
Mobil Mikael menyusuri jalanan ibukota yang padat. Pikirannya melayang membayangkan apa yang telah terjadi kemarin dan hari ini. Semalam begitu indah dan dia merasakan kebahagiaan yang selama ini telah hilang dari hidupnya. Merasa sempurna menjadi pria.
Impiannya kembali nyata dan dia merasa punya semangat lain. Namun, pagi ini semua menjadi kacau balau. Di mulai dengan pertanyaan Ariana, lalu pindah ke insiden kecil di jalan raya dan berakhir dengan kehadiran Elang yang membawa Ariana pergi.
Jika memang mereka belum pernah bersama mungkin Mikael bisa melepaskan Ariana begitu saja dan merelakannya tetapi ketika mereka telah bersama dan tubuh mereka menyatu itu terasa berbeda. Perginya Ariana seakan membawa sesuatu yang dia tidak tahu itu apa, namun dia merasa kehilangan.
Dia seperti tidak rela ketika Ariana pergi meninggalkannya. Ingin dia marah tetapi marah pada siapa? Ingin dia mencegah namun apa yang bisa dia tawarkan pada wanita itu. Mengatakan cinta itu terlalu dini baginya. Lagipula hubungan dengan cinta juga bisa kandas. Dia tidak percaya dengan apa itu cinta.
Mikael kembali lagi ke kampusnya dan mengisi beberapa kelas hingga akhirnya dia pulang ke rumah ketika senja telah tiba.
Ketika mobilnya masuk ke dalam halaman rumah dia melihat mobil miliknya yang dia tinggal di kampung sudah ada di dalam.
Dia baru ingat jika Ameena dan suaminya, Aris datang ke kota untuk bertemu dengannya. Kenapa harus sekarang di saat Ariana baru dibawa pergi oleh Elang. Masalah lain akan timbul.
Dengan langkah cemas dan was-was dia masuk ke dalam rumahnya sendiri. Terdengar suara Dita yang sedang berbicara dengan seseorang dari lantai atas. Mikael langsung naik ke atas.
"Itu ayah pulang," sambut Dita memeluk tubuh Mikael. "Ehm dimana Ibu?" tanya Dita melihat ke belakang Mikael. Mikael terdiam menatap ke arah adiknya.
"Kakak," panggil Ameena senang. Dia langsung memeluk kakaknya. Aris lalu menyalaminya.
"Kalian datang pukul berapa?" tanya Mikael. Pria itu mengambil handphone miliknya dan diserahkan Dita untuk bermain itu, mengalihkan pertanyaan yang dia ajukan.
Bukannya menjawab Ameena malah melihat ke belakang Mikael.
"Tadi dua jam yang lalu, si kecil ini yang menemani kami," jawab Aris.
"Kak, dimana Kak Na?" Ameena sampai berjalan melihat ruang bawah dari ujung tangga.
__ADS_1
Mikael menarik nafasnya panjang. Dia lalu berjalan menuju tempat duduk.
"Mbok, tolong ambilkan aku teh hangat bawa ke atas," teriak pria itu.
Mikael melonggarkan dasinya dan membuka kancing baju teratas.
"Tadi, Dita mengatakan jika kalian pergi ke kampus bersama." Mikael menatap ke arah Dita yang sedang asik menatap layar pipih itu.
"Ya, tapi Elang datang dan membawanya pulang kembali." Dua pasang mata di depan Mikael membelalak. Lalu menghela nafas bersamaan.
"Masalah besar itu, Kak!" kata Ameena. "Kenapa Ariana mau, Kak? Seharusnya kau mencegahnya!" Berondong pertanyaan mulai diajukan oleh Ameena.
"Tidak bisa begitu, aku baru kembali dari cuti panjang jika aku kembali mengajukan libur maka aku akan dipecat."
"Jadi kau lebih mementingkan pekerjaanmu daripada masa depan rumah tanggamu?"
Masa depan rumah tangga? Mereka bahkan belum berkomitmen. Dia ragu apakah Ariana ingin tetap bersamanya?
