Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Sakit Jiwa


__ADS_3

"Mungkin dia sedang hamil tapi kami belum memastikannya, Ariana hanya menduganya saja. Mungkin, setelah permasalahan ini mereda kami akan memeriksakan ke dokter," terang Mikael.


"Jadi belum positif dia hamil?"


"Hanya belum memeriksakan saja, Bu. Tunggu kabar kami selanjutnya," ujar Mikael. Ibu Siti mend*sah pelan.


"Aku kira itu sudah positif," katanya lesu.


"Mikael mengatakan kemungkinannya tetapi dia belum memastikan ke dokter bukan berarti Ariana belum hamil. Lagipula sudah ada Dita," imbuh Sofyan.


"Tapi ... ." Ucapan Ibu Siti terpotong oleh perkataan Sofyan.


"Kita tidak boleh membedakan cucu sendiri."


Sedangkan si sudut yang lain Zahra nampak menatap sedih pada keluarga itu. "Andaikan yang dikatakan itu benar, tidak membedakan anak."


Zahra lalu pergi ke kamarnya sendiri. Di dapur dia berpapasan dengan Mbok Jum.


"Zahra," panggil wanita itu.


"Ya, Mbok," jawabnya lirih.


"Ada apa Nduk?" tanya Mbok Jum.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin pergi beristirahat ke kamar saja."


"Sebelum istirahat kau bisa menolong Mbok pergi ke toko bahan roti?"


"Untuk beli apa, Mbok?"


"Besok akan ada arisan di rumah ini. Ibu rencana mau buat beberapa kue sedangkan banyak bahan yang harus di beli untuk membuatnya."


"Ya, sudah mana catatannya biar nanti Zahra beli di toko bahan kue," katanya duduk di kursi yang terbuat dari kayu.


Mbok Jum mengeluarkan kertas berisi catatan panjang berisi kebutuhan dapur yang harus dibeli dan dia juga mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah.


"Kata Ibu, lebihnya untukmu saja, tapi ingat jangan ada yang kurang kalau tidak kita tidak bisa membuat kue."


"Okey, siip." Zahra lalu ke kamarnya mengambil pakaian dan keluar mengambil motor Scoopy berwarna merah yang diberikan Kakek Toha untuknya.


Dia menempuh perjalanan setengah jam hingga sampai di sebuah toko bahan kue paling besar di kota Lampung.


Zahra memilih semua bahan itu sampai tidak sadar diikuti oleh seorang pria.

__ADS_1


"Tinggal fermipan dan soda kue," ucapnya mengangkat keranjang belanjaan yang berat.


"Boleh kubantu," ucap seorang pria dibelakang Zahra. Zahra menolah lalu terkejut setelah melihat pria tampan di belakangnya.


"Kau ... sedang apa kau di sini!" ucap Zahra ketus tidak senang.


"Akhirnya, kita bertemu kembali," kata pria itu mengangkat keranjang Zahra sehingga terjadi tarik menarik dengan wanita itu.


"Aku bisa membawanya sendiri!"


"Ini berat, tidak baik bagi seorang wanita mengangkat yang berat-berat." Elang menarik paksa tas itu dari tangan Zahra.


"Apa masih ada yang dibeli lagi?" tanyanya.


"Kau itu apa tidak bisa tidak menggangguku," ucap wanita itu kesal.


"Tidak bisa tidak mengganggu wanita cantik, tetapi tidak sembarang wanita cantik."


Zahra melebarkan matanya yang lebar sehingga bulu mata lentiknya bergerak membentuk bayangan ombak di sekitarnya. Elang selalu terpana dengan mata Zahra yang berwarna coklat itu.


"Ish..." desis Zahra kesal tetapi dia tahu pria ini akan mengganggunya tanpa henti jika dia tidak segera menyelesaikan belanjaannya dan pergi darisini secepatnya. Dengan buru-buru Zahra mengambil barang yang kurang lalu menuju ke kasir.


"Aku mencarimu di Rumah Sakit tetapi katanya kau telah keluar dari sana dan pindah ke Jakarta."


Pertemuan mereka dimulai ketika Zahra yang bertugas untuk merawat Elang di rumah sakit ketika pria itu mengalami kecelakaan motor.


