Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Menunggu


__ADS_3

"Kakak ingin mempermainkan aku?" kata Ariana.


"Mempermainkan, bukankah katamu akan mengurus perceraian setelah menemukan pria yang tepat, yang mau menerimamu apa adanya!"


"Kakak, aku memang ada hubungan dengan Adam, tetapi kau tidak seharusnya mencampuri hubungan aku, Mikael dan dia. Aku akan menentukan keputusan setelah berada di sini, menunggu suamiku menjemputku atau tidak! Kenyataannya dia datang, jadi aku memutuskan akan melanjutkan pernikahan ku!"


"Mengapa kau begitu mudah memaafkan dia Ariana setelah apa yang dia lakukan!" teriak Elang kesal.


"Kak, aku mencintainya, hargai perasaanku!"


"Kau saja yang mencintainya, nyatanya apakah dia mencintaimu? Mencintai itu lebih sakit Ariana," kata Elang.


"Terserah kakak mau bicara apa. Aku tidak peduli. Besok jika Adam datang, aku akan bicara jika kami tidak bisa meneruskan hubungan ini."


Ariana lalu berbaring di tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Elang kesal, lalu turun ke bawah.


Di sana dia bertemu dengan ayahnya yang sedang berbincang dengan para petani yang sedang membawa barang hasil pertanian untuk di jual kepada Sanjaya. Keluarga Sanjaya adalah pengepul sayuran dan buah-buahan yang hasilnya dikirim ke kota-kota besar.


"Yah, aku ingin bicara," kata Elang. Sanjaya melirik, menyuruh salah satu pegawai menggantikannya mengurus transaksi dengan para petani yang sedang menunggu antrian pembayaran.


Sanjaya lalu memberi isyarat pada Elang untuk pergi ke ruang kerjanya. Elang mengikutinya. Beberapa orang berbisik-bisik melihat ke arah mereka tahu tentang apa yang terjadi di rumah ini. Suami Ariana telah kembali lagi.


"Kenapa Ayah memperbolehkan dia berada di rumah ini!"


"Ariana mengatakan jika dia hamil anak pria itu," kata Sanjaya duduk di kursi kebesarannya.


Elang menghela nafasnya berat.


"Ayah malah ingin bertanya padamu, mengapa kau tidak mengatakan jika Ariana dan pria itu telah bersama lama?"


"Waktu itu Ariana hanya berkeinginan untuk membantunya karena Ibu Siti sedang sakit koma."


"Kau percaya begitu saja pada adikmu!'' ucap Sanjaya penuh selidik. Elang terdiam.


"Jika sudah seperti ini apa yang harus kita lakukan."


"Padahal aku meminta kekasih Ariana datang kemari, untuk mengikat hubungan mereka." Elang duduk dengan lemas.


"Telepon dan batalkan saja! Aku tidak ingin membuat keluarga kita bertambah malu karena masalah ini."


"Apakah Ayah akan menerima pria itu kembali."


Sanjaya nampak berpikir. Dia ingin mengucapkan sesuatu tetapi diurungkan.


"Begini, Ayah tidak menyukainya dan masih merasa sakit hati serta terhina. Namun, adikmu itu keras kepala. Ayah juga kesal mengapa dia mau menerima pria itu dengan mudah."

__ADS_1


"Dia sudah jatuh cinta pada Mikael sedari dulu, Yah." Sanjaya mengangkat alisnya ke atas.


"Kapan?"


"Sewaktu Ariana menghilang di perkebunan sawit dulu," terang Elang.


Sanjaya menganggukkan kepala mengingat kejadian itu.


"Mikael yang menolongnya ketika dia hampir saja dimakan ular dan pria itu juga menemaninya mencari kita," tutur Elang. "Setelah itu jika aku dan Ariana bersama, dia selalu menceritakan kejadian itu. Dia akan senang bila bisa ikut ayah ke rumah keluarga Toha, dia berharap bisa melihat pujaan hatinya." Elang masih ingat jika dia suka menggoda adiknya itu jika baru saja pulang dari rumah keluarga Toha.


"Dia juga tidak menolak dinikahkan walau saat itu masih terlalu dini baginya untuk menikah."


"Ayah mengerti sekarang...," kata Sanjaya.


"Apa ayah akan menerimanya kembali?"


"Kita lihat seberapa besar keinginan pria itu kembali kemari. Biarkan dia tetap berada di luar rumah. Jangan beri makan atau minum. Apakah dia akan pergi atau tetap disini membaur dengan yang lain! Jika dia memang berniat baik maka dia akan tetap bertahan."


"Aku seperti tidak rela Ariana kembali padanya!"