"Jika Ariana tidak mencintaimu, dia tidak akan pernah memaafkanmu setelah apa yang kau perbuat padanya. Jika dia tidak mencintaimu dia tidak mungkin masih berhubungan baik dengan keluarga kita setelah perseteruan dua keluarga terjadi. Jika dia tidak mencintaimu dia tidak akan menerima Dita dengan baik dan jika dia tidak mencintaimu, dia tidak seberani itu untuk melindungimu dari serangan kakaknya. Apakah kau sadar itu, Kak?" ungkap Ameena membuat Mikael terhenyak.
Dia lalu meletakkan kepalanya di atas sandaran sofa, memejamkan mata untuk sejenak dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Ameena.
Ya, jika Ariana tidak mencintainya, dia tidak akan menyerahkan dirinya semudah itu. Semalam dia terlihat sangat senang dan bahagia. Tidak terlihat beban atau sebuah keterpaksaan untuk menyerahkan kehormatannya pada pria yang telah membuatnya menderita. Tidak ada tuntutan yang dia pinta. Dia melakukannya dengan kerelaan penuh.
Mikeal menarik rambutnya ke belakang. Senyum Ariana kembali hadir ketika dia mengecup keningnya setelah malam panas yang mereka jalani.
"Kau tanya dulu pada hatimu seberapa besar kau membutuhkan aku."
__ADS_1
Kata-kata Ariana kembali terngiang di kepalanya. Membuat perasaan bersalah mendera di dada. Dia bisa melihat kekecewaan yang sangat di mata Ariana ketika mengatakannya. Mikael kembali merutuki kebodohannya karena tidak mengerti tentang perasaan wanita. Mereka baru bersama sehingga dia belum bisa mendalami perasaan wanita itu.
"Apa Ibu akan pulang malam lagi?" tanya Dita tiba-tiba.
Ameena dan Aris menoleh ke arah Dita. Mikael langsung terhenyak tidak ingin Dita mengatakan hal banyak tentangnya dan Ariana.
"Ibu pergi ke rumah Ayahnya," kata Mikael. Dita nampak berpikir.
"Apakah itu juga Kakekku seperti Ayahnya ayah adalah Kakek, ada juga Kakek Uyut."
Netra Mikael meminta bantuan Ameena untuk menjelaskannya. Ameena seperti tahu apa yang kakaknya inginkan.
"Hmmm, bisa juga di sebut Kakek."
"Kenapa kita tidak ikut juga kesana, Yah?"
Ameena melihat ke arah Kakaknya.
"Semua tergantung padamu, Kak. Saranku kau bisa keluar saja dari pekerjaan mengajarimu itu dan urusi dulu masa depan hubunganmu dengan Kak Na."
"Kalau boleh aku bicara, ini bukan soal mudah Kak. Orang tua Ariana pasti tidak akan merestui hubungan kalian. Aku yang melihat bagaimana kau dipukuli oleh Elang saja menjadi ngeri. Maaf, apakah luka di bibir itu juga luka baru yang Elang lakukan?" kata Aris.
Mikael memegang sudut bibirnya yang kembali pecah. Dia mengatupkan bibir rapat memikirkan tindakan apa yang sebenarnya akan dilakukan.
"Kau pasti akan butuh banyak waktu, pikiran dan tenaga untuk bisa membuat mereka yakin dan mengerti bahwa kau layak untuk mendapatkan Ariana," lanjut Aris.
"Aku ngeri jika sampai kau dibunuh oleh Kakaknya yang satunya lagi. Siapa namanya, Bayu. Paman Dewa yang jago silat pun sampai kewalahan menghadapinya. Dia mengamuk di rumah ketika tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Ariana. Elang malah lebih banyak terlihat tenang kala itu, tidak seperti Bayu."
__ADS_1
Mikael tidak mengira jika kejadian itu akan berdampak buruk sekali dan semengerikan itu. Dia memang yang mempermainkan Ariana tetapi seharusnya dia yang mendapat ganjarannya bukan orang rumah. Pantas jika ayah dan ibunya sangat marah bahkan sampai tidak menganggapnya anak lagi jika sampai tidak membawa pulang Ariana.
"Namun jika sifat pecundang itu masih ada di dirimu lebih baik kau tidak usah mengejarnya lagi. Ariana pantas mendapatkan pria yang akan mencintainya dengan sepenuh hati bukan pria pengecut yang hanya bisa melukai hatinya saja. Dia pantas untuk diperjuangkan." Ameena memasang pancingan agar Mikael sadar bahwa Kakak iparnya itu pantas untuk dipertahankan.