulai menggarap tugas yang diberikan oleh Bu Endang.

__ADS_1


Dia mendengar langkah Mikael melewati kamarnya dan berhenti di meja kerja pria itu. Mungkin Mikael juga sedang mengerjakan pekerjaannya. Ariana kembali tenggelam dalam tugas itu.


Ariana menguap ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam lebih. Namun, tugas ini baru setengahnya saja selesai. Pikirannya buntu jika sudah mengantuk seperti ini. Seharusnya tadi dia tidak keluar bersama dengan Adam sehingga tugas ini tidak terbengkalai.


Ariana tidak tahan lagi, dia butuh segelas kopi panas untuk bisa menahan matanya dari rasa kantuk. Dengan langkah gontai Ariana keluar dari kamar dan melihat Mikael sedang menatap ke arahnya.


"Belum selesai?" tanyanya lembut.


"Baru separuh," jawab Ariana mendekat ke arahnya.


"Bawa kemari biar kita kerjakan bersama," ucap pria itu.


"Aku ingin membuat kopi, mataku sudah tidak bisa dikondisikan lagi," ungkap Ariana sembari menguap.


"Cuci muka saja untuk menghilangkan rasa kantuk. Kopi malah akan membuatmu terjaga sepanjang waktu."


Ariana sedang tidak ingin berdebat. Dia menuruti perkataan Mikael lalu kembali kamarnya dan membawa tugas yang sedang dia kerjakan di laptop.


Dia meletakkannya di meja sofa bersama dengan buku yang lain. Mikael mendekat. Perasaannya menjadi tidak enak, dia merasa gugup mengingat kejadian di dapur tadi.


"Jika kau suka menunda satu pekerjaan maka pekerjaan lain pun akan kau tunda. Itu akan menjadi suatu kebiasaan tidak baik. Sekarang katakan padaku bagian mana yang tidak kau pahami."


Ariana lalu menunjukkan apa yang sedang dia garap. Mikael membantunya untuk belajar. Menerangkan detail dari tugas yang sedang dia kerjakan.


"Bukan seperti ini Raina, kau bisa mengisinya begini," kata Mikael sembari mengetikkan sesuatu di laptop Raina. Tubuh pria itu condong ke arah laptop sehingga wajah mereka saling berdekatan. Lengan mereka bahkan saling bersentuhan.


Ariana sudah tidak mengantuk lagi atau konsen terhadap mata pelajaran ini. Yang ada dipikirannya adalah hidung mancung pria itu. Bibir tebalnya yang seksi dan berbahaya karena bisa membuat dia lupa segalanya. Tangannya yang berotot tetapi terasa hangat dan lembut ketika menyentuhnya. Ariana sudah gila jika berdekatan dengannya.


Mikael melihat ekspresi Ariana dari layar laptop dan dia lalu menoleh sehingga hembusan nafasnya mengenai wajah Ariana. Membuat wanita itu tersadar dari lamunan.


"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya.

__ADS_1


"Ciuman," jawabnya spontan lalu menutup mulutnya sendiri dengan dua tangan. Pria itu menarik satu alisnya ke atas.


"Anak nakal! Sedangkan ku ajari malah memikirkan hal lain."


"Ciuman siapa yang sedang kau pikirkan? Aku atau Adam?" Mikael menegakkan tukang belakang.


Ariana membuang nafas kasar. "Mungkin pria lain lagi."


Mikael menyentil keras kening Ariana membuat wanita itu mengaduh.


"Aku bahkan tidak rela melihatmu disentuh oleh Adam dan kau malah mengatakan memikirkan pria lain lagi?"


Ariana membuka mulutnya lebar. Sepertinya dia sedang bermimpi atau apa.


"Sudahlah, kau jangan mempermainkan aku lagi. Sudah cukup dengan apa yang telah terjadi."


"Ariana maukah kau memulai semuanya dari awal lagi?'' tanya Mikael tiba-tiba.


"Itu...."


"Aku tahu semuanya tidak mudah untukmu hanya maukah kau memberi kesempatan pada hubungan ini?"


"Kenapa? Apakah hanya karena desakan keluargamu saja. Jika iya, maka lupakan! Karena itu tidak akan berhasil," balas Ariana.


"Jika itu dari hatiku apakah kau akan memberikan kesempatan?" Ariana bisa melihat banyak harapan di mata Mikael.


"Aku butuh waktu untuk berpikir," ujar Ariana menunduk. Tangan besar Mikael menyentuh dagunya dengan lembut. Mengangkat dan menatap kedua mata Ariana.


"Apakah kau tidak menginginkannya?" tanya Mikael.


"Tidak semudah itu, ada banyak masalah yang akan menimpa kita. Selain itu aku belum siap untuk kau lukai lagi."

__ADS_1


"Aku akan melewatinya untukmu," ujar Mikael mengatakan di atas bibir Ariana yang lembut.


"Namun aku tidak siap untuk melalui semuanya. Aku tidak bisa menentang keinginan Ayah untuk meninggalkanmu dan bercerai darimu."


__ADS_2