Semenjak itu Elang terus mengejarnya. Awalnya, Zahra mulai senang dan tertarik tetapi perasaan itu dia tekan setelah tahu siapa pria itu. Dia adalah keluarga Sanjaya, keluarga yang bermusuhan dengan keluarga Toha selain itu, statusnya yang hanya sebagai anak angkat yang dibesarkan keluarga Toha membuatnya berkecil hati. Baginya dia, statusnya itu seperti pelayan yang lain hanya berbeda sedikit saja.


Dia menyembunyikan asalnya dari semua orang termasuk Elang. Setelahnya, dia menjauh dari pria itu dan memutuskan pergi ke kota Jakarta.


"Semua tiga ratus delapan puluh satu tuju ratus, Kaka," kata kasir. Zahra hendak membuka dompetnya tetapi Elang malah sudah menyerahkan kartu kredit miliknya.


"Kak, biar aku yang bayar sendiri," katanya pada pelayan seraya menyerahkan uang.


"Pakai itu saja, istri saya sedang mengambil jadi tidak mau dibayarkan," kata Elang tersenyum lebar.


"Wah, ternyata suaminya baik juga ganteng lho Kak. Harusnya dikasih perhatian jangan dimarahi."


Wajah Zahra memerah mendengar kalimat yang Elang katakan. Dia lalu menginjak keras kaki pria itu setelah proses pembayaran selesai dan mengambil tas belanjaannya sebisa mungkin keluar secepatnya dari sana.


"Zahra, tunggu!" kejar Elang dengan kaki pincang.


"Bang ganteng, ini kartunya," panggil Kasir itu membuat Elang balik lagi untuk mengambil kartu kredit miliknya.

__ADS_1


"Wah, istrinya masih marah ya Bang, harus sabar. Abangnya itu memang suami idaman yang pengertian ma istrinya," puji kasir itu yang terpana dengan wajah tampan Elang.


Setelah itu, Elang berlari cepat mengejar Zahra namun sayang wanita itu sudah mengambil motornya dan siap untuk keluar dari tempat parkir. Elang lalu berdiri menghalangi jalannya.


"Hampir saja, kau pergi tanpa kata seperti biasanya," ucap Elang.


Zahra menatap malas pada Elang. Pria itu lalu maju dan menarik kunci di motor Zahra.


"Kau mau apa?" tanya Zahra kesal berusaha meraih kunci ditangan Elang.


"Aku hanya ingin sedikit waktu untuk mengenalmu lebih," kata Elang.


"Ya Tuhan, ada banyak wanita selain aku kenapa kau selalu mengganggu ku?" geram Zahra.


"Ada banyak wanita tapi aku jatuh cinta pada dirimu. Lagi pula hanya kau yang pernah menyentuh diriku dan kau harus bertanggung jawab dengannya."


"Ada apa, Mbak?" tanya seorang tukang parkir mendekat.


"Tidak apa-apa, hanya kesalahpahaman saja," jawab Zahra cepat takut jika Elang mengatakan pada semua orang jika dia itu istrinya lagi.


"Oh, ya sudah kalau bertengkar jangan di sini menghalangi jalan pemilik kendaraan yang lain." Tukang parkir itu menunjuk ke arah mobil yang hendak keluar tetapi terhalang oleh motornya.


"Biar aku yang menyetir," kata Elang. Zahra menekuk wajahnya. Mau tidak mau dia mundur ke belakang dan Elang lalu mengambil kemudi motor itu. Meninggalkan mobilnya di tempat parkiran di seberang jalan.


Dia tadi sedang membeli barang di ujung jalan tanpa sengaja melihat Zahra masuk ke dalam toko itu. Dia lalu mengikutinya.


"Sekarang kau turun karena aku akan pulang ke rumah."


"Biar aku antarkan," tawar Elang.


"Tidak... tidak aku bisa sendiri. Aku akan dibunuh oleh ayahku jika tahu anak gadisnya membawa seorang pria ke rumah. Bohong Zahra.


"Kalau begitu aku akan mengatakan jika aku adalah calon menantunya," ucap Elang berterus terang.


"Kau gila!" bentak Zahra di telinga Elang.


"Bagaimana kalau kita makan dimana sambil saling berkenalan secara dekat setelah itu kau boleh pergi," ujar Elang lagi. Dia memang sedang dimabuk cinta oleh wanita itu dan terus mengejarnya tanpa kenal lelah.


"Tidak!"


"Kalau begitu terpaksa aku akan membawamu ke rumahku, memanggil penghulu dan mengajakmu menikah langsung."


"Sepertinya kau memang sakit jiwa."

__ADS_1


__ADS_2