"Ayah bukan pria kejam yang akan menyakiti anaknya sendiri. Ariana sudah terlalu lama hidup dalam kesedihan, dia tidak butuh pria pengecut yang hanya akan membuat luka baru untuknya. Mikael harus bisa membuktikan cintanya!"


"Terserah pada Ayah saja!" Elang mengedikkan bahunya lalu berjalan keluar ruangan.


"Kau sendiri kapan menikah?" tanya Sanjaya.


"Pria itu tidak suka dikejar, tidak ada tantangannya."


"Apa kau punya calon wanita? Setidaknya cari yang dari kalangan kita!"


"Ayah, jodoh dan cinta tidak mengenal status."


"Tetapi akan membantumu untuk meraih masa depan yang lebih baik." Elang menatap tidak senang pada pernyataan ayahnya.


"Jika aku memilih calon dari kalangan biasa akankah ayah menerimanya?" tanya lemah.


"Kau sudah punya calon istri?"


"Belum, aku bertanya andai, Ayah," ujar Elang.


"Kita harus memperhatikan bibit, bebet, bobotnya, bukan karena soal kekayaan saja Elang. Ayah percaya jika seorang didik di keluarga baik-baik dia juga akan menjadi orang baik. Jika dia lahir dari orang tua baik maka kemungkinan besar dia juga akan baik karena anak mewarisi sifat orang tuanya. Ingat calon istrimu adalah calon ibu dari anakmu. Perlu untuk mendapatkan istri yang sempurna akhlaknya agar anak kita menuruni sifat baik ibunya."


"Aku mengerti Ayah," kata Elang berjalan dengan bahu turun. Sepeninggal Elang, Sanjaya mengambil foto istrinya yang ada di atas meja.


"Jika kau sekarang masih hidup apa yang akan kau lakukan, Savitri? Aku merindukan dan membutuhkanmu. Berat untuk menjalani kehidupan ini tanpamu!"

__ADS_1


Di kediaman Toha, Dita menangis karena Mikael tidak kunjung datang, sedangkan dia belum terlalu dekat dengan keluarga Toha. Ameena yang baru menikah dan belum punya pengalaman untuk merawat anak terlihat kewalahan untuk membuat Dita terdiam.


Ibu Siti duduk di depan layar televisi, pikirannya tidak fokus ke tontonan yang dia lihat. Dia tidak tega melihat anak itu menangis tetapi rasa benci pada ibu Dita membuat dia terdiam. Baginya wanita itu sumber masalah keluarganya.


"Aduh, Dita, jika Tante Ame tidak tahu harus bagaimana agar kau terdiam."


"Kau ajak dia tidur saja," celetuk Ibu Siti.


"Kalau mau, Ibu, dia ingin bertemu dengan, Kakak. Sedangkan, Kakak belum pulang juga."


Dita sendiri menangis hingga tersengal-sengal. Ibu Siti akhirnya bangkit. Dia meminta pelayan membuatkan sebotol susu hangat untuk anak itu.


Dia duduk di depan anak itu. "Dita ingin Ayah pulang?'' tanya Siti pelan. Dita mengusap air matanya dan menganggukkan kepala.


Ibu Siti lalu menerima botol susu dari pelayan.


"Namun Ayah sedang membujuk Ibu pulang ke rumah." Dita terlihat tertegun menghentikan tangisnya.


"Tapi... tapi ... aku mau Ayah pulang," kata Dita.


"Dita sayang pada Ibu tidak?"


"Sayang."


"Berarti Dita ingin dong jika Ibu pulang dan tinggal bersama Dita?" Anak itu menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu biarkan Ayah menjemput Ibu," Dita nampak berpikir.


"Tapi kalau malam Ayah pulang ke rumah."


"Kali ini akan lama, karena rumah Ibu sanga....t jauh!" terang Ibu Siti membuat Dita termangu.


"Ayah tidak akan pulang?" Kedua wanita itu menggelengkan kepala.


"Aku akan tidur bersama siapa?" Lanjut anak itu memegang ujung roknya menatap dengan takut pada dua orang wanita di depannya.


"Tante Ame," jawab Ameena. Dita melihat ke arah Ameena dan mulai ragu.


"Kau bisa tidur bersama siapapun, bersama Tante Ame, bersama nenek atau bersama Kakek Uyut," jawab Ibu Siti.


"Kak," panggil Sadewa masuk ke dalam rumah.


"Ada apa, apa keadaan Mike baik-baik saja."


"Aku punya berita bagus, Kak."

__ADS_1


"Apa Mikael berhasil membujuk Ariana dan keluarganya untuk kembali pulang," ujar Sofyan yang baru turun dari lantai atas.


"Lebih dari itu, Ariana sedang hamil!"


__ADS_2